Nasib Imam Masjid di Tengah Pandemi Corona Covid 19

Imam Masjid akibat Corona

Ilustrasi imam masjid di tengan pandemi corona

Tatapannya kosong sambil memutar-mutar handphone, harta terakhirnya sampai hari ini. Pikirannya kalut mengganti lemahnya tubuh yang hanya bisa makan saat berbuka puasa kemarin.

Bayang anak istrinya di kampung selalu menghantui, sudah dua bulan dia tidak mampu mengirim apa-apa ke kampung.

Sebut saja namanya Beddu, imam salah satu masjid kompleks di Makassar. Sejak pandemi Covid 19, pria 39 tahun ini menuturkan dan curhat ke saya sebagai teman baiknya.

Dalam sebulan dia biasanya menerima upah sebagai imam sekitar satu juta rupiah.

Dulu, saat keadan normal di bulan Ramadhan, nominal tersebut kadang bertambah, hasil sumbangan dari jamaah masjid tarawih yang cukup untuk membiayai istri dan empat orang anaknya. Tapi kini, virus asal Wuhan membuat semuanya berubah.

Terakhir komunikasi dengan istrinya, Beddu hanya bisa berpesan agar menanam apa saja yang bisa dimakan di belakang rumah di kampung.

Dia memutuskan tidak pulang, selain PSBB, isolasi 14 hari dan kondisi rumahnya yang sempit, menjadi alasan. Yah, Beddu takut justru membawa petaka dan malah merepotkan 4 anak istrinya.

***

Ada puluhan Beddu lain di sekitar kita dengan variasi kisah berbeda. Ada puluhan imam masjid, marbot masjid yang menjadi tumbal keganasan virus yang sampai sekarang belum ditemukan vaksinnya. Unik, karena jika googling, kisah-kisah seperti ini akan jarang kita temui.

Beda dengan cerita faktual driver ojol, pedagang kecil, kuli bangunan, dll, banyak kita temukan. Sudah kuduga, kisah imam dan marbot masjid seperti Beddu akan jarang kita dengar meski faktanya jauh lebih menyedihkan.

Cara menghitungnya sederhana, berapa jumlah masjid? Maka kemungkinan besar segitu jumlah imam dan marbot masjid yang terdampak secara ekonomi akibat corona. Itu belum jika satu masjid memiliki imam dan marbot lebih dari satu.

Baca: Nasib ustadz di tengah pandemi covid 19

Alasan imam masjid tidak menceritakan nasibnya

Mungkin ada kondisi imam yang lebih tragis dari Beddu, tapi kita tidak tahu. Menunggu? Insya Allah, Kita tidak akan atau sulit menemukannya.

Penulis melihat ada tiga alasan sehingga kisah pilu imam masjid di tengah pandemi corona Covid 19 jarang kita dengar;

Pertama, imam masjid berasal dari pesantren yang kenyang dengan latihan sabar. Makan sekali, puasa, pakaian seadanya, dan seabrek latihan kesabaran yang menempa mereka di masa lalu.

Buat apa menceritakan ke orang lain, kalau itu sudah mereka nikmati. Para imam masjid hanya sedih, kalut memikirkan kondisi keluarga yang sudah menjadi tanggunjawab mereka.

Kedua, para imam masjid paham betul yang namanya ujian. “Allah tidak menguji jika hamba tidak mampu melaluinya.” Bagi para imam, pandei corona Covid 19 adalah ujian, dan mereka pasti bisa melaluinya.

Tapi bagaimana dengan anak istrinya di rumah? Apakah pemahaman mereka sudah setara dengan pemahaman para imam masjid?

Opini Terkait
1 daripada 303

Ketiga, para imam masjid sudah terbiasa melihat ke bawah, tidak melihat ke atas. Apa yang mereka alami selalu mereka bandingkan dengan apa yang dialami orang-orang yang di bawah mereka.

Masih banyak yang lebih menderita, masih banyak yang lebih lapar, masih banyak… begitu pikiran para imam dan marbot masjid.

Fatwa MUI nomor 14 tahun 2020 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), berimbas pada penutupan hampir semua masjid yang ada di negeri ini. Meski banyak yang ngeyel, tapi secara garis besar, ini bermakna hilangnya pekerjaan para imam dan marbot masjid.

Ironisnya, perlakuan sebagian pengurus masjid seakan lepas tangan. Penutupan masjid, otomatis menjadi PHK sementara imam dan marbot masjid. Tak bekerja, maka tak ada ujrah.

Apakah pengurus masjid salah? Tidak! Karena mereka berpatokan pada pemasukan masjid, sumbangan jemaah, donatur, yang semua hilang akibat penutupan masjid. Andai masjid benda hidup, nasibnya sama dengan para imam dan marbot!

Solusi nasib Imam masjid di tengah pandemi corona Covid 19

Tak ada masalah jika tak ada solusi. Hanya saja, masalah imam masjid di tengah pandemi corona Covid 19, bagi penulis solusinya cukup berat;

Pertama, mengajak para dermawan yang merupakan bagian dari jemaah masjid atau pengurus masjid.

Masjid dibangun dan berjalan dengan baik, tidak semudah membalikan telapak tangan. Biasanya ada tokoh utama, atau ada dermawan sebagai motor penggerak di sana.

Dermawan masjid itu beda dengan dermawan secara umum. Mereka sudah teruji, buktinya masjid terbangun dan berjalan dengan baik.

Dermawan inilah yang perlu disentuh untuk membantu mengatasi masalah imam dan marbot masjid.

Kedua, mencari tokoh penting dan mengajak jemaah bersama memikirkan hal ini. Dalam satu kompleks misalnya, ada seratusan jemaah, meski semua terdampak covid 19, ada satu dua di antara mereka yang masih bisa membantu orang lain untuk bernafas.

Dibutuhkan satu dua tokoh masyarakat untuk melakukan ini, karena kondisi jemaah yang tidak berada dalam satu tempat, tidak seperti saat mereka berjamaah.

Ketiga, bagi yang sudah membaca tulisan ini, pribadi mengajak untuk memikirkan imam yang ada di sekitar kita. Cobalah berpikir sekali dua kali, mana imam masjidku? Bagaimana keadaanya?

Hanya berpikir? Dari pikiranlah akan lahir simpati, dari simpati akan lahir empati, dan dari empati akan lahir tindakan yang pasti.

Imam dan marbot masjid sudah lama berbakti kepada Anda dalam hal ibadah. Mereka berjasa kepada kita tanpa kita sadari. Cukuplah susahnya menjadi imam dengan makmum anak istri di rumah menjadi pelajaran besar buat kita.

Baca: hikmah unik di balik pandemi corona

Imam beda dengan pekerja lain yang dengan mudah di PHK. Bisa saja imam dianggap bak tebu, habis manis sepah dibuang. Habis jadi pemimpin para imam kita acuhkan. Ingatlah, berapa kali mereka berdoa, dan kita di belakang hanya bisa berkata “Amiin.”

Tabik!

Komentar
Loading...