Impor Guru Tahfizh ke Wajo? Saya Kaget!

Membaca salah satu link berita mengenai kerja sama Pemerintah Daerah Kabupaten Wajo dengan Quantum Akhyar Institute membuat saya kaget. Dalam berita, jelas bahwa Quantum Akhyar milik Ustad Adi Hidayat akan mendatangkan Guru Tahfizh ke Wajo.

Kok bisa? Buat apa impor guru tahfizh? Bukankah sejak dulu Wajo dikenal dengan gudang penghapal al-Quran dan guru Tahfizh. Ini terbukti, dalam setiap even Musabaqah Tilawatil Quran dan Seleksi Tilawatil Quran baik tingkat Provinsi, Nasional dan bahkan Internasional, tak luput diisi peserta dari alumni-alumni Pondok Pesantren Asadiyah Wajo.

Beberapa alumni yang Majelis Quraa wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang, bukan hanya mengukir prestasi di tingkat lokal saja, tapi juga Nasional dan Internasional. Sebut saja, Imam besar Masjid Istiqlal, imam al-Markaz al-Islami Makassar, Imam Masjid 45 Makassar, Imam besar Masjid Raya Sengkang, dan masih banyak, merupakan alumni Majelis Qurraa wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang.

Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang adalah lembaga tahfizh tertua di Indonesia timur. Bahkan hampir semua guru tahfizh di Sulawesi Selatan merupakan alumni Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang.

Untuk pondok Tahfizh di Wajo, berpusat di masjid Jami Sengkang. Ada pula di Kompleks Pondok Pesantren Asadiyah, dan beberapa tempat lain. Para guru tahfizh mengajar tanpa pamrih, bahkan tak banyak yang tahu mengenai mereka. Mereka berdiri dengan satu senjata utama keikhlasan. Tertatih, oleng, merangkak, namun para guru terus membina dan tak henti mencetak para penghapal al-Quran. So?

Impor guru tahfizh ke Wajo, ibarat impor garam ke Jeneponto atau impor sutera ke Wajo. Saya secara pribadi sulit mencari titik efesiensinya. Pemerintah Daerah tentu memiliki pertimbangan berbeda, tapi terlepas dari itu, ada beberapa titik krusial yang rawan muncul dengan kebijakan ini. (Baca: Bahaya menghapal al-Quran Instant)

guru tahfizh
Suasana Syahadah Tahfizh As’adiyah Masjid Jami Sengkang Wajo

Pertama, impor tahfizh akan menggiring dua lembaga besar di Wajo, Asadiyah dan Muhammadiyah ke titik persaingan tak sehat. Imbasnya bisa mengarah ke persaingan politis, dan ini sangat tidak tepat untuk dua organisasi Islam yang selama ini dalam pelukan hangat kebersamaan.

Tidak bisa dipungkiri, Ustad Adi Hidayat adalah dai kondang yang tidak diragukan lagi lautan keilmuannya. Dari beberapa narasi dakwah yang disampaikan, beliau cenderung berafiliasi ke Muhammadiyah

Opini Terkait
1 daripada 97

Tak salah, dan itu wajar. Namun, mengingat kota sengkang dan Wajo khususnya mengenai tahfizh al-Quran lebih didominasi oleh Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang, maka akan muncul pertanyaan mendasar, apa perbedaan para hafizh al-Quran cetakan Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang dibanding dengan Quantum Akhyar Ustad Adi Hidayat?

Kedua, kebijakan impor guru tahfizh ke sengkang akan menimbulkan tanda tanya besar di kalangan penghapal al-Quran bukan hanya yang ada di Sengkang dan sekitarnya, tapi juga para alumni Tahfizh yang ada di luar. Apa sih kekurangan para penghapal al-Quran dari Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang yang sudah tidak diragukan lagi sepak terjangnya, sehingga impor guru tahfizh dianggap penting?

Dampak besar dari pertanyaan ini akan bias ke prasangka bahwa Pemerintah Daerah tidak percaya lagi dengan para penghapal al-Quran lokal mereka sendiri. Lebih jauh lagi, jika Majelis Qurra wal Huffazh Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang merasa di anaktirikan.

Ketiga, Impor tahfizh melalui kerjasama dengan Quantum Akhyar memberikan kesan kalau Pemerintah Daerah lebih ingin membangun yang baru dibanding memperbaiki dan mengembangkan yang sudah ada.

Sepintas kelihatan bagus, namun hal besar yang akan muncul adalah persaingan tak sehat. Dari sisi sosiologi agama, ini sangat tidak cocok dengan kultur pendidikan agama di Kabupaten Wajo yang sudah baik selama ini.

Membangun lembaga tahfizh yang baru di tengah tertatihnya perkembangan Tahfizhul Quran yang sudah ada, menjadi hal nyentrik di tengah persaingan lembaga tahfizh atas nama proyek yang makin menjamur.

Tiga hal dari kebijakan impor guru Tahfizh tadi setidaknya menyadarkan kita akan pentingnya komunikasi. Komunikasi dari pihak Pemerintah Daerah dengan lembaga tahfizh al-Quran yang sudah ada harus dilakukan, agar kebijakan ini tidak liar dan menjadi bumerang buat Pemerintah Daerah sendiri

Hal lain yang tak kalah penting adalah pelibatan. Melibatkan para penghapal al-Quran yang sudah berpengalaman di Kabupaten Wajo sedikit banyak akan menutupi tiga poin krusial yang dapat menimbulkan kerawanan seperti yang sudah penulis sebutkan.

Akhirnya tulisan ini mengharapkan agar kebijakan impor guru Tahfizh membawa dampak positif terhadap pendidikan al-Quran di Kabupaten Wajo. Dampak positif tentunya akan lahir dari niat dan cara yang baik.

Loading...