Ini Alasan Saya Korsel Menang Melawan Timnas U-19

Berada di Group G babak kualifikasi Piala Asia U-19 2014 bersama Korsel, laos, dan Filipina. Timnas mendapat lawan sungguhan malam ini. Bermodalkan kemenangan 2-0 atas Filipina dan 4-0 atas Laos, bukan berarti kepastian Evan Dimas dkk menjadi juara group.

Dikarenakan jumlah tim dalam setiap group tidak sama (ada 3, 4 dan 5 tim), maka AFC memutuskan, hasil pertandingan tim runner up melawan tim juru kunci di grup tersebut, tidaklah dihitung, alias nol, bagi grup yang terdiri dari 4 tim. Artinya, jika Korsel menang, maka penentuan runner up group ditentukan oleh posisi Laos, sebagai calon juru kunci group G.

Jika melihat dari hasil pertandingan sebelumnya, baik timnas muda maupun timnas Korsel, bisa dikatakan memiliki kartu truf andalan. Selisih gol lebih yang ditorehkan atas Laos oleh tim Korsel membuktikan kalau Seol Taesu dkk, tidak boleh dipandang sebelah mata. Begitu pula sebaliknya, posisi tuan rumah (meski dalam guyuran hujan) stadion GBK scara tidak langsung member efek psikologis besar terhadap Maldini dkk. Jika masing-masing tim bisa memanfaatkan modal besar ini, maka secara psikologis, puncak klasmen Group G berada di tangannya.

“Jika tidak bisa menfungsikan dengan baik akal, dan perasaanmu, maka diamlah. Itu jauh lebih baik, dibanding anda percaya ramalan.” Dua pragraph sebagai latar belakang di atas, kemudian menginspirasi saya menulis alasan Korsel Menang melawan Timnas U-19. Apa yang kutulis dalam akun twitter sejam sebelum pluit tanda dimulainya babak pertama dimulai, adalah refleksi dari perasaan saya.

Opini Terkait
1 daripada 304

Beberapa pakar politik Internasional merilis bahwa Amerika kini tidak lagi “berperang” melawan Rusia zaman Gorbachev, tapi lawan Negeri Paman Sam dan Negara Eropa pada umumnya adalah kekuatan Negara penduduk mata sipit. Korea, China dan Jepang. Singkat cerita, konon yang paling diwanti-wanti dari ketiga Negara ini adalah semangat juang tak kunjung pudar.

Posisi Korsel sebagai pemegang puncak klasmen Group G sementara, dan modal selisih gol, terbukti tidak membuat Korsel bermain tanpa disiplin dan kegigihan yang tinggi. Dan sepertinya, semangat juang itulah yang kelihatan jelas merepotkan pergerakan Maldini dari sektor sayap.

Dukungan dari fans U-19 dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan, harus mampu menyaingi semangat juang tim Korsel. Dukungan tersebut tentunya harus dengan sayang dan cinta. Tapi apa jadinya, jika para pecinta selebriti dan penyanyi Korea atau biasa disebut K-Popers yang kebanyakan perempuan akhirnya mendukung Ilham Armayn setengah hati. Bisa dilihat dari para K-Popers dalam rilis tweetnya, semua menjadi galau; “Saya cinta Indonesia, tetapi sayang Korea.” Kata mereka.

Dilema, para suporter terutama dari wanita yang potensi membangkitkannya lebih baik dari pria harus gamang, dan sulit menentukan pilihan. Banyak wajah sekelas “Suju” di sana. Maka kembali lagi, kita sebenarnya sedang berjuang dengan diri sendiri, dan ini bukanlah masalah patritisme dan nasionalisme. Kalau hal ini tidak bisa diantisipasi, maka besar kemungkinan akan menjadi alasan Korsel Menang melawan Timnas U-19.

Alasan saya Korsel akan menang melawan Timnas U-19, apalagi dengan ungkapan selisih gol, tentu tidak masuk akal. Tapi itulah refleksi perasaan saya atas kegamangan para penggemar Bintang. Dualisme antara bintang lapangan hijau dan bintang panggung, mau tak mau berbenturan tak terelakkan. 3 Gol berkelas Evan Dimas, bisa jadi memberi semangat baru kalau kami (Evan cs) layak dipuja meski dalam konteks berbeda. 3-2 Indonesia. BravoTimnas U-19 !!!

Komentar
Loading...