Inilah Satu-satunya Cara Membubarkan FPI

Cara Membubarkan FPI

Kata hati saya merasakan ada yang ganjil, ketika sorotan media terhadap Front Pembala Islam (FPI) hanya lebih berkutat pada tindakan kekerasannya saja, prosedur, manfaat, meski sekali tak akan kita dapatkan. Di media sosial juga demikian, ramai membicarakan cara membubarkan FPI. Sebegitu buruknyakah organisasi pimpinan Habib Rizieq ini, sehingga dari presiden RI sampai presiden BEM bersuara untuk membubarkannya?.

Opini kali ini tidak akan mendukung, tapi membawa pemikiran kita agar tidak salah kaprah menentukan cara membubarkan FPI. Alasannya, saya sama sekali tidak mengenal FPI kecuali hanya dari media. Di kampung saya, FPI tidak ada, tapi masyarakat terkadang juga melakukan tindakan/aksi seperti yang dilakukan FPI. (silahkan baca tulisan saya ini).

Melihat FPI dengan kacamata tindakan yang dilakukan secara sekilas, rentan membuat orang salah kaprah. Karena sudah tabiat manusia, butuh kedamaian, ketentraman, dan lawannya tentunya adalah kekerasan. Organisasi FPI disorot oleh berbagai media sebagai pelaku kekerasan, main hakim sendiri, dan dianggap melanggar peraturan yang berlaku di negara Pancasila, Indonesia.

“Ketika di sekitar tempat anda tinggal ada seorang yang membuang sampah di kali, kita tidak mungkin tinggal diam, menegur atau menasehati, karena kita tahu, jika kali di penuhi sampah, akan menyebabkan banjir. Ketika banjir melanda, dia tidak mencari siapa yang membuang sampah sembarangan tadi. Banjir melanda semua yang bisa dijangkau, bahkan bisa saja menimpa orang yang menegur tadi.”

Itulah analogi kemaksiatan. Kita mungkin bisa berpikir, biarkan saja mereka minum-minuman keras, makan di bulan ramadhan di tempat umum, berjudi, dan kemaksiatan lain. Kita berkata, “mari perbaiki diri masing-masing saja.” Tapi sadarkah kita kecelakaan dari sopir Afriani Susanti yang mabuk mengorbankan mereka yang tidak minum-minuman keras?. Mereka yang mencuri, karena kehabisan harta untuk berjudi. Mereka yang imannya setengah, akhirnya sembunyi-sembunyi ikut makan di warung?.

Apa hubungannya dengan FPI?. Dan kenapa mesti memakai kekerasan?. Inilah dua pertanyaan yang semestinya lebih awal dijawab oleh Presiden dan dukungan media.

Opini Terkait
1 daripada 304

Kemarin, Habib Riziq terlihat di tv mengatakan, “bahwa apa yang kami lakukan murni memberantas kemaksiatan dengan prosedural. Kami melapor, bahkan sampai 3 kali.” Jika apa yang dikatakan oleh pucuk pimpinan FPI ini benar, maka akan muncul satu pertanyaan lagi, kenapa laporan dari FPI, tidak ditindaklanjuti oleh aparat keamanan?.

Cara membubarkan FPIBagi saya, hal inilah yang mesti dijawab oleh pemerintah terlebih dahulu dalam hal ini aparat kepolisian. Ini penting, sebelum prasangka atas jawaban muncul dan memperkeruh suasana ditengah rahasia umum pungutan liar “serba bayar” ketika ingin mendapatkan pekerjaan. Karena tak sulit, menerka jangan-jangan para pengusaha hiburan malam pembawa kemaksiatan justru menggelontorkan amunisi untuk menjaga usahanya, akhirnya membuat sebagian aparat dilematis.

Saya tak suka kekerasan

Siapapun itu, saya, Anda, dia, mereka, kita semua tak suka kekerasan. Tapi supaya tidak salah kaprah, sebaiknya dipahami bahwa semua perbuatan tidak baik, bisa menjadi baik. Seperti halnya fikih, semua yang haram bisa menjadi halal, kecuali perzinahan. Artinya, kekeasan pun tidak selamanya berpredikat tidak baik, kekerasan akan menjadi baik, jika ditempatkan semestinya.

Contoh; seorang pencuri masuk ke rumah anda di malam hari, anda terbangun, dan disamping anda ada pentungan. Apakah anda akan mengajak dialog pencuri itu, atau mempergunakan pentungan itu. Awas kekerasan… Seorang aparat bahkan terkadang mempergunakan kekerasan, jika hal itu memungkinkan dan tidak melanggar hukum. Hukum apa, dan mari melihat landasan lahirnya hukum. Pemikiran kita akan kembali ke pragraph sebelumnya, “jika hukum tidak ditegakkan, maka masyarakat akan membuat hukum sendiri.”

Sebagai kesimpulan, mari melihat latar belakang lahirnya FPI, mari sedikit melihat maraknya kemaksiatan baik yang hard kemaksiatan atau soft kemaksiatan agar tidak salah kaprah. Diperlukan penegakan hukum tanpa pandang bulu, menegakan hukum bagi siapa yang melanggar. Karena jika tidak, masyarakat akan membuat hukum sendiri, karena seperti sebelumnya, bahwa masyarakat butuh ketentraman, dan kedamaian.

Bagi saya satu-satunya cara membubarkan FPI, tegakkan hukum dengan seadil-adilnya.

Komentar
Loading...