J TOS; dari Masyarakat Belawa oleh Belawa untuk Belawa

Kampung Jajanan Tosagena

Posisi demografis Belawa, Ibukota Kecamatan Belawa Kabupaten Wajo, secara ekonomis tidak menguntungkan. Dari jalan poros Sengkang-Sidrap, ada dua jalan masuk; Anabanua, Wette’ dan Lancirang. Artinya, untuk masuk ke daerah penghasil Ulama ini dibutuhkan unsur kesengajaan khusus, sehingga kehadiran orang luar masuk ke Belawa, bisa dipastikan karena sebab penting. Itulah sebabnya, untuk sekedar belanja barang yang ada di luar dan mudah dijangkau, konsumen akan memilih yang mudah, sulit masuk ke Belawa hanya untuk itu.

Mau tak mau, perputaran ekonomi masyarakat belawa stagnan. Ekonomi berputar dari masyarakat Belawa oleh Belawa dan untuk Belawa. Beli baju di Belawa pada penjual asal Belawa. Yang membeli petani, berasnya dibeli penjual campuran. Penjual campuran, pelanggannya penjual baju, dst. Perputaran ekonomi yang sederhana.

Dibutuhkan solusi kreatif menjawab tantangan demografis itu. 9 desa kelurahan dengan 40 ribuan penduduk, adalah jumlah yang produktif jika bisa dimanfaatkan dengan baik. Dan salah satu jawabannya adalah kampung Jajanan Tosagena atau yang lebih dikenal dengan J TOS (baca: Jitos). Singkatan dari Jajanan Tosagena.

J TOS ibarat kampung kecil atau lebih tepatnya kampung ekonomi kecil. Di dalamnya ada penjual, pembeli. Penjual makanan tradisional, cemilan, aneka ragam es, intinya jajanan. Jumlah penjual kisaran 30 an kios kecil. Pembelinya beragam; orang tua, anak muda, jomblo, dan playboy hehehe

Konsep J TOS lebih dekat sebagai tempat refreshing bersama keluarga, teman dan handaitaulan, yang menyediakan aneka makanan berat dan ringan. Goreng itik, Nasu Palekko, udang, semua ada. Jalangkote, Bakwan apalagi Makan tak mesti di rumah, warung makan yang kesannya formal. J TOS menawarkan nuansa yang sedikit terbuka dan menghibur.

J TOS dibuka sejak sore dan tutup menjelang larut malam. Paling ramai saat malam libur, malam minggu atau malam tanggal merah. Malam liburan kadang dihibur oleh pentas musik dalam dan luar Belawa. Terkadang pengunjung sampai larut malam, duduk meski J TOS sudah ditutup. Mungkin mencari inspirasi di ruang terbuka atau sekedar menghilangkan stres.

Opini Terkait
1 daripada 123

Hadirnya J TOS, sedikit demi sedikit mengurai kebuntuan ekonomi Belawa. Dari sisi jajanan, bukan hanya orang asli Belawa yang datang mencicipi makanan yang disediakan murah, tapi juga orang luar banyak yang masuk dan mencoba. Roda ekonomi skala kecil tentu berputar. Penjual yang pastinya orang Belawa mendapat tempat dan peluang baru yang ramai demi sesuap nasi dan sebongkah berlian.

Walhasil, meski buka beberapa jam, beberapa penjual berhasil meraih omset keuntungan bersih hingga 300 ribuan per hari. Rejeki tiap orang tentu berbeda. Namun, J TOS berhasil menciptakan iklim pemberdayaan ekonomi masyarakat yang patut diacungi jempol.

Dari sisi kesadaran masyarakat akan usaha, sedikit demi sedikit mulai berubah. Dulu, banyak yang merasa malu dipanggil “mas” karena panggilan itu identik dengan penjual Bakso. Kini, mereka yang melakoni itu mulai sadar, bahwa hanya karena label malu yang tak tepat itu, ternyata banyak keuntungan di baliknya. Di Belawa, Bakso, Nyoknyang, nasi Campur, Gado-gado, dll, tidak lagi didominasi masakan mas dari Jawa. Kehadiran J TOS menciptakan persaingan sehat.

Sebagai pengunjung setia J TOS, saya kadang duduk sampai larut di tempat ini. Berkhayal panjang, jauuuuh sekali… andai saya jadi Gubernur, saya akan kucurkan 2 triliun untuk pengembangan ekonomi masyarakat seperti yang terjadi di J TOS. Agar slogannya sedikit berubah, bukan lagi dari masyarakat Belawa oleh Belawa untuk Belawa. Tapi dari pemerintah, oleh masyarakat Belawa untuk Belawa.

“Gila lu Ndro, itu mahal sekali. Masa sampai 2 T!” Protes teman ku.

“Namanya juga khayalan toh.”

Loading...