Jadilah itu Barang !

Tengah malam, saya harus menunaikan janji menulis apa saja dengan topik jadilah itu barang. Topik, tapi akhirnya sekaligus menjadi judul. Sungguh, tulisan ini tidak familiar di blog saya. Tapi janji adalah janji. “Jadilah itu barang,” adalah judul yang sekaligus menjadi kata kunci di Search Engine (mesin pencari) nantinya.

Awalnya iseng, mendiskusikan masalah Search Engine Optimation (SEO) dengan seorang teman sekampung nenek saya. Posisi mesin pencari sebagai bagian dari perusahaan, tentu tujuan akhirnya adalah surplus profit, keuntungan, materi, dll. Dari pemikiran inilah terkadang saya melakukan trial and error dan menarik kesimpulan kalau SEO hari ini telah merangkak ke arah study khusus, padahal sebenarnya Semu. SEO dikalangan blogger, berputar bak lengkaran setan, menguntungkan di sisi penjual jasa SEO, namun merugikan pada kalangan “nubi” seperti saya. Betapa tidak, muncul rumus-rumus buatan baru pemain SEO, yang sebenarnya tidak masuk akal, dan bisa jadi hanya akal-akalan.

Lahirlah usul membuat tulisan sama dengan topik dan target Keyword yang sama, “Jadilah itu barang”, sebenarnya insidentil. Istilah yang paling mendekati kalimat “jadilah itu barang” adalah ungkapan Sutan Batoegana, pengurus Partai Demokrat yang namanya masuk dalam Berkas Acara Pemeriksaan (BAP) kasus suap Rubi Rudiandini. Meski kalimatnya berbeda, namun semangat ungkapannya sama. Sutan sering menyebut kata “barang” terangkai dengan masuk, dan mainkan. “Mainkan barang tu, masuk tu barang, dll”.

Opini Terkait
1 daripada 123

Jadilah itu barang, sempat diucapkan Sutan dalam acara ILC saat ditanya oleh Karni Ilyas mengenai potensi Sutan jika menjadi Gubernur Sumatera Utara. Anggota Komisi VII DPR RI itu menjawab, “bang karni, kalau Allah swt menghendaki, kita tak usah pusing, tanpa usaha sedikitpun jadilah itu barang”. Kini, Sutan Batoegana terjerat kasus suap, karena dalam BAP disebutkan bahwa Sutan pernah meminta THR untuk Komisi VII kepada Rudi yang kala itu menjabat sebagai Kepala Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas (SKK Migas).

Menjadi menarik, ketika rekaman antara Sutan dan Rubi diperdengarkan di persidangan beberapa kata “barang” terdengar lagi. Misalnya, “Tapi kalau bisa sih as soon as possible supaya barang ini tidak jadi basi dan gak bagus..” Letak keunikannya, karena politisi Demokrat ini menambah perbendaharaan makna “barang” yang sudah ada.

Dalam ekonomi, barang diartikan sebagai suatu komuditas yang memiliki nilai. Dalam hukum barang juga erat, dan kerap disebut dalam “barang bukti”. Bahkan dalam lingkup mahasiswa, ada kamus khusus mengenai “barang” yang dibawa mahasiswa peserta MOS atau OSPEK. Barang juga tak jarang, menjadi kata pengganti yang berarti alat vital. Misalnya dalam kalimat, “barang suaminya gede begitu”. Namun, apapun makna “barang”, barang adalah sesuatu yang jadi. Jadi, kalimat “jadilah itu barang,” meniscayakan bahwa barang yang dimaksud belum jadi. Lalu, barang yang belum jadi itu apa?

“Jadilah itu barang,” akhirnya membuat kita berkutat, berputar pada satu pemahaman, bahwa barang yang belum jadi itu, akan diharapkan menjadi (being to be). Ahhh… semakin sulit dipahami. Itulah sebabnya, dari awal saya mengatakan, bahwa topik “jadilah itu barang” tidak familiar.

Loading...