Janda-Q; Wadah Penyambung Da’i dan Masyarakat

Janda-Q

Ada dua kebutuhan manusia yang paling mendasar, 80% manusia berusaha menghindari rasa sakit, dan 20% manusia butuh rasa nikmat. Semakin lama, kebutuhan manusia semakin modern. Muncullah kebutuhan akan kepastian, rasa nyaman, rasa aman, hubungan, variasi dan kontribusi. Kebutuhan itu hampir untuk semua perilaku manusia termasuk perilaku keagamaan seperti ceramah.

Ceramah akan menarik dan disukai jika penceramah atau da’i bisa menjawab kebutuhan akan kepastian, rasa nyaman, rasa aman, hubungan, variasi dan kontribusi. Bisa dibayangkan, pada sebuah acara maulid yang akan dimulai, tapi penceramah yang akan tampil belum pasti. Atau pada pesta perkawinan, da’i yang akan membawakan nasehat pernikahan tidak bisa memberikan rasa nyaman, aman, atau tidak variatif, tentu kesannya akan tidak menarik.

Jika ingin belajar dari sejarah, Rasulullah saw memulai dakwahnya pada orang-orang yang dikenal baik, mulai dari keluarganya, kerabatnya, sahabat-sahabatnya, kemudian ke suku Quraisy dan kota-kota terdekat. Intinya pada jemaah yang dikenal terlebih dahulu. Karena transformasi pengetahuan dan akhlak akan mudah jika antara da’i dan pendengar saling mengenal.

Rasulullah saw saat mengutus sahabatnya sebagai da’i, pun menyesuaikan dengan karakter masyarakat yang sesuai dengan karakter da’i. Misalnya Abu Bakar ra, diutus ke kalangan pedagang. Mush’ab bin Umair diutus ke Yatsrib atau Muadz bin Jabbal ke Yaman.

Menjadi pelajaran para da’i, skill dan potensi yang dimiliki apa, dan segmen diceramahi apa. Menghadapi anak ABG, atau masih pelajar, maka berikan mereka da’i yang muda-muda dan bisa membuat suasana jadi cair. Demikian seterusnya. Intinya adalah target yang efektif.

Latar belakang inilah yang membuat beberapa da’i muda Sengkang Kota Santri merumuskan group kecil namun memberikan pengaruh besar. Dari pertemuan kecil di warung kopi, dua tahun lalu menjelang ramadhan.

Janda-Q (Dibaca Jandaku). Nama nyentrik yang jika didengar secara sekilas terkesan genit. Sekilas bermakna kepemilikan terhadap “janda.” Tapi sebenarnya bukan itu. Janda-Q singkatan dari Jajaran Da’i dan Qari. Garis datar setelah kata janda bermakna bahwa proritas di group ini adalah para da’i.

Saya melihat penggunaan nama ini, selain mengakomodir singkatan, tapi juga sebagai bentuk marketing. Bahwa penyebutan suatu kata yang menarik, bisa memancing pendengar untuk mengetahui lebih lanjut, apa dan bagaimana pengguna nama itu sebenarnya.

Puluhan da’i dan qari yang bergabung di group ini secara keseluruhan adalah da’i muda dan Qari 1Sebutan bagi orang yang bisa melantunkan ayat sudi al-Quran dengan fasih, tajwid, dan irama yang bagus. Umumnya da’i yang berasal dari Sengkang, Wajo Kota Santri, dan beberapa dari luar Kabupaten Wajo. Banyak tujuan dari group ini, namun tujuan utamanya adalah mempermudah komunikasi sesama mereka dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat akan da’i.

Patut disyukuri, kebutuhan masyarakat akan acara yang bernuansa religi semakin hari semakin meningkat. Olehnya itu, para da’i juga harus mempersiapkan diri secara pribadi baik dari sisi materi ceramah, maupun tata kelola jadwal ceramah yang tidak menyusahkan masyarakat.

Ustad H. Ismail, sebagai ketua Janda-Q memaparkan beberapa kejadian menarik terkait masyarakat dan da’i. Misalnya, terkadang masyarakat terpaku pada satu sosok da’i saja yang sudah dianggap mampu menjawab kebutuhannya akan ceramah, akhirnya da’i yang dimaksud itu kesusahan mengatur jadwal ceramahnya. Di sisi lain, masih banyak da’i lain yang sebenarnya memiliki kualitas yang sama dan bisa menjawab kebutuhan pun dengan memuaskan, namun tidak terakomodir karena mungkin masalah dikenal atau tidak.

Janda-Q menjadi wadah untuk itu. Jadi saat ada yang butuh pada salah satu da’i, namun tidak ada kecocokan jadwal, maka da’i yang dimaksud menawarkan da’i lain yang dianggap dan dipercaya. Walhasil, selama hal ini dilakukan di group Janda-Q, terjawab beberapa hal;

Opini Terkait
1 daripada 9

Pertama, masyarakat merasakan variasi ceramah beragam dari da’i yang berbeda. Masyarakat tidak terpaku kepada satu sosok saja. Dari sisi doktrinasi ini penting. Karena pengetahuan yang berbeda dari da’i yang berbeda secara tidak langsung meningkatkan kualitas masyarakat.

Kedua, Janda-Q secara tidak langsung meng-orbit-kan da’i yang awalnya belum dikenal di masyarakat padahal memiliki kompetensi, akhirnya dikenal. Dari hal ini menjadi proses regenerasi berjalan dengan baik. Arena ceramah tidak dimonopoli person sepihak saja.

Ketiga, Janda-Q menjadi penyambung aspirasi masyarakat akan kebutuhan dakwah terhadap para da’i. Ibarat forum silaturahmi, dalam komunikasi antar da’i yang terbangun di group Janda-Q, dengan sendirinya menjadi wadah aspirasi yang terhimpun dari da’i yang tergabung dalam group.

Tiga poin penting tadi menjadi hal menarik untuk saya tulis di artikel ini. Selain itu, ternyata para pendiri Janda-Q akan merilis perogram kemasyarakatan yang secara tidak langsung memberi manfaat kepada masyarakat dengan nuansa berbeda.

Janda-q

Angota group Janda-q

Salah satu program menarik adalah progaram ceramah gratis Janda-Q dalam bentuk safari ke masjid-masjid, majelis taklim atau tempat yang membutuhkan.

“Pandangan masyarakat bahwa para da’i haru diberikan fee dalam amplop harus diubah karena itu bukan hal mutlak dan wajib. Itu hanya perlu. Untuk itu program safari ini semoga bisa menjadi jawaban akan hal itu.” Ujar Ustad H. Ismail.

Program lain, adalah pembekalan kepada para isteri da’i. Ini juga menarik. Kadang kesibukan para da’i dalam memberikan ceramah dan dakwah islamiyah, justeru mengurangi jatah ceramah untuk keluarga sendiri termasuk isteri para da’i. Untuk itu, program ini diharapkan bisa menjadi solusi sekaligus wadah silaturahim isteri para da’i.

Lalu bagaimana bisa ikut program ini sedangkan saya bukan isteri da’i?

Tentunya harus menjadi isteri da’i dulu

Ustad Lale Jangan diikuti

Jika butuh bantuan penceramah kru Janda-Q, anda dapat menghubungi nomor berikut: +62 852-5582-8427, +62 813-5500-2797, +62 852-4280-4448

Loading...