Jangan Membusung, Kalau Dada Rata!

La Kanuku berdiri melindungi, kaki kanannya tegak menancap di tanah. Kaki kiri ditekuk seakan siap memberikan tendangan kepada musuhnya. Tiga musuh dengan bodi lebih besar berisi dibanding La Kanuku, menatap jalang merah, marah. Aku hanya bisa menatap was-was apa yang akan terjadi selanjutnya.

Jelas kulihat La Kanuku tidak merasa takut sedikitpun. Dada membusung meski tidak terlalu jelas. Iya, La Kanuku terlihat kurus. Dadanya rata. Ada kekawatiran besar terhadap La Kanuku, karena sejak dua hari terakhir kondisinya sangat lemah. Makanan yang tersedia bisanya akan ludes dilahap hanya dalam hitungan menit, tapi tidak sejak dia sakit sakitan. Bagaimana dia bisa melindungi sosok yang sepertinya sangat dia cintai?

La Kanuku terlihat percaya diri di balik kelemahan fisiknya. Sebagai penonton saya tak bisa berbuat apa-apa. Sosok yang coba dia bela juga asing bagiku. Heran, kenapa La Kanuku sangat menyukainya. Padahal anaknya banyak. Saya berpikir simpel, masih banyak yang belum punya anak di sana. Masih ting ting.

Kalau bukan karena om yang sangat menyukainya, mungkin La Kanuku sudah tidak ada lagi. Omku menganggapnya spesial, bahkan nama La Kanuku itupun pemberiannya. Semua menjadi penghalang. Andai bukan itu, akan kujual atau kusembelih. Meski sakit-sakitan, lumayanlah, karena La Kanuku masih termasuk ayam yang layak sembelih.

Gaya La Kanuku membusungkan dada berbeda dengan gaya Ronaldo saat mencetak Gol untuk Portugal di Piala Dunia lalu. Dengan wajah dan teriakan keras, pria gagah yang pernah merumput di MU ini membusungkan dada dan menepuknya bangga. Dada yang membumbung keras setinggi prestasinya. Dada itu tidak rata.

Opini Terkait
1 daripada 123

La Kanuku dan Ronaldo, dua gaya, dua profile, dan dua kondisi berbeda, namun sama-sama membusungkan dada. Masih banyak contoh membusungkan dada dengan kondisi beragam. Pesan dari membusungkan dada adalah kemampuan. Refleksi kekuatan sehingga menganggap diri mampu. Manusia, bahkan binatang sekalipun akan membusungkan dada jika merasa mampu.

Membusungkan dada juga menyiratkan pesan menantang. La Kanuku merasa mampu melawan tiga ayam lain meski dia sakit-sakitan. Bukan cuma itu, dia memberi kesan menantang dengan membusungkan dada. Ronaldo juga demikian. Seakan akan berkata, “gawang siapa lagi yang akan aku bobol. Ini aku Ronaldo!”

Pesan buruk dari membusungkan dada adalah kesombongan. Sombong menganggap rendah yang lain atau merasa lebih dari yang lain. Orang yang sombong biasanya merefleksikan diri dengan membusungkan dada. Meskipun dada memang membusung tak rata, atau meski yang bersangkutan memiliki kelebihan yang bisa disombongkan, tetap saja sombong itu buruk. Apalagi kalau dada rata, tak punya kelebihan tapi sombong. Bahkan menyadari punya kelebihan pun sudah menjadi ciri kesombongan. Itu tak baik, seperti membusungkan dada yang rata.

Jadi, jangan membusung, kalau dada rata!

Loading...