Jika Atasan Salah, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika Atasan Salah

Jika atasan salah, apa yang harus dilakukan? “Atasan tidak pernah salah, jika atasan salah, maka kembali ke pernyataan semula”.

Kalimat yang sudah menjadi prinsip kebersamaan pegawai di bawah bayang-bayang pekerjaan yang memiliki atasan. Mau benar mau salah, tetap saja atasan tak pernah salah. Lalu muncullah bejibun argumen mengukuhkan posisi atasan/bos itu. Sebut saja, bahwa atasan memiliki kacamata luas memikirkan efek kebijakan lebar, tidak seperti bawahan yang menggunakan kacamata kuda. Pandangannya hanya melihat ke depan saja.

Dari situlah kadang muncul rasa serba salah. Memilih yang benar, atau keukeuh pada doktrin kacamata atasan yang lebih luas? Tak bisa dipungkiri dalam diri ada kebenaran. Tanpa turun wahyu pun, kebenaran tetap ada. Benar dan kebenaran memiliki sisi melekat meski sedikit berbeda. Lalu bagaimana jika, apa yang dilakukan atasan salah, tidak benar, atau bahasa halusnya “keliru”?

Seorang kadang tahu dan bahkan yakin kalau orang yang diikutinya, atasannya, bosnya itu salah. Tapi karena merasa terlalu cinta atau hormat berlebihan, ia berat menyatakan itu, baik dengan kata-kata maupun dengan sikap. Akhirnya dia berusaha menutup mata atas kesalahan tersebut dan mencari-cari dalih untuk membenarkan sikapnya. (Baca: Pejabat yang hanya bisa jadi bos)

Akalnya berusaha mencari rasionalisasi agar dirinya kuat, bahwa bukan bosnya yang salah, tapi dialah keliru memandang objek yang dinilai. Padahal di balik itu, sebenarnya kepentingannya lah yang ingin dipertahankan. Ada rasa takut, bos nanti marah dan efeknya pada penghasilan, jabatan, terus sampai kondisi hidup. Lupa bahwa hidup ini hanyalah skenario dari yang Maha Kuasa.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.

Opini Terkait
1 daripada 304

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana merpeka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. Firman Allah dalam surah al-Baqarah, ayat 165 sampai 167.

“Ta’muruna bil Ma’rufi wa Tanhauna ‘Anil mungkar”. Hendaklah kamu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Perintah Allah yang kerap kali difirmankan dalam kitab suciNya. Sesuatu yang salah adalah bentuk kemungkaran. Harus dilarang, ditahan, ditolak. Tinggal cara kita melakukannya bagaimana. Apakah ketaatan akan perintah itu masih ada, atau lagi lagi mencari alasan mempertahankan diri?

Jika atasan salah, apa yang harus dilakukan? Ada dua opsi pilihan. Pertama, ibarat masuk ke dalam sungai yang airnya deras. Jangan melawan, karena tenagamu akan habis, lalu derasnya sungai akan menghabisimu. Tenangkan diri, biarkan badan mengapung, lalu sekali kali berusaha ke pinggir atau menancapkan kaki dengan kuat di dasar sungai. Setelah itu berusaha menyelamatkan diri dan tundukan arus sungai yang deras itu.

Melawan atasan yang salah, gk perlu menghabiskan tenaga, karena kekuatan atasan lebih besar seperti derasnya air sungai. Berusahalah mencapai pinggir, menancapkan kaki dengan kokoh. Berusahalah menjadi bawahan yang kuat yang siapapun segan termasuk atasan, atau berusahalah menjadi atasan juga. Kelak kesalahan itu bisa dibungkam, ditundukan saat sudah kuat. (Baca: cara sabar dan ikhlas)

Opsi kedua, camkan pada diri, mati cuma sekali, dan kesempatan berbuat baik harganya mahal. Allahlah yang berkuasa, Dialah yang menghidupi, dan segala kebaikan bersumber dariNya. Lalu setiap kesalahan yang jelas-jelas kesalahan, maka lawan.

Nah, para pembaca budiman, jika atasan salah, apa yang harus dilakukan? Anda pilih opsi mana…

Komentar
Loading...