Jokowi dan Prabowo Dua Putera Terbaik Bangsa

Kita boleh kecewa pada Jokowi, karena menganggap ini itu dan tidak sesuai dengan harapan. Kita juga boleh tidak yakin pada Prabowo dengan kekawatiran dan anggapan yang juga tak sesuai harapan. Namun kita mesti akui, Jokowi dan Prabowo dua putera terbaik bangsa.

Jokowi adalah kisah nyata seorang rakyat biasa yang mampu menjadi manusia luar biasa. Impian banyak anak desa, doa dari seluruh orang tua buat anaknya. ini bukan sinetron serta dongeng, ini nyata, seseorang anak pinggir kali, yang wajib pindah rumah berulang kali sebab tidak sanggup bayar sewa pula kena penggusuran dari angkuhnya kehidupan kota.

Kisah hidup Jokowi merupakan cerita nyata perjuangan anak miskin yang mengangkut derajat keluarganya lewat pembelajaran serta kerja keras.

Lahir dari anak tukang kayu, pekerja keras membawa Jokowi masuk ke Jurusan Kehutanan Universitas Gajah Mada (UGM), salah satu kampus tersohor yang tidak seluruh orang sanggup kuliah di sana pada waktu itu.

Tak ada catatan kalau Jokowi adalah aktivis mahasiswa saat di kampus. Jokowi memilih menepi dari hiruk pikuk aktifitas kampus, dia lebih suka naik gunung di akhir pekan, sampai kemudian secara bertahap merintis bisnis dan menjadi pengusaha mebel di Surakarta.

Dalam politik, Jokowi bukan kader asli yang dibesarkan partai, dia awal mulanya diminta paket dengan Hadi Rudyatmo (PDIP) yang enggan maju bersaing sebagai calon walikota Solo. Jokowi hadir dengan style baru di Solo, berdialog dengan warga yang hendak di relokasi, menggusur dengan amat manusiawi, apalagi dengan PKL dikirab seperti festival budaya, dikawal satpol PP seperti pejabat.

Style tersebut mengantarkannya menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 2012. Tak sampai di situ, gaya sederhana itulah mengantarkannya menjadi Presiden RI dua tahun kemudian.

Prabowo anak ekonom legendaris republik ini, Profesor Soemitro Djojohadikoesoemo, yang namanya diabadikan sebagai nama gedung di Departemen Keuangan. Sumitro pula sempat menjabat Menteri Keuangan, Menristek, Menteri Perindustrian serta Perdagangan di Masa Soekarno serta Soeharto.

Soemitro pula populer karena sangat kritis, berani dengan keras menentang kebijakan-kebijakan ekonomi Soekarno dan Soeharto yang dikira enggak pro rakyat. Bahkan sempat jadi buron ke luar negara di masa pemerintahan Soekarno sebab sangat vokal terhadap pemerintah.

Saat menjadi Menteri Perindustrian serta Perdagangan, Sumitro sempat tidak disapa Bu Tien Soeharto sepanjang setahun sebab menolak membagikan hak istimewa dalam perdagangan.

Kakek Prabowo merupakan cucu dari pendiri Bank Negeri Indonesia (BNI), Raden Mas Margono Djojohadikoesoemo, yang juga anggota BPUPKI serta Pimpinan DPAS.

Prabowo lulus sekolah menengah di umur 16 tahun, lebih muda dari sebayanya. Di umur 17 tahun, Prabowo bersama aktivis legendaris Soe Hok Gie mendirikan LSM Pembangunan, yang fokus pada pembangunan desa serta pengembangan LSM.

Di tengah keluarga elite, dia malah memilih jalur menjadi prajurit. Prabowo lulus Akademi Militer tahun 1974. Walau di militer, Prabowo tetap mewarisi tradisi intelektual ayahnya. Dia tentara yang hobi membaca serta menguasai 4 bahasa asing, bahasa Inggris, Perancis, Belanda, dan Jerman.

Prabowo berulang kali dikirim mengikuti pelatihan serta kursus di luar negeri; tahun 1974, 1975, 1977, 1981. Dia pula sempat mengenyam pembelajaran Counter Terorist Course Gsg 9 di Jerman serta Special Forces Officer Course di Fort Benning USA dan menjadi lulusan terbaik bersama Putra Raja Yordania,.

Opini Terkait
1 daripada 133

***

Percayalah, keduanya putra terbaik yang punya kekurangan sebagai manusia. Isu Jokowi hendak membangkitkan PKI serta Prabowo hendak mendirikan Khilafah hanya permainan cunguk untuk memenangkan pertarungan.

Jokowi jelas masih berumur 5 tahun dikala PKI dibubarkan, bapaknya juga jelas bukan intelektual PKI, cuma tukang kayu yang tidak mau tahu urusan politik PKI. Prabowo apalagi, walaupun lahir dari rahim nasrani, tapi dia dekat dengan jaringan Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) kepunyaan B. J. Habibie tahun 1998.

Jokowi sempat dinobatkan sebagai salah satu walikota terbaik dunia, pun dengan Prabowo yang sanggup mencapai banyak prestasi dikala menjadi komandan kopassus serta menjadikan kopassus sebagai salah satu satuan elit militer terbaik dunia.

Kalau Jokowi sebagai pemerintah sukses dengan pelaksanaan Asian Games, jangan lupa, cabang olahraga Pencak Silat binaan Prabowo menjadi peraih medali terbanyak.

Putra terbaik bangsa
Ilustrasi

Sekali lagi, keduanya putra terbaik bangsa. Perbedaan hanya pada gaya, dan cara bahasa. Jokowi orang Solo tulen khas dengan keramahan serta suara lembutnya, santai serta banyak bercanda. Semua orang pasti suka dengan gaya kepemimpinan yang asyik, sederhana dan merakyat.

Prabowo separuh Banyumas (Bapak), separuh Minahasa (Ibu). Ibarat Bataknya Jawa, dalam komunikasi orang Banyumas lebih besar nada suaranya, sedikit ceplas ceplos serta terbuka apa adanya. Ditambah latarbelakang militer, pastilah gaya bicara Prabowo tegas dan berapi-api.

Bekal itulah yang membuat Prabowo berorasi dengan lantang dengan bahasa inggris yang fasih dalam memperjuangkan Palestina serta negara tertindas yang lain di depan rapat serta forum-forum internasional.

Selain putra terbaik, Jokowi dan Prabowo bagaikan saudara yang hanya beda gaya. Saat Jokowi maju dalam kompetisi memperebutkan kursi nomor satu DKI 2012, Prabowolah yang memperjuangkannya tanpa mahar. Logikanya, jika Jokowi orang baik, maka Prabowo juga orang baik karena dialah yang menjadikannya sebagai orang nomor satu DKI dan lalu menjadi Presiden RI. Demikian pula sebaliknya.

Pilpres 2019, ibarat Jokowi dan Prabowo sedang bermain catur. Di sekelilingnya terlalu banyak penonton. Penonton yang seakan lebih hebat dari pemain. Penonton yang tak sabaran, ingin melihat siapa yang skakmat terlebih dahulu.

Masing-masing mendukung jagoannya. Hanya saja cara mendukungnya bukan menampilkan hal yang positif tapi lebih tertarik mencari dan menampilkan sisi keburukan lawan. Padahal Jokowi dan Prabowo dua putra terbaik bangsa.

Sebagai penonton, berhati-hatilah jangan sampai Anda menyentuh papan catur, Anda berlaga di arena yang bukan arena Anda. Stop terbawa arus yang menghayutkan apalagi menjelek-jelekkan personal. Kalau Jokowi dan Prabowo putra terbaik bangsa, dukung mereka jangan malah menjadi putra terburuk bangsa.

*Disadur dari tulisan Agus Taufik

Loading...