Kasus Video ML Guru SMA Belawa, Rawan Hukum

Perbuatan pidana dengan perbuatan bukan pidana di bedakan atas; perbuatan jahat sebagai gejala masyarakat yaitu perbuatan manusia yang menyalahi norma-norma dasar dalam suatu masyarakat, dan perbuatan jahat dalam hukum pidana yaitu perbuatan manusia yang memenuhi unsur-unsur delik.

Dalam hukum pidana berlaku adanya asas legalitas hal ini berarti bahwa suatu perbuatan yang di anggap sebagai tindak pidana baru dapat di ancam dengan hukuman atau sanksi apabila perbuatan tersebut telah di rumuskan undang undang, yang Adami Cahzawi antara lain terdiri atas, adanya kesengajaan, adanya perbuatan, adanya akibat perbuatan.

Kasus video ML yang dilakukan guru SMA Belawa dengan siswinya, menuai kemarahan masyarakt. Jika ditinjau dari hukum adat, maka pelanggaran susila berat dan kecaman masyarakat sebagai imbalannya. Pembakaran rumah sebagai bentuk protes, bagi penulis dengan tidak menggunakan kacamata hukum akan menilai “wajar”. Namun dari segi hukum pidana berdasarkan KUHP, akan menjadi perdebatan yang memiliki pintu celah “bebas” yang besar terhadap pelaku (guru).

Ada beberapa pasal yang bisa di kenakan pada pelaku. Pertama, pasal 55 KUHP yang menjelaskan tentang Penyertaan dalam Tindak Pidana pada Pasal 55 berbunyi, (1) Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:

1. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan. Jika menjadikan video berdurasi 15 dan 18 menit, maka terkesan tidak menyuruh melakukan, meski turut serta melakukan. Dan jika turut serta, maka pasal 284 KUHP yang bisa dikenakan

2. (1) Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. (2) Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya. Lantas bagaimana jika pelaku berkilah, bukan anjuran dengan alasan pelaku yang didatangi berdasarkan lokasi perbuatan di rumah pelaku (guru)?

Pasal 282 tentang asusila yang berbunyi;

Ayat 1, Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah. Dalam undang-undang ini, besar peluang pelaku berkilah, bahwa tersebarnya video, bukan atas inisiatifnya.

Ayat 2, Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagai pencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pasal 284 KUHP yang berbunyi, (1) seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya. b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya. (2) seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin; (3) seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga (3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75. (4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai (5) Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap. Pertanyaan mendasar, bagaiman jika pihak yang dirugikan, dalam hal ini istri elaku tidak mengajukan gugatan?, atau kalau toh mengajukan akan mendapat ancaman hukuman 9 bulan penjara.

Keberadaan pasal-pasal yang jika dinilai oleh banyak orang, khusus untuk kasus ini, tentunya sudah sangat tidak relevan terutama substansi pasal 284 KUHP yang tidak mampu mencerminkan dan mengakomodir nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat, baik hukum adat maupun hukum agama. Hal ini tentunya menjadi bahan perenungan dan kajian yang mendalam bagi para penyimak kasus ini, sebagai objek pandangan proses hukum nantinya.

*Penulisan aturan hukum tidak berdasarkan pada model penulisan dari sumber KUHP

Loading...