Kejanggalan Kecelakaan Anak ‘Jetset’ di Tol Jagorawi

Bukan cuma di Twitter yang ramai, di kolom komentar mengenai kecelakaan Abdul Qadir Jaelani yang akrab di sapa “Dul” pun ramai umpatan terhadap kedua orang tua anak berumur 13 tahun ini.

Pasca kasus Rasyid anak Menteri, kecelakaan yang menewaskan 6 orang di tol Jagorawi, pelak mengusik kesadaran publik tanpa sengaja sadar atau tidak rawan merasakan kejanggalan dari kecelakaan ini. Masyarakat pun tercengang, karena semestinya bocah berusia 13 tahun, duduk manis dikursi penumpang, namun dalam peristiwa kecelakaan maut ini justru dialah yang berada di ruang kemudi.

Umpatan yang mungkin berasal dari sikap pesimis dari masyarakat terhadap aparat penegak hukum hari ini, masih dalam standar layak. Bagi, saya itu wajar karena dua kecelakaan dan semuanya terjadi di Tol Jagorawi semuanya adalah ‘anak jetset’ dan keduanya mengusik rasa keadilan.

Pertama, kecelakaan yang dialami oleh Rasyid Radjasa, anak dari Ketua Partai Amant Nasional sekaligus salah satu Menteri di Kabinet Indonesia bersatu. Dan kedua, kecelakaan Dul anak artis beken Ahmad Dani yang disebut sebagai agen freemasonry oleh banyak kalangan.

Dalam kasus anak bungsu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Rasyid dinyatakan bersalah, terbukti melanggar Pasal 310 Ayat (4) Undang-Undang Lalu Lintas akibat mengendarai kendaraan dengan lalai dan subsider Pasal 310 Ayat (2). Namun, tidak perlu masuk penjara bila tidak mengulang perbuatan sama dalam kurun waktu 6 bulan. Kesalahan Rasyid yaitu kecelakaan maut terjadi di Km 3,5 Tol Jagorawi, Selasa 1 Januari 2013 pagi. Rasyid mengendarai BMW X5 B 272 HR jenis SUV menabrak angkutan umum berpelat hitam Daihatsu Luxio F 1622 CY mengakibatkan 2 orang tewas, yaitu Muhammad Raihan (1,5) dan seorang kakek dua cucu bernama Harun (57), dan 3 orang luka-luka.

Seperti diberitakan Tribunnews.com, selain vonis pengadilan, ditemukan ada kejanggalan lain. Salah satunya ketika mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Satuan Patroli Jalan Raya Polda Metro Jaya, dikatakan kasus kecelakaan tersebut ditangani oleh Satlantas Wilayah Jakarta Timur, karena masih berada di area Jakarta Timur. Namun, saat dikonfirmasi ke Kasatlantas Wilayah Jakarta Timur, kasus kecelakaan tersebut ditangani oleh Polda Metro Jaya, mengingat lokasi kecelakaan berada di dalam tol. Akhirnya dalam persidangan hakim menjatuhkan vonis 6 bulan hukuman percobaan dengan hukuman pidana 5 bulan.

Beda kasus, beda kejanggalan. Dalam kecelakaan Dul, banyak pihak menilai termasuk Kompolnas, bahwa seakan aparat mencari kambing hitam dengan membidik pihak Daihatsu GranMax.

Opini Terkait
1 daripada 304

“Ada kemungkinan pihak kepolisian akan mencari pihak lain untuk disalahkan. Misalnya, menyalahkan pihak Daihatsu GranMax yang telah melakukan modifikasi pada mobil dan mengangkut penumpang dengan jumlah berlebih.” Ujar Adrianus Meliala salah seorang anggota Kompolnas.

Namun sore ini, kejanggalan itu sedikit berubah ketika pihak aparat menetapkannya hanya sebagai saksi

Kondisi mobil pasca kecelakaan Dul. Sumber poto kompas.com

Kejanggalan lain, belum ada hasil pemeriksaan secara langsung, sudah banyak celoteh dari aparat hukum, seperti apa yang diungkapkan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Rikwanto

“Mengacu dari Undang-undang Lalu Lintas, pasal yang dikenakan terhadap kecelakaan-kecelakaan sejenis, sementara kita kategorikan karena lalainya. Pasal 310, UU Lalu Lintas, ancaman 6 tahun.” Kalau pun terbukti Dul memang bersalah, Rikwanto menjelaskan, ada kemungkinan kasus ini juga memakai UU Perlindungan Anak, Pasal 13.

Beda dari pejelasan Ketua MK, Akil Mochtar, “MK pada 24 Februari 2011 memutuskan bahwa batas bawah usia anak yang bisa dimintai pertanggungjawaban hukum adalah 12 tahun. Sebelum putusan ini, anak yang berusia 8 tahun hingga 18 tahun diberikan tanggung jawab pidana sesuai dengan UU No 3/1997 tentang Pengadilan Anak. Dalam amar pertimbanganya, MK menilai perlu menetapkan batas umur bagi anak untuk melindungi hak konstitusional anak terutama hak terhadap perlindungan dan hak untuk tumbuh dan berkembang. Bahwa penetapan usia maksimal 12 tahun sebagai ambang batas usia pertanggungjawaban hukum bagi anak telah diterima dalam praktik sebagian negara-negara.”

Dari dua kecelakaan yang melibatkan anak golongan jetset ini, pun memiliki persamaan. Persamaan yang paling mencolok adalah kecelakaan sama-sama terjadi di Tol Jagorawi. Jalan Tol pertama yang dioperasikan oleh Jasa Marga pada tahun 1978 dengan total 59 km ini, menghubungkan antara Jakarta, Cibubur, Citeureup, Bogor, serta Ciawi. Pengoperasian Jagorawi menjadi tonggak sejarah kelahiran PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai perusahaan pengembang dan operator jalan tol di Indonesia. Saya yakin, setela tulisan ini, ada hal mistis yang bisa diurai dari Tol Jagorawi sehubungan kecelakaan anak berduit.

Berbagai sumber

 

Komentar
Loading...