Kenapa Jemaah di Masjid Dilarang, Aktivitas Pasar Tidak?

Masjid Dilarang, Aktivitas Pasar Tidak

Keadilan itu asasi bagi manusia. Siapapun, yang merasa ketidakadilan menimpanya, dia pasti akan berontak dengan caranya masing-masing. Aktivitas masjid dilarang, tapi pasar tidak, apakah itu adil? Umumnya, orang akan melihat hal itu dari kesamaan manfaat yang dirasakan, atau kesamaan mudharat yang diterima.

Dalam rangka mencegah penyebaran Covid 19, social distancing diperlukan. Kontak fisik, dan jaga jarak antara satu dengan yang lain diwajibkan. Itulah sebabnya, berjamaah di masjid dilarang, karena di sana rentan kontak fisik.

Sampai di sini dipahami, bahwa pelarangan itu dalam rangka mencegah penyebaran

Masjid dilarang, aktivitas pasar tidak; logika yang mudah dibantah

Sebuah kebijakan yang tidak logis akan sangat mudah ditemukan kelemahannya. Apalagi jika kebijakan itu tidak adil! Demikian halnya dengan pelarangan aktivitas di masjid yang berbeda dengan kebijakan atas pasar.

Biasanya di pasar besar, pasar sentral misalnya, ada masjidnya. Jika jemaah di masjid dilarang, tapi aktivitas pasar tidak dilarang, pertanyaannya, bolehkah berjamaah di masjid pasar atau masjid di lingkungan pasar?

Kalau boleh, oke kita ramaikan masjid pasar! Artinya, tidak semua masjid dilarang untuk berjamaah, masjid pasar boleh tidak dilarang.

Kalau tidak boleh, berarti kebijakan itu memang khusus untuk masjid, meski masjid itu berada di pasar. Masjid tak boleh berkerumun, tapi pasar boleh!

Logika kedua, kita balik. Karena aktivitas di pasar tidak dilarang, dan aktivitas masjid dilarang, bolehkah masyarakat membuka pasar di area masjid?

Kalau boleh, oke masjid akan ramai. Habis jual beli, mereka akan masuk ke dalam masjid. Kalau tidak boleh, berarti memang aneh dan tidak logis masalah ini.

Baca: fallacy dan kesalahan berpikir

Beddu tidak ke masjid karena jemaah dilarang untuk sementara menghindari penyebaran virus Corona. Karena pasar terbuka, dia ke pasar menjual. Datanglah pembeli yang terinfeksi. Terjadi kontak, dan Beddu terjangkit.

Beddu terhindar dari penularan corona virus karena kebijakan bagus pelarangan jemaah di Masjid. Namun Beddu akhirnya terpapar. Bukan dari masjid tapi dari pasar.

Membantah tulisan pembelaan masjid ditutup tapi pasar tidak

Ada beberapa tulisan pembelaan atas kebijakan aktivitas masjid dilarang tapi pasar tidak. Bagi penulis, tak ada satupun tulisan yang bisa menjadi pembenaran tanpa mengorek rasa ketidakadilan kita sebagai manusia.

Saya coba membantah tulisan dari Ahmad Anshori LC. Artikelnya tayang di situs konsultasisyariah dot com.

Pertama, dia mengatakan bahwa menganalogikan pasar dengan Masjid, adalah bentuk perendahan kepada kemuliaan masjid

Jawab: analogi terjadi karena kesamaan potensi penularan wabah Covid 19, yaitu interaksi, kontak fisik dan kerumunan. Masjid dan pasar potensinya sama. Jadi bukan kita yang menganalogikan.

Jika sudah tahu bahwa masjid lebih mulia dibanding pasar, tapi kok membiarkan kebijakan yang tak adil atas masjid. Mestinya, jika masjid lebih mulia, maka kita menempatkan sesuatu kepadanya berdasarkan kemuliaan itu.

Kedua, masjid masih ada pengganti, sementara pasar tidak.

Jawab: Keliru! Masjid memang bisa diganti misal dengan shalat di rumah sehinga tidak terjadi kerumunan, tidak terjadi kontak fisik, menghindari corona virus, tapi pasar juga demikian!

Bentuk pasar yang umum bertemunya penjual dan pembeli sehingga menghasilkan kerumunan juga bisa diganti. Mungkin dia tidak familiar dengan pasar dan belanja online.

Ketiga, konsentrasi masa di masjid, sifatnya berulang setiap hari, sementara di pasar, tidak

Jawab: konsentrasi massa di masjid meski berulang, tapi isinya cenderung terdata, diketahui dengan baik. kalau toh ada tambahan, akan segera ketahuan. Jemaah hari ini, esok, subuh, dzuhur, dll, ketahuan siapa dan dari mana. Beda dengan pasar!

Opini Terkait
1 daripada 302

Orang belanja ke pasar tidak setiap hari, cukup sepekan sekali atau dua pekan sekali, tapi siapa yang datang tidak diketahui secara keseluruhan. Yang kita tahu hanya penjual dan pembeli.

Penjual asal dari Wuhan dan pembeli asal Indonesia kita tidak tahu, dan tak ada petugas khusus untuk mendata penjual, terutama di pasar tradisional.

Dari sisi bahaya penularan covid 19, kira-kira kondisi mana yang berbahaya?

Baca: cara berpikir buntu kullu menghadapi Corona

Keempat, physical distancing sangat susah dilakukan di masjid, sementara di pasar lebih mudah.

Jawab: justru physical distancing di masjid lebih mudah diatur. Di masjid ada imam, ada komandan. Beda dengan pasar! Siapa komandannya, siapa yang mereka dengar?

Di pasar, ada interaksi berdesakan, ada proses tawar, ada proses tukar, dan kesemuanya cenderung menggunakan kontak fisik. Beda dengan di masjid!

arawih masjid nabawi di tengah corona
Suasana Tarawih di Masjid Nabawi malam pertama Ramadhan. Sumber poto @SPAregions ini Twitter

Solusi jemaah dilarang, aktivitas pasar tidak!

Hal yang paling berat dari dua hal ini tiada lain masalah ekonomi, masalah kebutuhan pokok, masalah mau makan apa.

Miris mendengar para penjual di pasar yang akan melakukan perlawanan jika pasar ditutup seperti halnya masjid. Dalam pikiran mereka, kita mau makan apa. Bukankah, tak makan, berarti mati?!

Corona virus dianggap mematikan, tapi itu belum nyata bagi mereka. Beda dengan tidak makan yang bagi mereka itu nyata. Sehingga mereka lebih mengantisipasi kemungkinan tidak makan dibanding kemungkinan karena Corona.

Ada ketakutan dalam hati mereka akan bahaya Corona, tapi mereka harus menyelesaikan yang mereka hadapi sekarang; perut sakit karena kelaparan.

Lalu bagaimana solusinya?

Jangan bicara solusi, jika pikiran Anda masih menganggap situasi ini normal. Ingat, situasi ini tidak bahkan jauh dari batas normal. Dengan demikian, solusinya tentu sedikit ngeyel menyiksa.

Pertama, buka pasar semi online. Setengah online. Kenapa harus setengah karena tidak semua masyarakat akrab dengan sistem belanja online.

Sistemnya bisa memanfaatkan zoom meeting atau video ceonfrence, bisa juga melaluit tv kabel. Hanya penjual yang ada di pasar, itupun sedapat mungkin dibatasi.

Pada jam tertentu masyarakat mengakses zoom meeting video untuk melihat barang apa yang tersedia, harganya berapa, dst.

Proses tukar menukar dilakukan melalui delivery. Dengan cara ini, dipastikan tak ada kontak fisik, tak ada kerumunan, tak ada penyebaran.

Kedua, para penjual menjajakan barang jualannya di depan rumah masing-masing. Dengan sendirinya mereka terurai, tidak bergabung dalam satu tempat.

Ketiga, kebutuhan pokok ditanggung pemerintah secara total. Sehingga meski pasar ditutup, masyarakat tak perlu khawatir mau makan apa.

Keempat, biarkan pasar terbuka seperti biasa dan masjid terbuka seperti biasa. Mari kita lihat, penularan Corona ini dari masjid atau dari pasar. Biar tidak ada lagi fitnah nantinya.

Baca: modifikasi pasar di tengah pandemi Corona

Terakhir saya ingin mengatakan bahwa, saya ikut ulama dengan fatwa pelarangan terkait ibadah. Tulisan ini hanya memperingatkan kondisi dan mungkin bahaya jika bertindak tidak adil kepada orang lain.

Komentar
Loading...