Kesalahan Caleg; Mengalihkan Perhatian Pemilih

Kesalahan Caleg

Seperti pembahasan saya dalam tulisan lalu. Ada tiga tingkat, agar pemilih menjatuhkan pilihannya pada caleg saat di TPS. Perkenalan, perhatian, dan rasa memberi manfaat. Ketiganya terangkai menjadi satu kesatuan. Dalam artian, fase perkenalan jangan sampai merusak fase menarik perhatian, begitu pula sebaliknya. Hal ini berlaku untuk pemilih raisional dan pemilih irasional.

Banyak caleg sedikit berbeda memahami fase perkenalan dan menarik perhatian. Maksud hati ingin menarik perhatian, justru mengalihkan perhatian pemilih. Hal ini tentu sangat teoretik.

Para caleg bisa saja protes, “ah di lapangan faktanya berbeda bung!”. Okelah, namun apa yang saya akan ungkapkan bisa juga digunakan pada hal-hal lain, tidak semata-mata urusan caleg saja.

Ada beberapa kesalahan caleg niat menarik perhatian, justru mengalihkan perhatian pemilih, kesalahan itu terkadang tidak disadari, sehingga membuat salah mengkalkulasi tabulasi sementara perhitungan tim.

Pertama: caleg yang ingin terlihat pintar, namun dengan cara yang salah. Cara salah yang paling umum adalah menggunakan kata/ kalimat mengesankan bak ingin dikatakan pintar, istilah ilmiah, tapi sulit dipahami. Bahkan penggunaan istilah orang pintar itu, cenderung membuat pemilih pindah ke lain hati. Semakin asing kata yang digunakan, maka semakin jauh keberhasilan memengaruhi pemilih, demikian pula sebaliknya.

Otak manusia secara umum adalah pemalas. Memilih atau memutuskan memilih, adalah perbuatan sederhana yang tidak membutuhkan energi yang besar. Pada tingkat alam bawah sadar, manusia mengambil keputusan berdasarkan pada seberapa mudah atau sulitnya sesuatu dipikirkan. Itulah sebabnya, menggunakan komunikasi yang sulit dipahami, justru menyiksa dan membuat capek pemilih sehingga mengalihkan perhatian mereka.

Kedua: kedua menjelekkan, menyudutkan lawan, atau kawan, meski tidak terkait dengan konteks pemilu. Dalam bahasan agama, apa yang diajarkan Nabi saw benar adanya. Sesuatu yang tidak baik akan menghasilkan yang tidak baik. Gibah, adalah membicarakan seseorang meski benar adanya, dan itu tidak baik. Menjelekkan, menyudutkan lawan, kawan, meski tidak terkait dengan konteks pemilu, adalah bagian dari gibah, dan hasilnya pasti tidak baik.

Saya pernah mendengar teman bercerita membicarakan kekurangan caleg lain. Caleg bahan pembicaraan itu, bukan seterunya, lawan bicaranya juga demikian. Namun tanpa sepengetahuan, ternyata kekurangan orang yang dibicarakan adalah salah satu keluarga dekat dari pendengar. Pendengar itu awalnya simpatisan, akhirnya akibat menceritakan kekurangan orang, akhirnya dia beralih.

Opini Terkait
1 daripada 304

Pada tingkat bawah sadar, manusia ternyata lebih mudah merasakan kekurangan seseorang dibanding merasakan kelebihannya. Menyamakan kemudahan dengan kesulitan dengan asumsi keakraban itu boleh saja, namun jangan sampai dengan melakukan perbuatan tidak baik, seperti menjelekan, menyudutkan orang lain. Akibatnya akan fatal, karena kesalahan ini justru mengalihkan bahkan mengalihkan perhatian pemilih.

Ketiga: perubahan drastis. Semua orang butuh perubahan, karena perubahan adalah hukum alam. Tak ada sesuatu yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perhatikan masyarakat pemilih, meski roda pemerintahan sudah baik, selalu saja mengharapkan perubahan, dengan asumsi perubahan yang lebih baik.

Para caleg harus cerdas menangkap hal ini, karena perubahan bisa pula dimaknai dengan hal baru, karena hal baru itu adalah perubahan. Namun, jangan sama sekali berubah secara drastis. Tidak pake jilbab, tapi karena nyalon, eh instant memakai jilbab. Tidak salah, tapi membuat pemilih curiga.

Perubahan yang instant, tiba-tiba, secepat kilat, justru akan menimbulkan kecurigaan. Alam bawah sadar manusia juga lebih cepat mencurigai daripada berpikiran positif, karena itulah, dalam hukum positif, asas praduga tak bersalah selalu ditekankan.

Masih ada kesempatan untuk berubah. Tiga kesalahan caleg yang justru mengalihkan perhatian pemilih masih bisa diantisipasi;

kesalahan para calegPertama: hentikan penggunaan istilah asing, ilmiah atau serapan dalam setiap aktivitas kampanye Anda. Kepintaran tidak diukur dari kecanggihan kalimat yang digunakan. “Jika kamu tidak dapat menjelaskannya dengan cara sederhana, kemungkinan kamu tidak memahaminya dengan cukup baik (Albert Einstein)”;

Kedua: hentikan menjelekkan orang lain, entah kawan atau lawan. Biarkan kejelekan itu menjadi strategi mereka yang tidak mengharap kebaikan bersama;

dan Ketiga: maknai perubahan dengan hal baru. Berubah bukan berarti mengganti. Dalam kacamata perhatian pemilih, menarik perhatiannya, cukup dengan kemampuan caleg memberikan harapan akan hal baru ke depannya.

 

Komentar
Loading...