Perbedaan Kesenangan, Kegembiraan dan Kebahagiaan

Kesenangan, Kegembiraan dan Kebahagiaan

Sedikit filosofis, itulah opini di malam akhir pekan ini. Teman saya menelepon, katanya setelah dari pasar malam, dia sangat senang. Kata senang yang digunakan, mungkin hanya untuk mewakili kata gembira dari apa yang dialaminya. Kesenangan dan kegembiraan adalah dua kata mirip, tapi sebenarnya berbeda secara substansial.

Kebanyakan dari kita biasanya terjebak dalam perasaan kesenangan inderawi murni. Padahal begitu banyak ragam kesenangan lainnya; kesenangan mental dan kesenangan emosi. Kita menyebut, cinta, humor sebagai perasaan menyenangkan dan menyebut, marah, benci, tamak sebagai simbol ketidaksenangan.

Kesenangan tiap individu berbeda satu sama lain. Bagi para akademisi, kesenangan yang dipahaminya cenderung berupa kesenangan intelektual. Bagi pedagang, kesenangan akan didapatkan pembeli datang. Dan seterusnya.

Apa sih kesenangan itu?

Adler, seorang psikolog yang paling banyak dikutip pendapatnya di abad 20 mengatakan “setiap tidakan sukarela diawali oleh perasaan kurang yang penyelesaiannya menghasilkan rasa tenang, puas dan utuh.”

Dengan demikian perasaan senang berawal dari perasaan kurang yang paling mendasar. Karakteristik dasar dari kesenangan awalnya dari perasaan ketiadaan. Kesenangan sangat dipengaruhi keinginan inderawi.

Kegembiraan itu apa?

Berbeda dengan kesenangan, kegembiraan tidak tergantung pada objek luar diri atau emosi dalam diri. Lho?…. Kegembiraan adalah keadaan yang seimbang atau keseimbangan perasaan. Kegembiraan itu berdiri sendiri. Kegembiraan adalah kedamaian yang tak terlukiskan. Kegembiraan adalah kedamaian yang melampaui pemahaman. Akal beristirahat. Saat kegembiraan datang, ada perasaan ringan melayang-layang dan tidak menggiring untuk bertindak.

Opini Terkait
1 daripada 10

Deskripsi singkat akan kesenangan dan kegembiraan tersebut, mengindikasikan bahwa keduanya berada di luar pedoman. Terdapat unsur kegembiraan dalam tiap kesenangan, dan kesenangan adalah potongan-potongan kebahagiaan. Semua manusia memiliki impian akhir, yaitu bahagia. Ketika sejumput kebahagiaan hadir dalam bentuk kesenangan, pertahankan, maka tak lama lagi akan menjadi kebahagiaan yang utuh.

Thomas Merton penulis esai yang tak terhitung jumlahnya saking banyaknya berkata, “Jangan cari kebahagiaan di antara serpihan kesenangan, karena kalian diciptakan dalam kebahagiaan. Jika belum tahu perbedaan antara kebahagiaan dan kesenangan, maka bergembirlah.” Ungkapan manis ini mengindikasikan bahwa antara kesenangan dan kegembiraan terdapat makan yang mewakili perasaan bahagia, meski kebahagiaan itu berdiri sendiri.

Apa itu Kebahagiaan?

Seorang pedagang, saat pembeli datang dia senang. Saat dia mendapat keuntungan berlipat dia gembira. Kesenangan dan kegembiraan berhasil dia capai. Tapi apakah dia bahagia? Belum tentu!

Rockefeller, seorang Triliuner yang sepanjang hidupnya mengejar kekayaan, namun setelah menjadi Triliuner, semuanya itu tak lagi berarti.  Di usianya yang sudah 97 tahun, ia hanya ingin agar dicukupkan hidupnya menjadi 100 tahun.  Ternyata harta telah dia kejar puluhan tahun tidak mampu untuk itu. Dia kecewa. Kesenangan dan kegembiraan yang dia dapatkan melalu kekayaan hilang dengan kekecewaan.

Buya Hamka ulama sekaligus sastrawan terkenal Nusantara mengatakan bahwa kebahagiaan hanya bisa didapatkan dari sesuatu yang tidak ada habisnya, iman, dan syukur. Bagaimana pun kondisi orang tersebut. Sesuatu yang tidak ada habisnya adalah ilmu.

Mungkinkah orang berharta merasakan bahagia? Bisa saja, asal dia berilmu, atau memanfaatkan hartanya untuk mendapatkan ilmu. Syarat itu mesti dibarengi rasa iman dan syukur. Tentu, dibutuhkan banyak latihan untuk menggapai kebahagiaan, yang tidak bergantung pada kesenangan.

Kesenangan, Kegembiraan dan kebahagiaanAgama mengajarkan kita, dengan tafakkur, doa, sembahyang, dan cara lain untuk mengejar ketenangan diri. Tujuannya membebaskan diri dari dorongan, keinginan, dan nafsu inderawi ketika mengejar kesenangan. Latihan itu, kelak menjadi kebutuhan menggembirakan.

Perintah Tuhan yang awalnya mengikat, kemudian menjadi hal yang menggembirakan, maka kegembiraan itu adalah keadaan wajar kita, bukan acuh atau diam. Marilah kita tetap gembira, karena tak ada alasan untuk menolak sesuatu yang baik bagi kita. Gembira adalah fitrah. Sisakan sedikit waktu untuk tafakkur dan menjadikannya kegembiraan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Loading...