Ketika Lembaga Pendidikan Mulai Abu-Abu

  • Bagikan
Kisruh Ujian Nasional3

Siang itu di sekolah, tiba-tiba semua guru diharapkan ke ruang dewan guru. “Ada rapat mendadak”. Kata wakil Kepala Sekolah.

Berjalan, sebenarnya bukan rapat, namun pertemuan dengan Pengawas satuan pendidikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten.

“Ada tiga masalah yang akan kita sampaikan dan membuka ruang interaksi,” kata pengawas perempuan itu membuka pembicaraanya.

Penyampaian awal hanya sekedar ucapan selamat selepas melaksanakan Ujian Nasional dan Ujian Semester. Pembahasan dan penyampaian kedua adalah masalah sertifikasi guru yang hampir semua sekolah terkendala oleh masalah jumlah jam mengajar seperti yang telah ditetapkan. Ketentuan jumlah jam mengajar guru yang minimal 24 jam mengajar perpekan adalah masalah nasional, penyebabnya sangat sederhana, kesemrawutan pembagian dan penempatan pegawai khususnya guru di sekolah.

“Banyak hal yang bisa dilakukan, yah kalau bisa dengan jalan lurus, tapi kalau tidak bisa sedikit bengkok juga tidak apa-apa.”

Hampir semua guru terkejut dengan bahasa seperti itu. “Naudzubillah,” terdengar suara dari sisi kiri dan kananku.

Penyampaian ketiga, arahan seputar kenaikan kelas.

“Tidak usah pelit memberi nilai kepada siswa, kalau nilainya tidak cukup dan tidak mencapai KKM, ya tambah sampai cukup dong.”

Dengan sedikit menceritakan pengalamannya ketika menjadi guru, pengawas itu berkata, “saya kalau belanja ke pasar sentral, banyak yang menyapa saya, katanya dia suka saya ketika menjadi gurunya, karena nilainya tak pernah sedikit.”

Kasus di atas, mungkin juga terjadi di sekolah lain. Sebuah gejala kompleks dan tidak taat aturan merasuk ke sebuah satuan pendidikan. Target mendapatkan dana dari program sertifikasi mulai didekati dengan cara-cara yang tidak benar, dan kompleksitas masalah peserta didik, juga diselesaikan dengan hak mutlak guru tanpa melihat pencapaian sebenarnya.

Lembaga pendidikan yang semestinya menjadi tumpuan pembinaan moral sedikit demi sedikit tergerus oleh ketidaksiapan bersikap fleksibel dengan keadaan yang ada. Jika terus menerus seperti ini, maka lembaga pendidikan akan masuk ke area abu-abu. Warna tak jelas antara hitam dan putih. Sekolah menjadi tempat yang tak jelas, membawa kebenaran atau mengajarkan kebatilan.

Bisa dibayangkan, jika masalah kebenaran dan kebatilan sudah tidak jelas lagi. Maka sulit mengambil keputusan akan melakukan apa. Lembaga pendidikan yang luntur mengajarkan kebenaran dan moral baik, kelak dinilai tak jelas, samar, dan pastinya tak bisa diandalkan. Lembaga pendidikan yang abu-abu adalah lembaga pendidikan yang tentunya tidak bisa diklaim melahirkan peserta didik baik dan tidak bisa pula dinilai melahirkan peserta didik yang jahat.

Bagaimanapun, dan meski sulit, lembaga pendidikan seharusnya bebas dari nuansa abu-abu, bebas dari permainan licik untuk mencapai tujuan, seperti apapun kecilnya. Sebab dalam pembinaan moral, tak ada celah untuk sebuah kompromi jahat, meskipun dalam bahasa “tidak ada jalan lain.”

Menarik jika melihat pernyataan Shrugged, “dalam kompromi apapun, makanan dan racun, hanya bisa menghasilkan penyakit dan kematian.” Dalam kompromi baik dan jahat, hanya yang jahat yang akan mendapatkan kemenangan, karena sesuatu yang tidak baik akan menghasilkan tidak baik pula.

  • Bagikan