Keunikan Gigi; Belajar dari Jatuhnya Pesawat Sukhoi

  • Bagikan
keunikan gigi

Sepulang sekolah saya tidak langsung istirahat seperti biasanya, tapi mencari referensi dari pertanyaan siswa tadi yang tak sempat kujawab dengan baik. “Semua yang disebutkan dalam al-Quran memiliki hal yang sangat unik.”

Seorang siswa mengacungkan tangan. “Apa keunikan gigi, kalau gitu pak?”. Saya berpikir sejenak dan tak tahu jawaban pastinya. “Memang ada kata gigi dalam al-Quran?”. Tanyaku, dan siswa itu, ikut terdiam.

Ada rasa bersalah dalam hati, karena kutahu bahwa di dalam al-Quran disebutkan kata gigi dalam surah al-Maidah ayat 45.

Rasa bersalah itulah membuatku berusaha mencari keunikan gigi menjawab keyakinan bahwa kata benda yang disebut dalam al-Quran memiliki keunikan khusus. Lama, sampai kutemukan lembaran peristiwa jatuhnya pesawat Sukhoi tahun lalu. Lembarannya cukup banyak, persisi sama dengan lamanya penyangan seputar peristiwa itu.

Untuk dapat mengenali korban jatuhnya pesawat Sukhoi karena menabrak badan gunung sehingga pesawat hancur secara cepat tepat, dan efisien, adalah dengan proses DVI, yaitu mengambil data rekaman gigi geligi semasa hidup atau disebut anti mortem, kemudian dicocokkan dengan gigi geligi dari korban yang ditemukan atau disebut post mortem. Cara ini adalah salah satu cara selain pengambilan dan pemeriksaan DNA dari korban.

Mendapatkan contoh gigi dari dari korban pesawat Sukhoi ternyata lebih mudah daripada menemukan tulang. Ternyata hal ini disebabkan karena gigi adalah bagian tubuh yang paling keras dari semua bagian tubuh manusia termasuk tulang.

Dari permukaan gigi yang keras, terdapat identitas pribadi, analog dengan DNA. Secara umum, setiap individu memiliki 32 gigi, dan setipa gigi memiliki 3 permukaan berbeda, sehingga terdapat 150 variasi permukaan gigi yang berbeda antara individi satu dengan yang lain.

Mungkin banyak seperti sikap saya selama ini, menganggap penyakit gigi adalah hal biasa saja. Bahkan lebih diperparah lagi banyak yang mengambil jalan pintas dengan mencabutnya. Padahal memelihara gigi menurut dokter sangat sederhana, sedini mungkin membiasakan menyikat gigi setelah makan dan sebelum tidur.

 

Belajar dari jatuhnya pesawat Sukhoi mengenai keunikan gigi, juga menyiratkan dua hal, yaitu

1) Betapa pentingnya merawat gigi, sebab jika gigi geligi seorang individi terlanjur rusak berat dan harus dicabut, maka sudah tentu tidak ada lagi salah satu cara mengidentifikasi korban melalui anti mortem dan post mortem tadi;

2) gigi adalah anugerah tuhan yang Maha Kuasa, dan memiliki keunikan tertentu, untuk mensykuri nikmat Tuhan ini, kita hanya diperintahkan untuk memeliharanya, setidaknya bisa membantu orang lain.

  • Bagikan