Kisah Khalifah yang Kalah di Pengadilan Kekuasaanya

Kisah Khalifah Kalah di Pengadilan

Suatu waktu baju besi milik Khalifah Ali bin Abi Thalib ra terjatuh dari untanya yang ditungganginya. Baju besi itu dipungut oleh seorang Yahudi. Saat Khalifah Ali bin Abi Thalib ra hendak menggunakan baju besinya, dia melihat baju besi itu ada ditangan seorang yahudi. Khalifah Ali bin Abi Thalib ra lalu meminta, tentu ditolak, dan yahudi itu mengaku bahwa baju besi itu miliknya.

Karena Khalifah Ali bin Abi Thalib ra tidak bisa membuktikan saat itu, dan karakternya yang tidak suka berdebat, akhirnya keduanya sepakat agar masala itu diselesaikan di pengadilan saja. Keduanya berharap, agar baju besi itu menjadi milik mereka dan keputusan itu keluar dari pengadilan.

Sebagai amirul mukmini, khalifah, penguasa (kalau sekarang mungkin Presiden atau Raja), tentu kasat mata, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra akan memenangkan sengkat di pengadilan nanti. Namun, Ali menunjukan hal berbeda. Dia datang ke persidangan sebagai rakyat biasa. Tidak ada pengawalan dan tidak membawa pendukung. Ia memang Amirul Mukminin, tapi pantang baginya mempengaruhi hakim dalam rangka memenangkan perkaranya. (Baca: 4 Bukti ketinggian ilmu Ali bin Abi Thalib)

Di pengadilan, hakim Syuraih berkata kepada Ali: Untuk menguatkan tuntutan anda, bawalah dua orang saksi yang benar-benar bisa memberi keterangan meyakinkan bahwa baju besi ini memang milik Anda. Ali pun akhirnya mengajukan pembantunya bernama Qundur dan puteranya, Sayyidina Hasan.

Hakim Syuraih berkata, “Saya bisa menerima kesaksian Qundur, tetapi tidak bisa menerima kesaksian Hasan karena Hasan adalah putra Anda.”

Tidak diterima kesaksian seorang putera untuk perkara ayahnya. Ali lalu berkata, “Tidakkah engkau mendengar bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda Hasan dan Husein adalah penghulu/pemimpin di Surga?”

Dengan suara yang lembut tapi penuh wibawa, Syuraih menjawab, “Ya, memang benar, tapi saya tetap tidak bisa menerima kesaksiannya, karena dia anak Anda. Sebagai manusia, rasa, hubungan batin orang tua dan anak akan mempengaruhi kesaksian.

Kalah saksi, Syuraih memutuskan bahwa baju besi itu adalah milik si Yahudi. Ia memenangkan orang Yahudi itu atas Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra sebab bukti-bukti menunjukkan demikian.

Apakah Khalifah Ali bin Abi Thalib ra marah? Tidak! Ali menerima keputusan itu dengan lapang hati. Sulit dipercaya. Tapi kebijaksanaan itulah yang membuat Yahudi tersebut lalu sadar dan membaca dua kalimat syahada.

Kisah kebijaksanaan khalifah islam yang kedua ditunjukan Sultan Muhammad Al-Fatih, dia adalah Penakluk Konstantinopel tahun 1453. Setelah ditaklukan, konstantinopel pun diubah menjadi ibukota Utsmaniyah.

Opini Terkait
1 daripada 304

Suatu ketika, saat khalifah merencakan mendirikan masjid di ibukota, Sultan Muhammad Al-Fatih pun menugaskan hal itu kepada Epsalanti, seorang praktisi Romawi. Praktisi ahli bidang bangunan ini non muslim. Salah satu perintah Sultan, bahwa tiang-tiang masjid Jami itu mesti dibuat dari bahan marmer. Tiang-tiang itu juga harus dibuat tinggi, agar masjid bisa dilihat dari berbagai penjuru. Sultan Al Fatih pun menentukan batas ketinggian yang harus dicapai itu. Perintah itu langsung ditujukannya kepada Epsalanti.

Akan tetapi dalam proses pembangunannya, Epsalanti malah memotong tiang-tiang itu. Hingga ketinggian tiang Masjid itu tak seperti yang dipesan oleh Sultan. Epsalanti bersikap demikian karena suatu sebab pengetahuan yang dipahaminya. Ketika Sultan mengetahui hal itu, dia marah besar. Epsalanti dianggap melakukan pencurian karena mengurangi ketinggian tiang-tiang tadi. Sultan Al Fatih pun memerintahkan agar tangan Epsalanti dipotong.

Keputusan itu membuat Epsalanti tidak terima. Alhasil dirinya pun mengadukan Sultan Muhammad Al-Fatih Mahkamah pengadilan Isti’naf waktu itu. Di Mahkamah Syaikh Shari Khidr Jalabi, memimpin sidang. Dia di kenal sebagai hakim yang sangat adil. Qadhi mengutus orang untuk memanggil Sultan Muhammad Al-Fatih. Mendapat panggilan dari qadhi, Sultan tak ragu menghadiri pengadilan itu.

Ketika hari persidangan, Sultan Muhammad Al-Fatih pun masuk ke ruangan sidang. Sultan Al Fatih kemudian duduk di barisan tempat duduk yang disediakan. Tapi sikap Sultan itu kemudian dihardik oleh qadhi Syaikh Shari Khidr Jalabi.

“Anda tidak boleh duduk, Engkau harus tetap berdiri di samping lawan engkau itu tuan” tegas Qadhi lagi. Sultan Muhammad al-Fatih pun menurut. Sosok yang begitu disegani oleh belantara Eropa, diam seribu bahasa didepan sang Qadhi. Karena dia sangat mematuhi hukum Islam.

Keduanya kemudian membeberkan argumentasi masing masing. Qadhi Syakh Shari Khidr Jalabi berpikir sejenak. Tidak lama kemudian Qadhi itu mengeluarkan vonisnya. “Berdasarkan aturan-aturan Syariat, maka tangan Engkau juga harus dipotong sebagai bentuk qishash, wahai Sultan!”

Sultan Muhammad Al-Fatih tidak terkejut, yang terkejut justru sang insinyur ketika mendengarkan putusan itu. Dia tak menyangka, seorang Sultan Islam, yang menunjuk Qadhi itu sebagai hakim, malah dikenakan hukuman potong tangan oleh qadhi itu sendiri. Tubuh Epsalanti sampai bergetar mendengar putusan qadhi itu, atas kasus yang dilaporkannya. Epsalanti sama sekali tak menyangka vonis seperti itu yang bakal dikeluarkan oleh qadhi. Padahal niat awal Epsalanti adalah dia menuntut ganti rugi karena tangannya telah dipotong.

Epsalanti kemudian bangkit. Dengan suara gemetar, tercekak dan terbata-bata, dia malah memutuskan untuk menarik kasusnya itu. “Saya tak menyangka hasilnya seperti ini, saya memutuskan untuk menarik pengaduan saya terhadap Sultan,” tutur Epsalanti terbata-bata.

***

Sangat sulit menemukan pemimpin seperti khalifah Ali bin Abi Thalib dan Sultan Muhammad al-Fatih. Keduanya adalah penguasa pada zamannya. Hakim, qadhi adalah bawahannya, tapi mereka tidak mengintervensi sedikitpun putusan pengadilan melalui hakim, meski keputusan itu secara kasat mata merugikan khalifah.

Banyak hikmah dari dua kisah khalifah ini. Setidaknya, hal penting bahwa kedua khalifah ini tidak menganggap keputusan hakim merugikan mereka. Tapi mereka berkeyakinan, apapun keputusan hakim dengan menetapkan hukum islam, kebaikannya akan menimpa siapa yang menegakkannya

Komentar
Loading...