Kisah Wanita yang Dipaksa Menikah

Kisah Wanita yang Dipaksa Menikah

Ilustrasi

Kisah, cerita, adalah jalan terbaik untuk dijadikan pelajaran, karena guru yang paling berharga adalah pengalaman. Seperti kisah seorang wanita yang dipaksa menikah berikut ini. Dia seorang wanita  yang menceritakan kenangan masa lalunya yang tak terlupakan.

Namanya Nayrah Insani. Orang biasanya memanggil dengan Nayra. Tahun 2011, Nayra dipaksa menikah oleh orang tuanya dengan seorang pria, namanya Mulyadi. Kak Mul, sapaan akrab Mulyadi adalah seorang lelaki yang tinggal sekampung dengan Nayra. Kak Mul seangkatan dengan kakakku saat sekolah dulu. Usia mereka terpaut 4 Tahun. Nayra tak tahu banyak tentang Kak Mul kecuali bahwa dia seorang anak yang taat kepada orang tuanya dan juga rajin ibadah. Tabiatnya yang seperti itu terbawa-bawa sampai ia dewasa. Nayra merasa risih sendiri dengan dia  apabila berpapasan di jalan, sebab sopan santunnya sepertinya terlalu berlebihan pada orang-orang.

Setiap ada acara-acara ramai di kampung, Kak Mul tak pernah kelihatan bergabung sama teman-teman seusianya. Yaah, pasti kalau dicek ke rumahnya pun gak ada, orang tuanya pasti menjawab “Kak Mul di mesjid nak, menghadiri taklim”.

Kak Mul sering menghabiskan waktunya membantu orang tuanya jualan, kadang terlihat bersama bapaknya di kebun atau di sawah. Meskipun kadang sebagian teman sebayanya menyayangkan potensi dan kelebihan-kelebihannya yang tidak tersalurkan. Secara fisik memang Kak Mul hampir tidak sepadan dengan ukuran ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Sebab kadang gadis-gadis kampung suka menggodanya kalau Kak Mul dalam keadaan rapi menghadiri acara-acara di desa.

Tapi bagi Nayra sendiri, itu adalah hal yang biasa-biasa saja, sebab dia merasa bahwa sosok Kak Mul adalah sosok yang tidak istimewa. Apa istimewanya menghadiri taklim, kuper dan kampungan banget. Kadang hatinya sendiri bertanya,

“Koq bisa yah, ada orang yang sekolah di kota namun begitu kembali tak ada sedikitpun ciri-ciri kekotaan melekat pada dirinya, HP gak ada. Selain bantu orang tua, pasti kerjanya ngaji, salat, taklim dan kembali ke kerja lagi. Seolah ruang lingkup hidupnya hanya monoton pada itu-itu saja, ke biosokop kek, ngumpul bareng teman-teman kek setiap malam minggunya di pertigaan kampung yang ramainya luar biasa setiap malam minggu dan malam Kamisnya.”

Waktu terus bergulir dan seperti gadis-gadis modern pada umumnya yang tidak lepas dengan kata Pacaran, Nayra pun demikian. Dia sendiri memiliki kekasih yang begitu sangat aku cintai, namanya Boby. Masa-masa indah katanya dilewati bersama Boby. Remaja yang indah berbalut bisikan setan. Kedua orang tua Boby sangat menyayangi Nayra dan sepertinya memiliki sinyal-sinyal restu atas hubungan mereka.

Hingga musibah itu tiba, Nayra dilamar oleh seorang pria yang sudah sangat dia kenal. Yah siapa lagi kalau bukan si kuper Kak Mul Orang tua Kak Mul melamar Nayra untuk anaknya yang kampungan itu.

Mendengar penuturan mama saat memberitahu pada Nayra tentang lamaran itu, dia merasa dunia ini gelap, kepala pening…, dengan berani Nayra menolak permintaan lamaran itu dengan tegas dan terbelit-belit disampaikan langsung pada kedua orang tuanya bahwa dia menolak lamaran keluarganya Kak Mul. dan dengan terang-terangan pula dia sampaikan bahwa telah memiliki kekasih pujaan hati, Boby.

Mendengar semua itu ibu Nayra shock dan jatuh tersungkur ke lantai. Nayra tak menduga kalau sikap yang egois itu akan membuat mamanya shock. Lama baru Nayra tahu bahwa yang menyebabkan mamanya shok itu karena sudah menerima secara resmi lamaran dari orang tuanya Kak Mul. Hati Nayra sedih saat itu. Dia merasakan dunia begitu kelabu. Dia seperti menelan buah simalakama, seperti orang yang paranoid, tidak tahu harus ikut kata orang tua atau lari bersama kekasih hatinya, Boby.

Akhirnya dengan hati sedih saat itu, Nayra menerima lamaran Kak Mul untuk menjadi istrinya dan Nayra menjadikan malam terakhir perjumpaanku dengan Boby untuk meluapkan kesedihan. Meskipun mereka saling mencintai, tapi mau tidak mau Boby harus merelakan Nayra menikah dengan Kak Mul. Karena dia sendiri mengakui bahwa dia belum siap membina rumah tangga saat itu.

Tanggal 22 Agustus 2011 akhirnya pernikahan Nayra pun digelar. Pernikahan yang begitu menyesakkan dadanya. Air matanya tumpah di malam resepsi pernikahan itu. Di tengah senyuman orang-orang yang hadir pada acara itu, mungkin Nayralah yang paling tersiksa. Karena harus melepaskan masa remaja dan menikah dengan lelaki yang tidak pernah dia cintai. Dan yang paling membuat Nayra tak bisa menahan air mata, mantan kekasihnya Boby hadir juga pada resepsi pernikahan tersebut.

“Ya Allah mengapa semua ini harus terjadi padaku ya Allah… mengapa aku yang harus jadi korban dari semua ini?” Bisiknya dalam hati.

Waktu terus berputar dan malam pun semakin merayap. Hingga usailah acara resepsi pernikahan mereka. Satu per satu para undangan pamit pulang hingga sepi lah rumah. Saat masuk ke dalam kamar, Nayra tidak mendapati suaminya Kak Mul di dalam. Dan sebagai seorang istri yang hanya terpaksa menikah dengannya, maka Nayra pun membiarkannya dan langsung membaringkan tubuh setelah sebelumnya menghapus make-up pengantin dan melepaskan gaun. Nayra bahkan tak perduli kemana suaminya saat itu.

Tiba-tiba di sepertiga malam, Nayra tersentak tatkala melihat ada sosok hitam yang berdiri disamping ranjang tidurnya. Dada Nayra berdegup kencang. Dia hampir saja berteriak histeris, andai saja saat itu dia tak mendengar suara takbir terucap lirih dari sosok yang berdiri itu. Perlahan dia perhatikan dengan seksama, ternyata sosok yang berdiri di sampingnya itu adalah Kak Mul suaminya yang sedang salat tahajud. Perlahan Nayra baringkan tubuhnya sambil membalikkan diri membelakangi suaminya yang saat itu sedang salat tahajud.

“Ya Allah aku lupa bahwa sekarang aku telah menjadi istrinya Kak Mul.” Lirihnya.

Dada Nayra kembali berdetak kencang kala mendapati suaminya. Dia masih belum percaya kalau telah bersuami. Tapi ada sebuah pertanyaaan terbetik dalam benaknya. Mengapa suaminya tidak tidur di ranjang bersamanya. Kalaupun suaminya belum ingin menyentuhnya, paling tidak tidur seranjang. Ada apa ini? ujarnya perlahan dalam hati. Nayra hanya bisa menarik kesimpulan, mungkin malam itu Kak Mul kecapekan sama seperti dia sehingga tidak menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami.

Hari-hari terus berlalu. Mereka pun mejalani aktifitas kami masing-masing, Kak Mul bekerja mencari rezeki dengan pekerjaannya. Sedangkan Nayra di rumah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami bahwa dia telah bersuami dan memiliki kewajiban melayani suaminya. Yah minimal menyediakan makanannya, meskipun kenangan-kenangan bersama Boby belum hilang dari benaknya, dan bahkan masih merindukannya.

Semula Nayra pikir bahwa perilaku Kak Mul yang tidak pernah menyentuhnya dan menunaikan kewajibannya sebagai suami itu hanya terjadi malam pernikahan saja. Tapi ternyata yang terjadi hampir setiap malam sejak malam pengantin itu, Kak Mul selalu tidur beralaskan permadani di bawah ranjang atau tidur di atas sofa dalam kamar. Dia tidak pernah menyentuh istrinya walau hanya menjabat tangannya. Jujur segala kebutuhannya selalu dipenuhinya. Secara lahir suaminya selalu menafkahi Nayra, bahkan nafkah lahir yang dia berikan lebih dari apa yang dia butuhan. Tapi soal biologis, Kak Mul tak pernah sama sekali mengungkit-ungkitnya atau menuntutnya darinya. Bahkan yang tidak pernah dipahami, pernah secara tidak sengaja mereka bertabrakan di depan pintu kamar, Kak Mul meminta maaf.

“Ada apa dengan Kak Mul? Apakah dia lelaki normal? Kenapa dia begitu dingin padaku? Apakah aku kurang di matanya? atau?” Lirih Nayra dalam hati.

Nayra sendiri saat mendapat perlakuan dari suaminya setiap hari yang begitu lembutnya mulai menumbuhkan rasa cintanya pada suaminya dan membuat itu melupakan kenangan bersama Boby. Nayra bahkan mulai merindukan suaminya tatkala sedang tidak di rumah. Nayra bahkan selalu berusaha menyenangkan hatinya dengan melakukan apa-apa yang dia anjurkannya lewat ceramah-ceramahnya pada wanita-wanita muslimah, yakni mulai memakai busana muslimah yang syar’i, dll.

Memang dua hari setelah pernikahan kami, Kak Mul memberi hadiah istrinya yang diisi dalam karton besar. Semula dia mengira bahwa hadiah itu adalah alat-alat rumah tangga. Tapi setelah dibuka, ternyata isinya lima potong jubah panjang berwarna gelap, lima buah jilbab panjang sampai selutut juga berwana gelap, lima buah kaos kaki tebal panjang berwarna hitam dan lima pasang manset berwarna gelap pula.

Saat membukanya Nayra sedikit tersinggung, sebab yang ada dalam bayangannya bahwa inilah konsekuensi menikah dengan seorang ustadz. Nayra mengira bahwa suaminya akan memaksa untuk menggunakannya. Ternyata dugaannya salah sama sekali. Sebab hadiah itu tidak pernah disentuh suaminya atau ditanyakannya.

Opini Terkait
1 daripada 302

Kini Nayra mulai menggunakannya tanpa paksaan siapapun. Dikenakan busana itu agar suaminya tahu bahwa istrinya mulai menganggapnya istimewa. Bahkan kebiasaannya sebelum tidur dalam mengajipun sudah mulai Nayra ikuti. Kadang ceramah-ceramah suaminya di mesjid sering diikuti dan dipraktekkan di rumah.

Tapi satu yang belum bisa Nayra mengerti darinya. Entah mengapa hingga enam bulan pernikahan suaminya tidak pernah menyentuhnya. Setiap masuk kamar pasti sebelum tidur, suaminya selalu mengawali dengan mengaji, lalu tidur di atas hamparan permadani di bawah ranjang hingga terjaga lagi di sepertiga malam, lalu melaksanakan salat Tahajud.

Hingga suatu saat Kak Mul suaminya jatuh sakit. Tubuhnya demam dan panasnya sangat tinggi. Nayra sendiri bingung bagaimana cara menanganinya. Sebab Kak Mul sendiri tidak pernah menyentuh istrinya. Nayra khawatir suaminya akan menolak bila dia menawarkan jasa membantunya.

“Ya Allah..apa yang harus aku lakukan saat ini. Aku ingin sekali meringankan sakitnya, tapi apa yang harus saya lakukan ya Allah..” Lirihnya.

Malam itu Nayra tidur dalam kegelisahan. Dia tak bisa tidur mendengar hembusan nafasnya yang seolah sesak. Kudengar Kak Mul pun sering mengigau kecil. Mungkin karena suhu panasnya yang tinggi sehingga ia selalu mengigau. Sementara malam begitu dingin, hujan sangat deras disertai angin yang bertiup kencang.

Kasihan Kak Mul, pasti dia sangat kedinginan saat ini. Perlahan Nayra bangun dari pembaringan dan menatap suaminya yang sedang tertidur pulas. Dipasangkan selimutnya yang sudah menjulur ke kakinya. Ingin sekali Nayra merebahkan diri di samping suaminya atau sekedar mengompresnya. Tapi dia tak tahu bagaimana harus memulainya. Hingga akhirnya Nayra tak kuasa menahan keinginan hatinya untuk mendekatkan tangan di dahi suaminya meraba suhu panas tubuhnya.

Tapi baru beberapa detik tangan Nayra menyentuh kulit dahi suaminya, Kak Mul terbangun dan langsung duduk agak menjauh dariku sambil berujar;

“Afwan dek, kau belum tidur? Kenapa ada di bawah? Nanti kau kedinginan? Ayo naik lagi ke ranjangmu dan tidur lagi, nanti besok kau capek dan jatuh sakit?” pinta Kak Mul pada Nayra istrinya.

Hati Nayra miris saat mendengar semua itu. Dadanya sesak, mengapa suaminya selalu dingin. Apakah dia menganggap istrinya sebagai orang lain. Apakah di hatinya tak ada cinta sama sekali. Tanpa disadari air mata Nayra menetes sambil menahan isak yang ingin sekali diluapkan dengan teriakan. Hingga akhirnya gemuruh di hati Nayra tak bisa terbendung.

”Afwan kak, kenapa sikapmu selama ini padaku begitu dingin? Kau bahkan tak pernah mau menyentuhku walaupun hanya sekedar menjabat tanganku? Bukankah aku ini istrimu? Bukankah aku telah halal buatmu? Lalu mengapa kau jadikan aku sebagai patung perhiasan kamarmu? Apa artinya diriku bagimu kak? Apa artinya aku bagimu kak? Kalau kau tidak mencintaiku lantas mengapa kau menikahiku? Mengapa kak? mengapa?” Ujar Nayra disela isak tangis yang tak bisa tertahan.

Tak ada reaksi apapun dari Kak Mul menanggapi galaunya hati istrinya dalam tangis yang tersedu itu. Yang nampak adalah dia memperbaiki posisi duduknya dan melirik jam yang menempel di dinding kamar kami. Hingga akhirnya dia mendekati Nayra dan perlahan berujar;

“Dek, jangan kau pernah bertanya pada kakak tentang perasaan ini padamu. Karena sesungguhnya kakak begitu sangat mencintaimu. Tetapi tanyakanlah semua itu pada dirimu sendiri. Apakah saat ini telah ada cinta di hatimu untuk kakak? Kakak tahu dan kakak yakin pasti suatu saat kau akan bertanya mengapa sikap kakak selama ini begitu dingin padamu. Sebelumnya kakak minta maaf bila semuanya baru kakak kabarkan padamu malam ini. Kau mau tanyakan apa maksud kakak sebenarnya dengan semua ini?” ujar Kak Mul dengan agak sedikit gugup.

“Iya tolong jelaskan pada saya Kak, mengapa kakak begitu tega melakukan ini padaku? tolong jelaskan Kak?” Ujar Nayra menimpali.

“Hhhhhmmm, Dek kau tahu apa itu pel4cur? Dan apa pekerjaan seorang pel4cur? Afwan dek dalam pemahaman kakak, seorang pel4cur itu adalah seorang wanita penghibur yang kerjanya melayani para lelaki hidung belang untuk mendapatkan materi tanpa peduli apakah di hatinya ada cinta untuk lelaki itu atau tidak. Bahkan terkadang harus meneteskan air mata mana kala dia harus melayani nafsu lelaki yang tidak dicintainya. Bahkan dia sendiri tidak merasakan kesenangan dari apa yang sedang terjadi saat itu. kakak tidak ingin hal itu terjadi padamu dek.”

“Kau istriku dek, betapa bejatnya kakak ketika kakak harus memaksamu melayani kakak dengan paksaan saat malam pertama pernikahan kita. Sedangkan di hatimu tak ada cinta sama sekali buat kaka. Alangkah berdosanya kakak, bila pada saat melampiaskan birahi kakak padamu malam itu, sementara yang ada dalam benakmu bukanlah kakak tetapi ada lelaki lain. Kau tahu dek, sehari sebelum pernikahan kita digelar, kakak sempat datang ke rumahmu untuk memenuhi undangan Bapakmu. Tapi begitu kakak berada di depan pintu pagar rumahmu, kakak melihat dengan mata kepala kakak sendiri kesedihanmu yang kau lampiaskan pada kekasihmu Boby. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau tidak mencintai kakak. Kau ungkapkan pada Boby bahwa kau hanya akan mencintainya selamanya. Saat itu kakak merasa bahwa kakak telah merampas kebahagiaanmu.”

“Kakak yakin bahwa kau menerima pinangan kakak itu karena terpaksa. Kakak juga mempelajari sikapmu saat di pelaminan. Begitu sedihnya hatimu saat bersanding di pelaminan bersama kakak. Lantas haruskah kakak egois dengan mengabaikan apa yang kau rasakan saat itu. Sementara tanpa memperdulikan perasaanmu, kakak menunaikan kewajiban kakak sebagai suamimu di malam pertama. Semenatara kau sendiri akan mematung dengan deraian air mata karena terpaksa melayani kakak?”

“Kau istriku dek, sekali lagi kau istriku. Kau tahu, kakak sangat mencintaimu. Kakak akan menunaikan semua itu manakala di hatimu telah ada cinta untuk kakak. Agar kau tidak merasa diperkosa hak-hakmu. Agar kau bisa menikmati apa yang kita lakukan bersama. Alhamdulillah apabila hari ini kau telah mencintai kakak. Kakak juga merasa bersyukur bila kau telah melupakan mantan kekasihmu itu. Beberapa hari ini kakak perhatikan kau juga telah menggunakan busana muslimah yang syar’i. Pinta kakak padamu dek, luruskan niatmu, kalau kemarin kau mengenakan busana itu untuk menyenangkan hati kakak semata. Maka sekarang luruskan niatmu, niatkan semua itu untuk Allah ta’ala selanjutnya untuk kakak.”

Mendengar semua itu, Nayra memeluk suaminya. Dia merasa bahwa suaminya adalah lelaki terbaik yang pernah dijumpai selama hidupnya. Nayra bahkan telah melupakan Boby. Merasa bahwa malam itu, dia adalah wanita yang paling bahagia di dunia. Sebab meskipun dalam keadaan sakit, untuk pertama kalinya Kak Mul mendatanginya sebagai seorang suami. Hari-hari mereka lalui dengan bahagia.

Sebulan setelah malam itu, telah tumbuh benih-benih cinta mereka berdua. Alhamdulillah, Nayra sangat bahagia bersuamikan dia. Dari Kak Mul Nayra belajar banyak tentang agama. Hari demi hari mereka lalui dengan kebahagiaan. Ternyata Kak Mul mencintai Nayra lebih dari apa yang dia bayangkan. Dulu Nayra hampir saja melakukan tindakan bodoh dengan menolak pinangannya. Nayra pikir kebahagiaan itu akan berlangsung lama, setelah lahir anak, hasil cinta mereka berdua.

Di akhir tahun 2014,  Kak Mul mengalami kecelakaan dan usianya tidak panjang. Dia wafat sehari setelah kecelakaan tersebut. Nayra sangat kehilangannya. Dia seperti kehilangan penopang hidupnya. Nayra kehilangan kekasih hatinya. Nayra kehilangan murobbinya, Nayra kehilangan suaminya.

Yang tidak pernah Nayra lupakan, di akhir hidupnya Kak Mul masih sempat menasehatkan sesuatu padaku:

“Dek.. pertemuan dan perpisahan itu adalah fitrahnya kehidupan. Kalau ternyata kita berpisah besok atau lusa, kakak minta padamu Dek.., jaga anak kita dengan baik. Jadikan dia sebagai mujahid yang senantiasa membela agama, senantiasa menjadi yang terbaik untuk ummat. Didik dia dengan baik Dek, jangan sia-siakan dia. Satu permintaan kakak.., kalau suatu saat ada seorang pria yang datang melamarmu, maka pilihlah pria yang tidak hanya mencintaimu. Tetapi juga mau menerima kehadiran anak kita.”

Demikianlah pesan terakhir Kak Mul kepada Nayra sebelum keesokan harinya meninggalkan dunia ini. Hati Nayra sangat sedih saat itu. Dia merasa sangat kehilangan. Tetapi dia berusaha mewujudkan harapan terakhirnya, mendidik dan menjaga anaknya dengan baik.

“Selamat jalan Kak Mul. Aku akan selalu mengenangmu dalam setiap doa-doaku, amiin.” Doa Nayra.

Komentar
Loading...