KM. Usman Pateha; Penceramah Lokal Rasa Nasional

Penceramah Lokal Rasa Nasional

Ada banyak penceramah kondang, terkenal dan tenar, mulai dari penceramah lokal maupun nasional. Ketenaran itu dipengaruhi oleh skala, dan standar masing-masing. Misal penceramah terkenal di televisi, maksudnya televisi yang membesarkan atau membuat dia terkenal. Tak peduli dengan penguasaan materi, karena standar televisi adalah membuat penonton tertarik, dan itu bisa diperoleh dari retorika, lawakan, keberuntungan.

Ada juga penceramah terkenal karena lingkungannya. Dia hidup di lingkungan pesantren dengan jumlah santri yang tidak sedikit. Santrinya itulah yang membuat dia terkenal. Biasanya penceramah yang berasal dari pondok pesantren, materi bahasannya bagus dan lebih mendalam, berbeda dengan penceramah bermodal retorika dan lawakan. Salah satu penceramah terkenal model seperti ini, misalnya ustad Adi hidayat. Dari sisi retorika, biasa-biasa saja. Jarang melucu, tapi dari penguasaan materi, sangat memukau

Memadukan keduanya bukan pekerjaan mudah. Menguasai materi sekaligus bisa melucu. Penggunaan kata yang sepadan dan menarik perhatian. Style bisa saja sederhana, tapi materi dan cara menyampaikannya sangat luar biasa. Tak banyak ustad kondang seperti ini. Salah satu diantaranya, sebut saja ustad Andul Somad.

Saya mengenal seorang penceramah yang saya anggap terkenal dengan standar sederhana, yaitu kriteria jadwal yang padat. Bahkan dalam musim perayaan Maulid dan Isra Miraj, dia bisa mengisi ceramah di 6 tempat dalam sehari jika jaraknya terjangkau dengan cepat. Saya istilahkan dia sebagai penceramah lokal rasa nasional. Lokal, karena arena ceramahnya didominasi di sekitaran Sulawesi Selatan, Nasional karena beberapa kali tampil di Komaps tv, ANTV, dll.

Saat kedatangan Ustad Abul Somad di subuh hari, 26 Maret 2018 lalu, dia dinobatkan memberikan ceramah pembuka. Ibarat hidangan, posisinya hidangan pembuka. Ini tak mudah, karena meski sebagai hidangan pembuka, rasanya jangan dan tak boleh terlalu jauh dengan rasa hidangan inti. Meski hanya ceramah pembuka, tapi ceramah itu sedapat mungkin tidak membuat jemaah gelisah menunggu ceramah inti. Dan saat itu dia berhasil melakukannya dengan baik.

Namanya, KM. Usman Pateha. Ustad penceramah lokal rasa nasional ini lahir pada 10 Maret 1983 di Ujunge, tanasitolo, Kabupaten wajo, Sualwesi Selatan. Ujunge sendiri dikenal karena sebelumnya di sana adalah kampung Ulama Nasional ternama, Anre Gurutta KH. Ambo Dalle.

Kyai Muda (KM) di depan namanya adalah gelar dan bukti bahwa dia berhasil menyelesaikan studi di pendidikan kader ulama Ma’had Aly As’adiyah tahun 2006 silam. Bagi yang pernah mengikuti pendidikan kader ulama pasti tahu, bahwa untuk masalah ilmu alat dalam memahami agama, maka alumninya dianggap sudah selesai. Kitab kuning, bahas Arab adalah hal biasa di sana.

Diasah di pondok pesantren itulah juga sehingga target membaca satu bulan satu buku, dan menulis apa yang bisa dijadikan materi sehingga ingatan bertambah kuat dari materi yang ditulis, menjadi kebiasaan sehati-hari. Bahkan terkadang karena keterbatasan kemampuan membeli buku, buku itu ditulis tangan.

Penceramah Tak Memikirkan Materi

Banyak orang kadang ragu dan enggan mengundang penceramah yang sudah punya nama, apalagi penceramah kondang. Alasannya sepele, takut tidak mampu membayar fee penceramah. Penceramah kondang dengan jadwal padat apalagi didampingi manajer, pastinya ada harga khusus yang sulit diterka jumlahnya. Dibutuhkan kesiapan finansial untuk mengundang penceramah seperti itu.

Hal itu wajar saja, kalau ceramah dianggap sebagai job, pekerjaan menghasilkan, untuk biaya hidup yang semakin sulit, tapi tidak bagi Usman Pateha. Berasal dari keluarga sederhana yang mendidiknya untuk tetap sederhana. Ayahnya, Pateha adalah seorang pedagang yang di masa tuanya sakit-sakitan dan akhirnya berhenti berdagang, lalu bekerja sebagai pemarut kelapa. Ibunya, I Nani seorang ibu rumah tangga yang melahirkan 6 anak termasuk Usman Pateha, dan semua mengenyam pendidikan layak.

Masa sekolahnya dihiasi dengan kesibukan membantu orang tua hingga jam 3 dini hari. Ngantuk berat sudah menjadi kebiasaan berangkat sekolah dengan uang pegangan 20 ribu sebulan. Masih banyak kisah menarik yang intinya melatihnya sabar, istiqamah dalam kesabaran dan ketabahan, dan semua itu dibawa sampai menjadi penceramah kondang rasa nasional.

Opini Terkait
1 daripada 10

Kebiasaan menulis hal penting, juga dia lakukan terkait perjalanan ceramahnya. Setiap dia keluar ceramah, dia tulis secara singkat dalam bentuk resume, sampai nominal yang diberikan kepadanya (jika ada). Di masjid ini sekian, di majelis taklim ini sekian, di pesta ini tidak ada. Semua dia tulis dengan baik. Uniknya, jumlah itu sama sekali tidak mempengaruhinya.

Saya tergantung jadwal saja. Ada yang memanggil saya, saya jadwal, siapapun dia. Tak ada pertimbangan dia pejabat, mampu atau tidak.

Usman Pateha Penceramah Kondang

Semua Karena Ceramah

“Apa yang kita dapat adalah rejeki yang kita usahakan dan semua sudah diatur olehNya. Dulu saya belajar dari nol, sekarang dianggap sudah bisa. Saatnya umat turut menikmati.” Prinsip yang terdengar klise, namun diterapkan dalam kehidupannya. Pendidikan pesantren sejak Madrasah Tsanawiyah As’adiyah, Madrasah Aliyah As’adiyah, STAI As’adiyah, sampai S2 di Sekolah Tinggi yang sama, membentuk karakter yang mumpuni dari sisi keihklasan.

Saat masih di kelas III MTs II As’adiyah, dia mulai membiasakan ceramah, lalu keluar selama satu bulan ceramah di kampung orang. Kebiasaan itu kemudian merambah ke ceramah di majelis-majelis taklim yang ada di kota sengkang.

Nah, salah satu tempat ceramahnya adalah majelis taklim Istiqamah. Di sanalah dia bertemu dengan wanita yang kemudian disunting menjadi istri. Tak ada yang sulit dalam prosesi lamaran apalagi bayang-bayang uang panai tradisi Bugis. Semuanya berjalan mulus. Tuhan membuka pintu rejeki dalam bentuk beragam, mungkin inilah salah satu contohnya.

Sejak menikah tahun 2009, merasa banyak waktu yang tersisa dari kesibukan mengajar, akhirnya memikirkan untuk keluar dakwah, dan menerima panggilan keluar daerah. Dari situlah kebiasaan ceramah terasa semakin mapan. Dia mengingat pesan orang tuanya, agar kelak bisa seperti Gurutta Riyadhi Hamdah, seorang penceramah kondang Pondok pesantren Asadiyah sengkang pada zamannya.

Mungkin banyak yang kesulitan berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji, tapi bagi Usman Pateha berbeda. Sejak tahun 2016 sampai 2019 setiap tahunnya dia menginjakkan kaki di masjid al-Haram untuk menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Semua berawal dalam satu acara bertemu dengan seorang pemilik travel yang mengajaknya berangkat umrah, gratis. Dari situlah dia mempermantap penguasaan materi manasik haji dan umrah sehingga selain melaksanakan umrah, jemaah umrah yang ikut bersamanya merasa dibimbing dengan baik olehnya. Kondisi ini dimanfaatkan pemilik travel dan merekrutnya sebagai pembimbing haji dan umrah setiap tahun keberangkatan

Akhirnya, tulisan ini mengajak kita belajar banyak hal akan makna penting dalam kehidupan. Dari sosok penceramah ini saya menarik beberapa poin penting terkait kehidupan penceramah.

Pertama; keikhlasan. Saya menemui beberapa ustad yang retorika ceramahnya sangat luar biasa. Tapi rasa salut berkurang saat memasang target fee dalam setiap ceramahnya. Yang paling tidak saya sukai adalah sikap berbeda dan berubah yang dipengaruhi oleh fee pengundang. Diundang di kampung A, di-iya-kan. Tak lama kemudian diundang di Kota B. Merasa kota B lebih menjanjikan, undangan di kampung A dibatalkan.

Ustad Usman Pateha sampai hari ini bisa melalui itu dengan baik setidaknya di mata saya. Tak ada perubahan sikap yang dipengaruhi siapa yang mengundangnya dan apa yang didapatkan dari tempat ceramah yang didatanginya. Semua berjalan sama dan biasa-biasa saja.

Kedua: penguasaan materi ceramah dan penyampaian yang sesuai dengan kondisi. Banyak ustad, dari sisi materi tidak diragukan lagi, tapi terbentur dari cara menyampaikan. Sebaliknya ada yang hebat menyampaikan, tapi sayang materi ceramahnya monoton, bahkan kerap berulang. Di tempat A, B, C materi bahkan kata yang digunakan sama persis.

Nah, KM. Usman Pateha dari sisi materi memiliki modal mondok yang cukup lama. Apalagi menyelesaikan pendidikan kader ulama yang tidak mudah. Dari sisi retorika, tahun 2006 dia sempat mengikuti audisi yang dilaksanakan oleh TPI. Dan saat itu, dari ribuan peserta, dia berhasil masuk 20 besar. Dari situlah motivasi untuk selalu belajar menyampaikan semakin besar.

Loading...