Lebaran; Akhirnya Setan Menang Lagi

Banyak yang mengatakan, kalau puasa tahun ini kurang begitu “nendang.” Puasa tak begitu bisa dirasakan. Ini mungkin hanya di sekitar kampung saya atau area Makassar dan sekitarnya. Pasalnya, cuaca selama bulan puasa kebanyakan mendung, bahkan di beberapa daerah, curah hujan berlebihan menyebabkan banjir.

Itu bisa jadi salah satu perhatian sebagian orang. Perhatian saya justru pada perubahan aktifitas mereka yang berbeda pada bulan “terikatnya setan” itu.

Postur puasa adalah latihan adalah bahasa pengembangan dari perintah Tuhan yang Maha Kuasa dalam mengenal diri, dan orang lain.

Konteksnya jelas, puasa adalah suatu kewajiban. Tak ada alasan untuk menolaknya, karena garis siapa yang harus dan tidak, sudah tertata rapi. Saat puasa manusia belajar menahan hawa nafsu, karena melalui pintu inilah setan akan masuk. Siapa yang berhasil melakukannya, maka setan akan terikat secara otomatis, karena pintu hawa nafsu telah tertutup bagi mereka.

Sebelas bulan masjid hanya diisi jamaah monoton, tidak pada bulan puasa. Banyak perubahan terjadi. Masjid tiba-tiba ramai pada malam hari, yang masih malu menyentuh kitab suci sendiri akhirnya nimbrung mengeja halaman demi halaman.

Doa dai semakin panjang, sujud imam semakin lama, perempuan terlihat lebih anggun dari biasanya dengan balutan busana muslimah riang ke masjid, jauh berbeda ketika di luar bulan puasa, padahal mereka tahu, menutup aurat itu wajib. Masih banyak betul-betul membuat setan harus mengaku kalah, mereka harus “merelakan” dirinya terikat, jalan masuk tertutup.

Tadi pagi akhirnya kita lebaran bersama. Ramai, terutama variasi ucapan bak air bah menyeruak melalui jejaring sosial. Provider sekelas Telkomsel bahkan telah mewanti-wanti lonjakan SMS ucapan lebaran. Suara ayam tak kalah ramai. Mungkin mereka berteriak untuk yang terakhir kalinya “melawan” kodrat sebagai makhluk untuk manusia. Tidak ada yang salah. Ini adalah hari kemenangan, karena tak mudah menaklukkan setan sebulan penuh, setan tidak boleh menang lagi. Namun, terlepas dari semua ke-ramai-an itu, sadarkah kita, kalau kita dengan ikhlas sekaligus membuat setan menang pada hari lebaran?

Setan yang sudah terikat, tak memiliki pintu masuk, akhirnya atas nama “minal aidin wal faizin” kita lepas dan buka ikatan itu kembali?.

Opini Terkait
1 daripada 303

Mari belajar dari pengalaman umur kita sendiri. Kemana mereka yang dulu rajin meramaikan masjid di malam-malam Ramadhan?

Kemana mereka yang malu-malu membaca al-Quran, kenapa malu itu kembali berganti dengan enggan?

Kemana mereka yang berdoa panjang, yang sujudnya menyebabkan jidat menjadi hitam?

Kemana mereka yang menghiasi dengan warna mukena bak pelangi?

Semua berubah setelah opor, ketupat, ayam, daging cincang, dan makanan lebaran lain yang menjadi media pembalasan dendam pada hari kemenangan merepotkan pencernaan kita.

lebaran-setan-menang-lagi.jpg
Ilustrasi

Opini saya ini adalah colekan kepada mereka, dia, saya dan kita akan makna kemenangan di hari lebaran. Biarlah klaim hari kemenangan itu adalah benar milik kita, meski belum tentu.

Kita menang melawan hawa nafsu, setan kalah, setan terikat, dan setan benar-benar terkutuk dan kita berlinding dari gangguannya. Tapi mari tetap menjaga kemangan itu, dan jangan biarkan karena lebaran, setan kembali menang.

Komentar
Loading...