Lebaran Bukan Cuma Mudik !

Kalau prediksi tak keliru, hari raya Idul Fitri atau biasa disebut lebaran akan jatuh pada tanggal 08 Agustus 2013. Masyarakat muslim jauh sebelumnya telah mempersiapkan segala hal untuk menyambut hari kemenangan ini. Penganan lebaran menjadi kesibukan khusus ibu-ibu, pakaian baru, tempat perbelanjaan jadi penuh sesak karenanya, dan banyak hal lain dalam rangkaian menyambut lebaran.

Alangkah indahnya, jika hari besar ini dirayakan bersama orang terdekat. Bagi perantau, mendekati waktu lebaran tiba, usaha untuk merayakannya bersama kerabat di kampung halaman menjadi hal utama.

Tak bertemu dangan sanak saudara karena jarak dan waktu, akhirnya mendapat angin segar dari momen lebaran. Mudik kemudian menjadi pilihan, tak peduli jauh atau dekat. Selama waktu masih bisa dikondisikan, mudik harus meski dipaksakan.

Fenomena mudik ini kemudian membuka ruang menjadi salah satu komuditi. Biaya transpostasi tiba-tiba melonjak tanpa alasan, berbarengan dengan lonjakan penumpang yang ingin mudik.

Bagi mereka yang mudik, tak protes, tak jadi masalah. Dalam pikiran mereka, bagaimana caranya agar bisa tiba di kampung halaman dengan selamat, meski bersusah payah melakukannya, meski itu mahal, karena mereka dikejar waktu.

 

Dari sisi politis, fenomena mudik dengan mudah dimanfaatkan. Beberapa caleg (calon legislatif) sontak menjadi pemurah menyediakan angkutan gratis kepada penumpang di daerah pemilihannya. Yang sudah menjadi wakil dan mendapat mandat hasil pemilihan tak mau kalah, berusaha membuat kebijakan baru atas nama mempermudah mudik masyarakat.

Gerakan politis atas nama mudik terlihat jelas dimana perhatian mereka yang ingin dilirik hanya pada basis massa yang padat. Tak ada mudik gratis di papua, tak ada mudik gratis di Tolai, Palu sana, karena jumlah pemilih di sana sedikit. Jika kebijakan atas nama mudik ikhlas semata-mata membantu masyarakat, alangkah efisiennya jika dilakukan jauh sebelum pesta mudik dimulai. Tanya kenapa?

Opini Terkait
1 daripada 304

Media tak mau kalah. Menjelang lebaran, akan sulit mencari berita terkait hari kemenangan tahunan ini kecuali kesan sulit, payah, merepotkan, akibat mudik. Entah kenapa perhatian media tentang fenomena mudik jauh lebih fokus dari berita lain. Biaya besar digelontorkan, pesan Helikopter untuk meliput dari angkasa menjadi biasa saja. Akan lama, karena setelah mudik nanti, arus balik menanti.

Pemberitaan media dengan kesan sulit dan merepotkan ini terkadang juga dikemas melalui sentuhan kenaikan harga di tengah efek kenaikan harga BBM, dan aparat keamanan yang tiba-tiba mendapat tugas baru. Masalah kecelakaan lalu lintas, keamanan hunian, kemudian sejak tahun kemarin muncul variasi baru, yaitu kemungkinan munculnya teroris di hari fitri.

Sudah saatnya, kita kembali merenung sejenak akan makna fitri di hari fitri. Hari raya Idul Fitri adalah hari raya kemenangan, dan kembali ke fitrah manusia (awal kejadian). Tak mudah menjadi fitri.

Tuhan telah mendesain pola mengendalikan hawa nafsu melalui perintah puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan, pola ini pun dikemas dengan perintah memperhatikan sesama dengan mengeluarkan zakat baik zakat fitrah maupun zakat harta sebagai perintah masuk akal. Siapa yang mampu melakukan itu sesuai desain Tuhan, dialah pemenangnya.

lebaran dan mudik
Ilustrasi lebaran dan mudik. Sumber poto: kompasiana.com

Kegembiraan menjadi pemenang, layak untuk dirayakan. Tuhan tahu itu, dan menyediakan hari khusus pada tanggal 1 Syawal. Bagaimana cara merayakan kemenangan?

Ada banyak cara. Satu hal yang patut menjadi perhatian, tak perlu kembali seperti manusia yang belum diuji dengan puasa dan zakat. Tak perlu bernafsu merayakan kemenangan dengan kerabat dan paksa diri untuk mudik, karena kita mungkin telah lulus uji menahan hawa nafsu dengan puasa. Masih banyak cara merayakan kemenangan, karena lebaran bukan cuma mudik.

Komentar
Loading...