Mahar dan Uang Panaik; Uang Panaik Sebaiknya Ditiadakan?

0 13

Salah satu rukun pernikahan dalam mazhab Malikiyyah adalah mahar (dalam mazhab lain hanya syarat). Mahar biasa diistilahkan dengan maskawin, yaitu pemberian wajib calon suami kepada calon istri sebagai perwujudan ketulusan hati calon suami, atau menunjukan keseriusan calon suami dalam mendapatkan calon isterinya. Di Timur Tengah, mahar biasa diistilahkan dengan shidaq, yang bermakna kebenaran. (baca juga: pengertian mahar menurut bahasa dan istilah)

Dalam sejarah Islam, mahar lebih dekat kepada bentuk penghargaan dan bentuk memuliakan wanita. Sebagaimana diketahui bahwa pada jaman Jahiliyah, wanita diperlakukan semena-mena. Hadirnya mahar sebagai bentuk kehormatan bagi kaum wanita. (baca: Definisi mahar menurut ulama fikih)

Dalam al-Quran surah an-Nisa ayat 4, Allah berfirman, “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”

Persoalan mahar dalam Islam diatur dengan baik. Mahar bukan untuk memberatkan. Bahkan mahar terbaik adalah yang paling mudah. Keberkahan ada pada kemudahan dan kelapangan dada. Jadi mahar terbaik adalah yang tidak menyulitkan calon suami demi mendapatkan keberkahan dari proses penikahananya. “Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah maharnya”. Hadis Nabi saw yang diriwayatkan imam Ahmad.

Mudahnya mahar tidak selamanya murah dan sedikit. Misalnya, mahar yang paling masyhur adalah seperangkat alat shalat. Tidak mesti demikian. Calon suami yang mudah mengeluarkan duit 100 juta, maka mahar 100 juta bukanlah hal yang menjauhkan keberkahan darinya. Rasulullah mencontohkan hal demikian. Mahar beliau kepada isterinya rata-rata sebesar 12,5 Uqiyah. Kalau diuangkan di zaman sekarang sekitar Rp 100 juta. Namun tidak sedikit pula sahabat yang menikah dengan mahar yang relatif murah. Abdurrahman bin Auf menikah di Madinah, maharnya adalah emas sebiji. Ali bin Abu Thalib ra menikah dengan Fatimah maharnya adalah baju besi. Jumlah kuantitas mahar tidak disyaratkan, yang disyaratkan adalah kemudahannya.

Lalu bagaimana dengan “Uang panaik”? *Biasa ditulis uang panai’. Dalam adat bugis dikenal istilah uang panaik, yaitu sejumlah uang yang diberikan calon suami kepada calon isterinya atau keluarganya yang mana uang itu digunakan untuk keperluan pelaksanaan pesta pernikahan dan belanja pernikahan yang dibutuhkan. Uang panaik bukan syarat apalagi rukun pernikahan, jadi sama sekali tidak ada kaitan dengan bahasa agama. Sah tidaknya pernikahan, tidak dipengaruhi oleh uang panaik. Karena uang panaik tidak terhitung sebagai mahar penikahan

Uang panaik, lebih dekat kepada faktor kebiasaan dan tradisi. Adapula yang mengatakan uang panaik bagian dari adat Bugis-Makassar, sehingga seolah olah menjadi kewajiban calon mempelai pria dengan jumlah uang yang disepakati oleh kedua belah pihak atau keluarga.

Lalu bagaimana hukum uang panaik dalam Islam, haruskah, ditiadakan, atau bahkan diharamkan?

Pernikahan adalah sunnah. Sunnah pernikahan termasuk prosesnya. Melaksanakan sunnah tentu mendapatkan pahala di sisiNya. Bahkan Rasulullah saw bersabda “pernikahan adalah sunnahku, siapa yang berpaling dari sunnahku, maka dia bukanlah ummatku”.

Menghalangi pelaksanaan suatu yang disunnahkan tentu dilarang dalam agama. Dalam artian, jika uang panaik menjadi penghalang dalam proses pernikahan, maka uang panaik lebih baik ditiadakan. Dari sisi yang berbeda, uang panaik adalah kesepakatan. Jumlah uang panaik disepakati oleh dua keluarga calon mempelai. Jika kesepakatan yang dihasilkan tidak mengandung unsur paksaan maka hukum uang panaik adalah boleh atau mubah.

Ilustrasi salah satu pasangan mempelai pernikahan Bugis-Makassar

Sepertinya menjadi rahasia umum, uang panaik kini menjadi momok menakutkan bagi pria wanita dari suku Bugis-Makassar. Bagi pria, uang panaik menjadi ancaman gagal saat melamar pujaannya karena jumlah relatifnya, kawatir tidak disepakati dua keluarga. Bagi wanita, uang panaik menjadi bias ketakutan yang hadir otomatis seiring tingkat strata sosial wanita. Karena sudah menjadi kesepakatan sosial bahwa, strata sosial seperti bangsawan atau tidak, tingkat pendidikan, anak tunggal, kemapanan, dll, sangat mempengaruhi jumlah uang panaik. Artinya, makin tinggi strata sosial wanita Bugis-Makassar, maka peluang jumlah pria yang sanggup dari sisi uang panaik semakin sedikit, dan itu adalah ancaman bagi wanita.

Dari sisi keuntungan dan masa depan kedua calon mempelai, mahar lebih menjanjikan, karena mahar menjadi hak isteri, dan bisa digunakan saat kedua mempelai hidup bersama atas ijin isteri. Berbeda dengan uang panaik. Uang panaik akan habis tak tersisa akibat kebutuhan proses pernikahan yang kepuasan pelaksananya relatif. Mahar seperangkat alat shalat dengan uang panaik 100 juta, maka yang tersisa setelah proses pelaksanaan hanyalah kepuasan yang relatif plus mahar seperangkat alat shalat. Ada baiknya berpikir terbalik, mahar 100 juta dan uang panaik seperangkat alat shalat, atau ditiadakan dengan konsekuansei proses seadanya. (baca: kasus Risna)

So, Di mana posisi Anda? Uang panaik lebih baik tidak ada, cukup mahar saja yang “dimudahkan”, atau uang panaik yang disepakati sekaligus mahar yang mudah…. Selamat menikmati

Komentar
Loading...