Makna dan Fakta Sumpah Pemuda; Refleksi Hari Sumpah Pemuda

  • Bagikan

Pemuda perwakilan beberapa daerah se-Nusantara berkumpul di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat. Perkumpulan pemuda yang tak mengenal golongan, ras ini melakukan kongres pemuda. Kongres tersebut juga dihadiri berbagai wakil organisasi diantaranya Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. Di acara ini pula, lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kali dikumandangkan W.R Sopratman.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda yang berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), kemudian melahirkan rumusan Sumpah Pemuda yang ditulis Moehammad Yamin pada sebuah kertas.

Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin. Adapun isinya sebagai berikut:

“Pertama: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Indonesia).

Kedoea: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia).

Ketiga: Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. (Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia)”

91 tahun berlalu, gagasan pemuda untuk satu kata; sebagai bagian dari bangsa besar yang satu bangsa, satu bahasa, dan satu tumpah darah, kini secara fakta telah berubah. Perlu dicari penyebab utamanya, ikrar pemuda dan menjadi sumpah kini hanya ada dalam kata dan mungkin sedikit semangat. Pemuda pemudi Indonesia sebagai pemegang estafet penerus bangsa sedikit demi sediki berubah sampai ke mindset, dan tak sadar menjauh dari semangat sumpah Pemuda itu sendiri.

Makna Sumpah Pemuda sebagai tonggak awal berdirinya NKRI kini terkesan hanya selebrasi saja. Padahal, Sumpah Pemuda adalah bentuk kemandirian pemuda di bawah naungan Pancasila yang tak memandang suku, golongan, ras dan agama.

Hakikat dari makna Sumpah Pemuda adalah keterlibatan pemuda dalam mengisi kemerdekaan dalam bentuk cinta tanah air, bangsa dan bahasa.

Sumpah Pemuda adalah komitmen kebangsaan dalam bentuk deklarasi yang harus sesuai antara makna dan fakta. Kaum mudalah peletak dasar sendi keutuhan bangsa. Tak berlebihan jika Soekarno melontarkan kalimat yang motivasi kita,” Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 orang pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”

Namun kini, pergeseran makna Sumpah Pemuda terlihat sedikit berubah oleh keadaan yang terbentuk sistemik. Dari masalah kebangsaan; bagaimana Rupiah begitu tergantung kepada Dollar Amerika, bagaiamana Freeport “menyembur” dan keuntungannya hanya sekian persen ke Negara.

Dari sisi bahasa; bagaimana kebijakan penerimaan tenaga kerja mewajibkan bahasa Inggris sebagai syarat kelulusan, bagaimana bidang studi bahasa Inggris menjadi mata pelajaran sejajar dengan bahasa Indonesia dll. Dari sisi tumpah darah; Batas Negara yang kini semakin merangsek ke dalam, kecintaan WNI akan kehidupan di luar negeri yang lebih menjanjikan dll.

Poto Kongres Pemuda
Poto Kongres Pemuda. Sumber: wikipedia.org

Semangat Sumpah Pemuda sejatinya tidak hadir di kalangan kaum muda saja. Para pejabat, anggota DPR, pengusaha, tanpa memandang umur, harus memaknai ruh Sumpah Pemuda dengan benar. Harus disadari, penggunaan kalimat asing dalam perundangan, penggunaan KUHP sebagai produk luar, istilah asing dalam usaha, seharusnya segera menyesuaikan dan dicermati sebagai sesuatu yang bisa mengikis makna Sumpah Pemuda dan merubahnya dalam bentuk fakta.

Menyesuaikan diri di era millenial menuntut kesadaran akan hakikat makna Sumpah Pemuda. Bagi pemuda yang masih muda (dalam umur). Harus disadari, kesukaan terhadap artis Korea, jangan sampai mengikis kecintaan terhadap produk dan karya anak bangsa. Murahnya buah dari luar, jangan sampai mengubur kecintaan terhadap buah lokal. Bahasa alay tidak dilarang, namun jangan sampai menjadi penyebab hasil Ujian Nasional paling rendah ternyata bidang studi bahasa Indonesia, dan beberapa hal lain terkait kaum muda.

Dengan semangat Sumpah Pemuda, makna persatuan harus terjaga dalam bingkai akhlak dan keluhuran budi khas bangsa. Bangsa Indonesia punya budaya sendiri, budaya melayu, adat ketimuran dan sesuai dengan norma agama.

Makna Sumpah Pemuda jangan sampai hadir hanya dalam persepsi, makna Sumpah Pemuda haruslah selaras dengan fakta. Rasa berbangsa satu, berbahasa satu, bertumpah darah satu, harus selalu terjaga, dan menjadi mindset pemuda dalam bertingkah laku.

Semoga.

  • Bagikan