Makna Hijrah Bagi Guru; Refleksi 1 Muharram 1435 Hijriah

  • Bagikan
makna hijrah

Sesuai kalendar Hijriah dan Masehi, satu Muharram jatuh tepat hari selasa, 5 November, 2013. Tanggal satu Muharram berdasarkan kalendar muslim yang ditetapkan masa khlaifah Umar ibnu Khattab tersebut kemudian menjadi momem Hijrah bagi umat muslim semua kalangan, sipil maupun non-sipil, baik siswa maupun Guru.

Jika menyebut kata Hijrah dengan makna pindah, maka pikiran kita mengawang mencoba melihat kejadian masa perpindahan Nabi saw ke Madinah. Nabi saw beserta sahabat berbondong membawa bundelan, bergerak menghindari intimadasi kafir Quraisy kala itu. tapi sebenarnya tidak sesederhana itu. Hijrahnya Nabi bersama sahabat adalah hijrah fisik, dan bagi pengikut Muhammad, saatnya berhijrah dengan perilaku.

Bagi guru momen awal tahun Hijriyah jarang sekali diperingati kecuali oleh guru madrasah. Sangat disayangkan, perubahan paradigma guru dari pengajar menjadi pembelajar adalah hijrah terbesar menjawab tantangan tujuan pendidikan era kekinian, dan hal itu tidak mudah. Diperlukan momen sebagai pengingat dan penegas bahwa hijrah/ perubahan itu penting. Seperti halnya pentingnya memakai batik, ditetapkanlah hari batik Nasional. Momen 1 Muharram bisa dijadikan ajang pendalaman pemahaman makna hijrah bagi guru.

Mengapa guru terkesan malas berhijrah ? Bagi saya, ada akumulasi bertumpuk dari riuhnya masalah pendidikan secara Nasional, dan guru sebagai ujung tombak, akhirnya terpojok mengambil peran “terpaksa” disalahkan. Jika sudah demikian, tak ada jalan lain, guru sekali lagi harus bersedia berhijrah sesuai keinginan pasar, atau berhijrah sesuai makna hijrah sebenarnya.

makna hijrahMenelisik makna hijrah bagi guru sebagai pindah dari perilaku buruk ke perilaku yang diharapkan, maka hijrah menyiratkan makna sebagai pembeda. Akan berbeda guru yang berhijrah dengan guru yang enggan berhijrah. Rasul saw akhirnya memilih pindah ke Madinah karena melihat kondisi di kota Mekkah tidak lagi kondutional untuk berdakwah. Secara psikologis, seorang guru sejatinya melihat perpidahan Nabi ini secara psikologis. Tak perlu pindah secara fisik, karena kondisi masih bisa berubah, agar kelak ditemukan perbedaan.

Kejadian Hijrah Nabi dilakukan di malam hari, dengan memerintahkan Ali bin Abi Thalib mengganti posisinya di tempat tidur. Hijrah di malam hari dengan menunjuk Ali sebagai replika adalah suatu pelajaran, bagaimana Nabi saw menunjukan kalau strategi itu sangan te penting. Demikian pula dengan guru. Kondisi siswa yang semakin hari semakin berbeda, membutuhkan sebuah strategi dalam mendidiknya. Kalau perlu strategi yang diterapkan bukanlah strategi konvensional dan umum digunakan dalam satuan pendidikan. Itulah makna Hijrah bagi guru dari sisi strategi.

Dalam penilaian kinerja guru sesuai Permenpan dan RB, terdapat kolom penilaian penggunaan teori belajar bagi guru. Penilaian penggunaan teori ini dimaksudkan mengukur sejauh mana kreatifitas seorang guru menggunakan dan mengolah teori pembelajaran yang sudah ada.

Belajar dari makna Hijrah bagi guru, teori belajar itu sebenarnya adalah bekal. Yah, guru sejatinya memiliki bekal cukup sebelum menjadi pembelajar di depas siswa. Bukankah sebelum melakukan hijrah, Abu Bakar telah menyiapkan dua unta yang sangat sehat untuk mereka kendarai dalam perjalanan?.

Kesimpulannya, 1 Muharram 1435 hari selasa nanti adalah momentum. Terkhusus bagi guru, dirayakan atau tidak dirayakan, substansinya bagaiamana memahami makna hijrah bagi guru dan kemudian menerapkannya dalam tugasnya. Guru harus berubah, guru harus berhijrah. Guru harus menjawab permasalahan dari setiap kondisi pendidikan yang ada.

Semoga..

  • Bagikan