Mari Menjadi Mulia dengan Bertani…

Mari Menjadi Mulia dengan Bertani…Kalau anda sering bergabung dengan emak-emak, ketika dari pasar, atau ketika lagi cari kutu berderet di tangga, anda pasti sering mendengar kata-kata: “harga beras naik”, “susahnya kalau tidak ada beras”, dan lain-lain.

Yang mereka katakan adalah fakta, dan masalah bangsa ini. Dan, sebagaimana biasa, selalu ada saja seorang yang dikambing-hitamkan, yang harus memikul segala kesalahan. Terutama sekali orang-orang yang duduk dalam badan-badan pemerintahan harus bersedia menjadi kambing-hitam itu, yang kepalanya diturunkan segala hujan-hujat tuduhan.

Kalau kita memakai angka tahun 1940 itu sebagai dasar, dengan pertimbangan jumlahpenduduk 75.000.000 jiwa, dan beras dibutuhkan untuk tiap-tiap orang 86 kg beras setahun, maka, 75.000.000 x 86 kg = 6.450.000.000 kg , atau dengan sebutan lain : 6,45 milyun ton. Berapa jumlah produksi sawah-sawah kita?

Bangsa kita, seperti bangsa lain selalu bertambah jumlahnya. Tiap tahunnya dilahirkan bayi 2.000.000 orang, dan ditiap-tiap tahunnya meninggal dunia 1.200.000 orang. Ini berarti Indonesia bertambah penduduk tiap-tiap tahun 800.000 orang. Dan, tidak lama lagi tambahnya 1.000.000 orang per-tahun. Kemudian menjadi 1 1/4 milyun orang, 1 1/2 milyun orang, 13/4 milyun orang, dan seterusnya. Artinya, 700.000 ton beras dibutuhkan, besok 800.000 ton, besok lagi 900.000 ton, besok lagi 1.000.000 ton… Wow.

Lantas apa yang ada dalam pikiran kita saat ini?. Saat orang sangat sulit mencari pekerjaan. Pekerjaan menjadi mutlak sebagai ukuran prestise seseorang. Kemuliaan seseorang dinilai dari pekerjaannya. Bertani dianggap tidak mulia, mungkin karena selalu bergulat dengan tanah, tempat yang paling rendah. Padahal, kemulian terletak pada niat dan tujuan perilaku.

Penulis pernah membaca di berbagai portal berita, banyak orang yang rela ‘nyogok’ ratusan juta agar menjadi seorang PNS. Seorang bapak asal jawa barat rela mengeluarkan uang sebesar 80 juta rupiah, agar anaknya menjadi PNS. Setelah diusut, belakangan diketahui bahwa orang yang mau mengusahakan anaknya menjadi PNS ternyata seorang penipu, 80 juta hilang, uang melayang.

Seakan tidak memakai pikiran. Uang sebanyak itu hanya untuk menyogok menjadi PNS?. Berapa tahun modal bisa kembali?. Kalau uang sebesar itu di buat usaha, tentu peluang sukses akan lebih besar. Ada berbagai penyebab hal tersebut, termasuk rasa minder untuk mengolah alam sendiri. Dia malu dikatakan seorang petani..! 🙁

Alangkah besarnya persediaan makanan kita, kalau 8.000.000 ha saat ini, dikelola dan memberikan produksi yang lebih tinggi. Tapi siapa yang mau?. kader bangsa di atas lapangan makanan rakyat laksana cendawan di musim hujan. Banyak, tapi “lemah”.

Tidak ada yang salah. Kebutuhan 350 sarjana pertanian, bukan lagi pilihan. Calon mahasiswa melirik potensi yang paling banyak diganrungi. Kedokteran, guru, ekonom, semua, kecuali pertanian.

Haruskah kita mati kelaparan?. Buat apa kita membuang deviezen bermilyun-milyun tiap-tiap tahun untuk membeli beras dari negara lain, kalau kemungkinan untuk melipatgandakan produksi makanan sendiri, sangat besar?.

Segala ikhtiar usaha kita menekan harga-harga barang di dalam negeripun sebagai yang telah kita alami, selalu akan kandas, selalu akan sia-sia, selama tak ada kesadaran, bahwa ketiadaan beras, bukanlah alasan rasional kita untuk mati.

Mari bertani…

Komentar
Loading...