Masyarakat Kepulauan Sula; Pendengar dan Pecinta al-Quran | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

0 7

Masyarakat Kepulauan Sula; Pendengar dan Pecinta al-Quran (15 Mei 2013)

Beberapa abad yang lalu, Nabi saw bersabda: jadilah orang berilmu, atau yang mengajarkan ilmu, atau yang mendengar ilmu, atau yang mencintai ilmu, dan janganlah sesekali menjadi selain dari itu, niscaya kamu akan binasa.

Dalam beberapa literatur syarah hadis ini, ilmu dalam hadis ini dijelaskan sebagai ilmu al-Quran. Maksudnya, menjadilah salah satu dari pelaku, pengajar, pendengar, dan atau pecinta al-Quran, jika tidak bisa semuanya. Jika suatu daerah, masyarakatnya tidak manjadi salah satu yang disebut, kebinasaan dalam bentuk azab telah disiapkan. Mengerikan.

“Dunia sudah tua,” kalimat apologi mewakili keputusasaan dari kisruh keduniawian. Remaja mulai mengidolakan artis Korea, orang tua mabuk dengan sinetron dan telenovela. Al-Quran hampir hilang di media, kecuali subuh hari ketika kelopak mata masih terjatuh dalam kekang kantuk. al-Quran dipelajari hanya pada masa kecil. Acara musabaqah tahuna, bak kerupuk terendam dalam tea panas, layu tanpa penonton. Namun tidak bagi masyarakat Kepulauan Sula.

Setiap malam di acara Seleksi Tilawatil Quran (STQ), tempat penonton penuh dan terjajar rapi. Khusuk mendengar bak pecinta mabuk pada suara merdu. Sayup terdengar teriakan “Allah” pada ayat keagungan yang Maha Kuasa. Sebagian mereka sudah mengerti beberapa makna penggalan, terutama akhir ayat. Mereka sedang menjadi pelajar, pengajar, pendengar, dan pecinta.

Malam dengan cuaca kurang bersahabat seakan mencoba menjadi penghalang seorang pecinta terhadap apa yang dicintainya. Tak puas hanya di waktu itu, alat perekam berjubel di samping alat pembesar suara, tak peduli dengan basah rintik hujan sejak sore, untuk didengar ulang sesampai di rumah lagi.

Mereka datang berjalan kaki, naik oto, atau sepeda. Sampai melenggang tanpa pemeriksaan di gerbang istana daerah tak terkawal. Banyak pengamanan, tapi bukan untuk mereka, karena aparat tahu, mereka hanya pendengar dan pecinta al-Quran. Bukan teroris !

Antusias berbeda itu tentunya tidak serta merta. Banyak faktor pendukung di luar keimanan. Bagi saya, pemerintah setempat dengan pola, sistem, dan perilakunya menjadi teladan yang patut di contoh. Tak sulit turut bersama masyarakat sendiri menjadi pecinta lantunan ayat al-Quran, seperti mudahnya menyiapkan tempat untuk menjadi pendengar.

Dalam bentuk lain terlihat. Seorang dengan kendaraan plat merah nomor 2, memarkir kendaraanya sedikit jauh dari masjid untuk menunaikan shalat jumat. Inisiatif berjalan bersama masyarakat lain, berdampak luar biasa. Di dalam masjid dia tidak memecah jamaah menjemput untuk ke depan, dia memilih di tengah tempat kosong, karena di depan sudah terisi jamaah lain. Pejabat itu sadar, masjid bukanlah wilayah “kekuasaannya.”

Terlepas jika hal itu bisa dinilai sebagai blusukan, gaya kampanye kekinian. Tidak bisa dipungkiri, jika pejabat pemerintah masih menjadi motivator utama setiap tindakan masyarakat baik atau buruk. Selamat untuk pejabat Kabupaten Kepulauan Sula.

Bersambung

Komentar
Loading...