Mau Berhenti Pacaran? Belajarlah dari Puasa

Cara Berhenti Pacaran

Saya pernah bertanya kepada tiga orang tua dengan tingkat pendidikan strata satu, dan telah memiliki anak yang sudah remaja; “perintah apa yang paling sulit dilakukan anak-anak anda?” Jawaban yang saya temukan bervariasi. Satu jawaban sama, yaitu mereka sulit mengerjakan shalat, dan dua jawaban dari ketiganya, yaitu mereka sulit melarang anaknya pacaran atau berhenti pacaran.

Jawaban pertama bagi saya tidak mengherankan. Anak-anak sulit melakukan shalat pun telah diilustrasikan Luqman al-Hakim serta Imam al-Syafi’iy, bahwa pekerjaan yang sulit dilakukan adalah shalat. Namun jawaban kedua menjadi fenomenal. Sulitnya melarang anak pacaran, dan bagi yang sudah melakukannya (pacaran), juga sulit menyuruhnya berhenti. Ada apa dengan pacaran?, kenapa seorang remaja sulit berhenti pacaran?.

Sebenarnya ada banyak sekali kerugian pacaran, tapi kampanye ruginya pacaran mungkin tak seimbang dengan kampanye agar remaja harus pacaran. Kita terkadang tidak menyadari, betapa keseharian remaja diliputi dengan tontonan yang memberi sugesti untuk pacaran. Tak heran, dalam keseharian mereka, yang tidak pacaran kemudian dikatakan kampungan, tak mengikuti jaman, dan akhirnya menjadi objek ejekan dari teman-temannya.

Berhenti Pacaran dengan Belajar dari puasa

Saya lebih sepakat jika membicarakan pacaran tidak dalam konteks halal dan haram. Melarang remaja pacaran atau menyuruh mereka berhenti pacaran, salah satu caranyanya memberikan penjelasan bahwa pacaran itu lebih banyak kemungkinan kerugiannya daripada keuntungannya. Dan kita bisa memberi perumpaan semua itu dari cara berpuasa.

Opini Terkait
1 daripada 90

Substansi puasa adalah melatih menahan hawa nafsu. Nafsu jika sudah tersalurkan, akan mengurangi nafsu terhadap hal lain. Nafsu boleh disalurkan sesuai ketentuannya ketika tiba waktunya.

Sebagai contoh: ketika menjelang berbuka, seakan semua yang disediakan akan dan mampu kita habiskan, tapi ketika beduk maghrib berbunyi, nasi telah dilahap, otomatis nafsu untuk makanan lain berkurang bahkan sirna.

Bagi yang pacaran semestinya menjadikan hal ini pelajaran. Bahwa pacaran membuka peluang lawan jenis untuk menyalurkan nafsunya atas nama sayang dan cinta *katanya. Tapi bahaya menanti, ketika nafsu itu tersalurkan maka nafsu ke hal lain, seperti hidup bersama, bercanda, menciptakan keluarga sakinah akan berkurang, bahkan bisa sirna. Bukankah, pada saatnya semua bisa di-BUKA. Kenapa kita tidak mencoba melihat kata BUKA puasa. Semua telah diatur pada waktunya. Remaja tak perlu ber-BUKA atau di-BUKA sebelum waktunya tiba, apalagi hanya dengan alasan pacaran.

Hal ini bisa dikaitkan dengan fakta perceraian di pengadilan agama, 80% di antaranya adalah pasangan yang berpacaran sebelum menikah dulunya. Bisa jadi, nafsu yang sudah tersalurkan ketika pacaran menjadi penyebabnya, seperti pelajaran dari puasa di atas. Itulah efek ber-BUKA pada saat bedug belum berbunyi. Itulah efek BUKA sebelum halal dideklarasikan di depan penghulu.

Semoga opini berhenti pacaran ini bisa dijadikan bahan komunikasi bagi orang tua, dan bahan renungan bagi remaja. Intinya, jika ingin berhenti pacaran, belajarlah dari puasa.

Loading...