Perayaan Maulid Nabi saw Bid’ah atau Bukan? Ini Pendapat Saya!

Perayaan maulid Nabi saw bid’ah atau bukan? Saya punya opini sendiri. Opini yang moga aja rasional di mata siapa saja. Opini ini sejatinya saya tulis sebulan lalu, yakni masa memperingati maulid Nabi saw. Tapi dengan alasan tak ingin ikut dalam riak perbedaan yang sejatinya tidak penting, tidak mutu, merusak, dan apalah namanya, akhirnya saya tulis saja di malam tahun baru ala Masehi.

(baca: saya tidak merayakan tahun baru Masehi kawan).

Riak perbedaan tentang maulid Nabi saw bid’ah atau bukan? Sudah masuk pada ranah tidak menyenangkan. Dua pihak yang berbeda pendapat, semuanya muslim, tapi sayang menuju perpecahan umat. Padahal, berbeda itu lumrah, dan bersatu itu wajib. Mari berbeda, tapi jangan terpecah. Penyebabnya tak lain, kekerasan hati dan mudahnya kita saling tuduh satu sama lain. Padahal perayaan maulid Nabi saw, sama sekali tidak terkait akidah. Tak ada yang mengikat kita, dan tak ada alasan kita berhati batu.

“Maulid Nabi saw itu bid’ah,” demikian yang diungkapkan kelompok A. Alasannya, sahabat dan ulama salaf tidak melakukan itu, tak ada dalil memerintahkan hal itu, kecintaan kepada Nabi saw tak cukup dengan perayaan seperti itu, tapi dengan melaksanakan sunnahnya, dan mungkin masih banyak alasan lain. “Itu bukan bid’ah”, kata kelompok yang satu. Alasannya tidak semua yang tak punya dalil itu diharamkan, perayaan maulid Nabi saw adalah bentuk kecintaan kepadanya, tak ada yang salah, bahkan bisa menumbuhkan semangat keislaman dengan acara seperti perayaan itu. Pendapat saya gimana? Siapa yang tanya? Gk ada! sekedar nulis doang kok hehehehe….

Bilal bin Rabah, salah seorang sahabat terdekat Nabi saw melakukan hal yang tak ada dalam sunnah, tak ada perintah baik ayat maupun hadis, murni inisiatif sendiri. Bilal selalu shalat dua rakaat setiap selesai wudhu dan sehabis adzan. Shalat sunnah ada perintahnya, tapi shalat sunnah selesai wudhu dan adzan, apakah itu bid’ah? Bagaimana tanggapan Rasulullah? Beliau memuji Bilal dan berkata, “Engkau mendahuluiku ke surga wahai Bilal”. (Bisa dilihat dalam kitab al-Mustadrak, al-Bayhaqi. Disebutkan, hadis ini diriwayatkan Atturmudzi).

Sahabat juga menjadikan tradisi shalat sebelum dibunuh orang kafir Quraisy. Tradisi ini dimulai oleh Khubaib bin Adi al-Anshori, saat ingin digantung oleh orang kafir. Mungkin karena sahabat ingin mengerjakan ibadah yang paling utama yaitu shalat dalam menjemput ajal mereka, sehingga mereka shalat sebelum dibunuh. Kisah patriotisme ini tertulis dalam kitab al-Mu’jamul Kabir at-Thabrani, juga terdapat dalam kitab imam Bukhori dan imam Ahmad.

Opini Terkait
1 daripada 92

(baca juga: benarkah sahabat lari dari medan perang?)

Masih banyak kisah sahabat yang meng-kreasi ibadah dalam bentuk berbeda namun tidak melanggar aturan beribadah yang sudah ada. Bagaiamana sahabat yang menjadi imam di masjid Quba, dan selalu membaca surah al-Ikhlash setelah Alfatihah. Bagaimana Qotadah bin Nu’man, setiap malam menghabiskan malamnya dengan hanya mengulang surat al-Ikhlas dalam shalat hingga subuh. Bahkan aturan masbuq yang dikenal dalam fikih, adalah kreasi Mu’adz bin Jabal. Dan masih banyak kisah kreasi ibadah dari sahabat yang lain. Semua tidak dilarang, dan bahkan Nabi saw memuji mereka (sahabat yang melakukan kreasi itu).

(baca juga: kisah cinta sahabat Rasulullah saw)

Apa hubungan kisah kisah singkat sahabat itu dengan pendapat saya mengenai perayaan maulid Nabi saw bid’ah atau bukan? Saya berpendapat, bahwa tidak semua hal yang tidak ada dalil perintahnya dalam nash, dilarang. Hal yang dilarang adalah kreasi ibadah yang melanggar aturan ibadah yang sudah baku. Misalnya, gerakan shalat itu berdiri, ruku, sujud, dan seterusnya. Maka tidak boleh dikreasikan, ditambahkan gerakan salto misalnya, karena gerakan itu sudah ada aturan bakunya.

maulid Nabi sawPerayaan maulid Nabi saw adalah kreasi ibadah sebagai wujud kecintaan kepada Rasulullah saw, sang kekasih Allah, dan sosok uswatun hasanah. Merayakan kelahirannya boleh saja dan itu kreasi ibadah, kecuali dalam perayaan itu ada hal yang melanggar aturan baku sebelumnya. Misalnya, perayaan maulid Nabi saw dengan minum khamar, tentu tidak boleh karena aturan pelarangan minum khamar, sudah baku. Tapi jika perayaan itu dalam bentuk rangkaian ibadah lain, tentu lebih bagus. Misalnya perayaan maulid Nabi saw dengan membaca sirah Nabi saw, dll.

Cintaku kepada kekasihNya tak cukup dengan merayakan kelahirannya. Ya, mari melaksanakan sunnahnya sebagai wujud mencintainya, dan menambah kecintaan itu dengan merayakan kelahirannya. Semoga opini ini bukan bid’ah…

Loading...