Melihat Lebih Dalam Kasus UAS

Kasus UAS

0 93

Menulis mengenai kasus Ustad Abdul Shomad (UAS) sebenarnya sudah lama saya rencanakan. Namun, icip intip kondisi dulu, karena saya melihat kasus UAS tidaklah murni persoalan agama. Ada hal lain, berbeda, unik dan guriting, sehingga kasus ini besar dan terkesan digoreng sampai gosong.

Jadi tiga tahun lalu UAS ceramah, dan tak ada masalah apa-apa. Ibarat seorang isteri bermanja manja bersama suaminya dan bertanya, “Mas, cantik mana aku dengan si Cebi?” Lalu suaminya menjawab, “Ya cantik kamu lah. Cebi kan jelek!”

Suaminya tak tahu, kalau momen itu divideokan oleh isterinya. Namun apa daya, tiga tahun kemudian, vido hilang dan disebar oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Cebi tersinggung mendengar kalimat si suami yang mengatakan dia jelek.

Bukti lain kalau kasus UAS berbeda, unik dan asyiklah… Perhatikan video Ust Yahya Waloni yang terang-terangan menantang debat Islam-Kristen, dan tidak ditangkap, bahkan tidak ribut seribut kasus UAS. Why?

Penulis melihat ada proyek besar di balik ini, pertama: Provokasi berbasis agama. Sebab, agamalah umpan paling lezat untuk memprovokasi umat. Namun, memprovokasi pun harus efisien, maka dipilihlah UAS karena UAS memiliki massa yang besar di belakangnya, beda dengan ustad lain. Potensi benturan umat akan sangat mudah pada wilayah akidah, apalagi peristiwanya sudah lama. Sulit lagi membuka ruang dialog, karena yang dicari bukan topik, tapi delik.

Mungkin banyak maling teriak maling, mengklaim dirinya paling toleran, tapi sebenarnya dialah yang membenturkan. Tapi umat masih merasa terjaga karena mereka yakin bahwa Allah Khairul Makiriin.

Kedua, pengalihan issu. Sangat mudah menampilkan keramaian dengan menggoreng kasus UAS, agar mata massa melotot ke satu topik dan terpejam pada topik lain. Pasca pemilihan serentak, terlalu banyak kasus yang layak menjadi sorotan, mulai dari siapa membuka topeng siapa, samapi harga mobil para menteri yang mencapai ratusan milyar. Sun Tzu mengatakan, kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya. Dimunculkanlah UAS. Tak peduli itu ceramah usang. Yang penting menyenggol simbol non muslim, sudah cukup.

Lihatlah hasilnya. Tak sulit menebak ini akan meluas dan merebak hingga berhari-hari. Diharapkan terus meluas dan menajam sampai terjadi konflik serius antar umat. Lalu ketika sudah dianggap memasuki kadar berbahaya pada situasi kemanan nasional, maka intensitasnya harus diturunkan dengan memunculkan isu baru. Paling mudah, diredam lewat pendekatan “muslim yang pemaaf”. Salaman, selesai dan case close. Tapi jangan lupa, riuh itu telah berhasil meramaikan dan menggeser perhatian publik.

Ketiga, kekuatan umat Islam ada pada persatuannya, dan tokoh yang bisa mempersatukan umat adalah UAS. Target akarnya paling tidak UAS meminta maaf agar konsolidasi dan kekuatan umat dalam rajutan kehandalan ceramah UAS sedikit berkurang.

Sayangnya, UAS melihat dengan cermat hal itu. UAS tahu bahwa meminta maaf sangat mulia, tapi ada kesan besar di baliknya, dan itu akan melemahkan kekuatan umat. Pilihan tidak meminta maaf bukan tanpa pertimbangan, tapi jauh melihat ke belakang bahwa kasus ini sengaja direkayasa.

 

Komentar
Loading...