Melihat Potensi Kecurangan dalam MTQ dan STQ

Potensi Kecurangan dalam MTQ dan STQ

Mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) dan Seleksi Tilawatil Quran (STQ) adalah bagian besar dalam torehan sejarah penulis. Sejak umur 7 tahun even MTQ yang mulanya setiap tahun sekali selalu saya ikuti baik dari tingkat Kabupaten tingkatat Provinsi, dan bahkan sejak tahun 1999, even MTQ tingkat nasional mulai kuikuti.

Sudah lumrah, sebagai sesuatu yang diperlombakan, maka menjadi yang terbaik atau sang juara menjadi salah satu tujuan di samping berbagai tujuan penting lain. Setiap peserta yang mengikuti salah satu cabang lomba dalam MTQ maupun STQ memiliki harapan untuk menjadi juara. Banyak hal dilakukan demi harapan besar itu.

Saya masih ingat masa kecil dulu. Latihan melentingkan suara dilakukan setiap subuh hari, dengan seabrek tips, mulai dari memasukkan cairan air jeruk ke hidung, sampai berteriak dalam air. Hasilnya luar biasa, banyak perubahan signifikan, dan kesemuanya bertujuan untuk bisa tampil terbaik, apalagi menjadi juara.

Namun, latihan berat menghadapi tiap even MTQ maupun STQ ternyata bukanlah jaminan seseorang menjadi juara, apalagi sampai juara Nasional. Sejak 1999 sampai sekarang, penulis bahkan belum sekalipun menjadi juara di tingakat Nasional. Banyak faktor yang mempengaruhi, baik faktor alamiah, alamiah maupun faktor pengaruh iblis. Yah, ternyata dalam memperlombakan al-Quran sekalipun, iblis juga berperan penting, terutama mempengaruhi hak dan wewenang dewan hakim dalam penilaian sehingga memicu potensi kecurangan dalam MTQ dan STQ.

Seperti diketahui, lomba dalam MTQ dan STQ sangat berbeda dengan pertandingan dalam olahraga, yang mana hasil dari tiap peserta langsung dibuktikan dengan mengalahkan peserta lain. Tapi dalam MTQ maupun STQ, kemenangan peserta ditentukan dengan nilai tertinggi yang ditentukan oleh dewan hakim.

Sampai di sini, potensi kecurangan dalam MTQ dan STQ dari posisi dewan hakim yang juga terdiri dari manusia (memiliki kekhilafan) sangat substansial. Tak jarang seorang peserta ketika tampil sangat memukau, bacaan bagus dan memenuhi unsur kaidah membaca al-Quran yang baik dan benar, tapi mendapat nilai rendah dari hakim. Sebaliknya, dengan pengaruh tertentu, peserta yang tampil biasa-biasa saja, justru mendapat nilai sangat tinggi.

Opini Terkait
1 daripada 304

Sejak muncul ketentuan juara Umum pada MTQ dan STQ, selalu saja yang menjadi juara umum DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, sehingga potensi kecurangan dalam MTQ dan STQ dipacu oleh adanya kejuaraan umum.

Banyak hal yang kemudian menjadi tudingan dari peserta atau kafilah yang merasa dirugikan. Misalnya faktor suku, daerah asal, kedekatan peserta karena kerabat, bahkan banyak yang menuding kalau beberapa dewan hakim telah menerima suap, dari oknum perwakilan kafilah. Semua masih bersifat tudingan dan sangat sulit dibuktikan, pasalnya, dari beberapa kriteria penilaian tampilan peserta, memang ada yang bersifat subjektif atau berdasarkan subjektifitas masing-masing.

Tak heran, banyak sekali upaya yang dilakukan oleh LPTQ (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran) untuk menghindari tudingan potensi kecurangan dalam MTQ dan STQ, diantaranya pemilihan anggota Dewan Hakim perwakilan tiap Provinsi dengan melihat rekam jejak masing-masing, sampai penggunaan IT (informasi teknologi) dalam MTQ dan STQ, bahkan penilaian selisih 2 angka antara dewan hakim satu dengan dewan hakim lain, akan menjadi bahan pemeriksaan pengawasan dewan hakim. Tapi kesemuanya tak cukup memuaskan para kafilah yang merasa dirugikan.

MTQ Nasional KEPRI
Sumber poto: tvrusaknews.blogspot.com

Akhirnya, kesemuanya tentu kembali kepada kejujuran baik dewan hakim maupun sifat legowo dari peserta atau kafilah. Semestinya kesadaran bahwa tujuan utama pelaksanaan MTQ dan STQ bukanlah menjadi juara, dikemas dalam sistem yang lebih baik. Saya pribadi lebih cenderung sepakat jika format juara umum dalam MTQ dan STQ dihilangkan saja, agar persaingan yang terjadi adalah persaingan antar peserta bukan persaingan antar kafilah.

Pihak dewan hakim sendiri mestinya menyadari bahwa alangkah anehnya seorang yang tahu makna dan cara bersikap adil sesuai tuntunan al-Quran justru malah tidak bersikap adil dari penilaian yang dilakukan. Semoga ke depan lebih baik lagi dan potensi kecurangan dalam MTQ dan STQ tidak ada lagi.

Komentar
Loading...