Melihat Puasa menurut Pandangan Para Sufi

Puasa Para Sufi

Ilustrasi

Berkatian dengan jenis dan tingkatan Puasa yang diungkapkan Imam al-Ghazali dalam tulisan saya sebelumnya, salah satu pandangan mengenai puasa yang berbeda dengan puasa kebanyakan adalah puasa dalam pandangan para sufi.

Para Sufi berpandangan bahwa puasa adalah cara untuk menahan diri dari nafsu jasmani dan memutuskan hasrat-hasrat duniawi yang muncul dari pengaruh bisikan-bisikan setan yang ditempatkan pada diri manusia.

Untuk menyikapi bisikan setan itulah, Allah mengaruniakan hati kepada manusia. Hati adalah termasuk bala bantuan dari Allah, tetapi penganugerahan hati tersebut bisa saja malah bergabung dengan barisan setan yang nantinya hanya akan membawa manusia menuju ke jurang kenistaan dan kehancuran.

Untuk menaklukan badan kepada jiwa, adalah perlu adanya cara yaitu dengan jalan melemahkan kekuatan badan demi meningkatkan kekuatan jiwa, dan hal itu telah dibuktikan dari berbagai penelitian para ahli.

Hasilnya bahwa tiada sesuatu yang lebih manjur seperti lapar dan haus, pembuangan kemauan-kemauan hawa nafsu dan mengontrol lidah, hati (pikiran) dan anggota-anggota lain, selain dengan jalan berpuasa. Dari pandangan sufi ini, maka puasa memiliki fungsi untuk menghidupkan jiwa atau hati.

Fungsi puasa menurut para sufi

Opini Terkait
1 daripada 302

Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dalam karyanya Sirr al-Asrar menyatakan bahwa bila seseorang berpuasa hendaknya mampu mengharmonikan kondisi lahir dan batinnya, seperti perutnya yang dikosongkan dari makan dan minum. Jadi harus ada keseimbangan antara puasa dari sisi syariat, dan puasa dari sisi ruhani.

Terkait dengan pendapat itu, Ghulam Mu’inuddin mengatakan, Puasa yang paling baik yaitu puasa dalam dimensi pikiran. Dengan kata lain, ketika puasa tidak memikirkan apapun kecuali Allah.

Puasa yang dikerjakan juga meliputi pengendalian penglihatan dari segala pandangan yang mengarah pada kejelekan dan menjauhkan diri dari percakapan yang tidak bermanfaat seperti, berkata dusta, memfitnah, bicara tidak senonoh dan tindakan-tindakan yang berpura-pura. Singkatnya, orang-orang yang berpuasa seperti itu harus berupaya untuk berdiam diri, dan apabila mereka berkata-kata harus yang baik-baik sehingga jalan untuk mengingat kepada Allah semata akan lebih mudah.

Puasa dalam pandangan para sufi ini memang sangat sulit dilakukan dan hanya orang-orang yang sudah bisa memahami ibadah bukan sebagai perintah tetapi sudah pada taraf memahami ibadah secara hakikat, yang bisa melakukan puasa semacam ini.

puasa dalam pandangan sufi
Ilustrasi

Kita sebagai manusia kebanyakan, tentu masih sulit melakukan puasa dalam pandangan para sufi ini. Hanya orang-orang tertentu yang telah mempunyai nilai ketakwaan kuat dalam hati dan tingkah laku di mana dalam pikirannya yang ada hanya Allah semata tidak ada yang lain. Tetapi yang demikian itu puasa yang dimaksud oleh ajaran agama. Karena dengan jalan berpuasa yang demikian seseorang akan mampu merasakan dengan sebenar-benarnya manfaat dari pelaksanaan puasa.

Komentar
Loading...