Melihat Sisi Lain Aksi Spektakuler Munarman

Aksi Spektakuler Munarman

Aksi spektakuler Munarman berawal dari perdebatan peran ormas terhadap terhadap aksi razia di tempat maksiat, Munarman pun menunjukan beberapa bukti bahwa masyarakat sudah jengah, bosan dengan sikap aparat yang terkesan lamban menangani kasus pelanggaran seperti judi dan minuman keras.

Tamrin, sang Professor kemudian membentak, menunjuk dan berkata, “diam!” berulang kali.

Merasa dibentak, Munarman pun berkata, “Jangan potong pembicaraan saya,” dan, byurrrr…

Banyak penilaian negatif atas tindakan mantan ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) ini, dan yang paling fallacy, ketika hal itu dikaitkan dengan agama, dalam hal ini Islam. Namun dari beberapa penilaian negatif itu, ada pula yang mendukung dan mensuport bahkan menyalahkan si Professor.

“Berani berbuat, berani tanggung jawab. Maju terus bang Munarman. Hampir semua media cetak, TV, kalau memberitakan tentang FPI terkadang yang jeleknya saja, tapi masih banyak hal positif tidak pernah diliput.

“Apakah media ada agenda terselubung?” “Tanaman yang sudah kering, memang butuh air, maka siramlah.” Demikian beberapa contoh ungkapan itu.

Saya akan mencoba melihat sisi lain dari aksi spektakuler Munarman, juru bicara FPI ini. Sisi lain yang saya maksud tentunya bukan hukum, kronologi, atau salah menyalahkan antara Munarman atau Tamrin.

Opini Terkait
1 daripada 304

Pertama: ada hal yang berbahaya dari sikap masyarakat kita kebanyakan. Cara menvonis tanpa melihat sebab dari sebuah kejadian pelak menjadi kebiasaan terutama jika kejadian itu terkait dengan kasus ormas Islam.

Mestinya, sebab diperhatikan dalam menilai sebuah akibat meski sebab baru muncul setelah kejadian. Munarman yang mengaku tidak menyesal melakukan penyiraman ke wajah Thamrin, adalah sebab berikutnya.

Apa maknanya? Bisa jadi Munarman adalah orang berhati batu, namun bisa juga tidak. Mari kita lihat siapa Thamrin Tamalagola maupun Munarman. Thamrin dikenal keras kalau berbicara, pembela salah satu agama dalam konflik Ambon lalu. Dan Munarman pembela FPI juga berhati keras. Thamrin seorang Professor/ ilmuan, dan Munarman hanya pengacara.

Jika melihat standar kelayakan, perilaku kedua orang itu tidak layak. Namun karena kualitas berbeda, maka dua ketidaklayakan akan berbeda pula. Mungkin asumsi inilah sehingga Menteri Agama menyatakan, jika yang dilakukan Munarman kepada Thamrin adalah wajar.

Kedua: kita sulit membedakan, mana perbedaan dan mana arogansi. Cara berfikir tidak mungkin bisa persis, apalagi cara pandang. Makanya sangat dimaklumi kalau perbedaan pendapat itu mutlak. Tapi arogansi adalah perbedaan yang diaktualkan dengan kesombongan dan keangkuhan.

aksi munarman
Poto aksi munarman saat mnyiram air lawan bicaranya

Apa yang dilakukan oleh Thamrin adalah arogansi manusia keumuman dan arogansi seorang ilmuan. Arogansi dengan memotong pembicaraan sambil menunjuk dan berteriak diam kemudian dibalas dengan siraman air oleh Munarman. Banyak penyebutan arogansi dari aksi spetakuler Munarman di media sayang arogansi itu hanya dilekatkan kepada Munarman.

Ketiga: sisi lain dari aksi spektakuler Munarman adalah pengesahan RUU ormas menjadi Undang-Undang. Mungkin cuma kebetulan saja, namun ketika pembahasan RUU tentang ormas di media maka selalau dikaitkan dengan aksi Munarman atau aksi FPI. Yang ketiga ini mungkin cuma kebetulan saja… J

Komentar
Loading...