Meluruskan Makna Jihad yang Menakutkan

  • Bagikan
Makna Jihad
Ilustrasi makna jihad yang menakutkan

Pada saat Abu Bakar ra dibaiat sebagai Kepala Negara (khalifah) pertama bagi seluruh kaum Muslim, beliau menyampaikan pidatonya yang antara lain isinya “tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad, melainkan Allah akan memberikan kehinaan.”

Pernyataan Abu Bakar ra ini sarat dengan pengalamannya berjihad di berbagai medan perang pada masa Rasulullah saw, bukanlah pernyataan retorika, melainkan fakta.

Jihad secara syar’i dimaknai dengan berperang menjadi salah satu dari sekian Hukum Syariat. Melaksanakan jihad berarti menjalankan hukum syariat sebabnya meninggalkannya berarti mencampakkan hukum syariat. Jika merupakan seruan syariat dalam untuk dan sifatnya yang harus dikerjakan. Seruan ini adalah seruan Allah swt, bukan seruan manusia. Seorang muslim wajib menjaga pemahamannya tentang jihad sebagai bagian dari hukum Allah swt dan Rasul-Nya.

Jika jihad adalah sebuah keharusan, maka memahami makna jihad mendapat tempat penting, demi menghindari kesalahan makna jihad sesuai syariat.

Sebagian umat Islam, kadang merasa takut mendengar kata jihad, sehingga enggan mendengarkannya, apalagi mengkaji hukumnya dan menerapkannya, seraya memalingkan wajahnya jauh-jauh dari suara jihad.

Secara bahasa, jihad diartikan sebagai “kesungguhan,” sehingga seseorang yang bersungguh-sungguh belajar, membangun, bekerja dan sejenisnya itu berarti mereka telah berjihad.

Dalam kitab fathul muin, makna jihad memiliki etape tersendiri dalam perjalanan seorang muslim.

Pertama adalah mengajak umat untuk beriman kepada Allah dengan iman yang rasional dan argumentatif sehingga merupakan iman yang berkualitas, bukan iman ikut-ikutan dan berdasarkan keturunan belaka. Kedua, jihad sebagai kesungguhan menjalankan perintah agama. Ketiga, jihad dalam makna perang dengan syarat ketika Islam diganggu. Keempat: jihad sebagai memberikan perlindungan kepada setiap warga masyarakat, muslim atau non muslim, yang memiliki kepribadian baik.

Makna Jihad yang Menakutkan

Beberapa tulisan mendominasi memaknai jihad dari akar kata “juhdun” yang berarti kekuatan. Dari makna jihad ini pulalah, jihad sebagai amal shaleh dihitung dalam bentuk perang.

Mungkinkah jihad itu dengan berperang? Bagi saya mungkin saja. Orang beriman mesti bersaudara adalah perintah tersirat bahwa antara muslim beriman yang satu dengan yang lain harus saling menjaga. Namun, bukan berarti makna jihad dengan perang menjadi sebuah keniscayaan. Karena dengan makna jihad seperti ini, umat Islam akan tergiring kepada sebuah ajaran syar’i yang menakutkan.

Dalam sejarah Islam, 12 tahun Nabi saw berada di Mekah, tak satupun peperangan yang terjadi atas dasar perintah Nabi saw, padahal ayat tentang jihad telah turun pada tahun kelima kenabian atau sekitar enam tahun sebelum Hijrah. Sebelum hijrah, makna jihad lebih tepat diperuntukkan untuk jihad dakwah dan tarbiyah (pendidikan). Sedangkan setelah hijrah, perintah perang dengan menggunakan kata jihad, termasuk tiga kata yang berarti perang atau bertempur yakni al-Ghazwu, al-Qitaal, dan al-Harb yang kesemuanya bermakna perang.

Pernah suatu ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah: “Perbuatan apakah yang paling disenangi oleh Allah?”

Rasulullah menjawab, “Ada 3, yakni salat tepat pada waktunya, berbakti kepada orang tua, dan berjihad di jalan Allah”.

Dengan serta merta sahabat tersebut berkata. “Kalau demikian saya nanti ingin ikut berperang bersamamu, ya Rasulullah!” (kebetulan pada waktu itu akan ada peperangan yang terjadi dalam waktu dekat).

Rasulullah bertanya, “Apakah kamu masih memiliki orang tua?”

Sahabat menjawab, “Ya, orang tua saya masih hidup. Ia sudah tua renta dan tinggal sebatang kara.”

Nabi lalu bersabda: “Kalau demikian, sebaiknya kamu menemani dan memelihara orang tuamu daripada ikut berperang bersamaku; karena hal tersebut merupakan bentuk jihad terbesar untukmu.”

Makna Jihad
Ilustrasi makna jihad yang menakutkan

Kisah tersebut sama sekali tidak memberi sinyal akan makna jihad yang menakutkan, dan bahkan selaras dengan hampir semua makna jihad dalam al-Quran.

Ada dua hal yang harus digunakan dalam berjihad berdasarkan perintah jihad dalam al-Quran, dengan harta dan dengan jiwa. Dua kata ini memiliki bagian masing-masing. Harta bisa berupa uang, keterampilan, dll. Jiwa bisa berupa jasa, keteladanan, maupun nyawa (dalam perang). Kenyataan bahwa umat Islam baru diizinkan perang setelah mereka hijrah ke Madinah mengisyaratkan, bahwa jihad dengan perang bukanlah tujuan akhir.

Sebagai khulashah (kesimpulan); tak satupun ajaran Islam memberi rasa takut terhadap manusia secara keseluruhan apalagi orang Islam sendiri. Jihad adalah ajaran Islam yang mesti dilakukan. Kesalahan memahami melahirkan makna jihad yang menakutkan.

Jihad bukan untuk mati, tapi jihad untuk hidup. Menghidupkan ajaran Islam yang sungguh-sungguh, menghidupkan rasa kebersamaan sesama orang beriman dengan cara yang benar.

  • Bagikan