Memahami Cinta Menurut Islam

Cinta Menurut Islam

Arti Cinta Menurut Islam

Membahas cinta secara umum sedikit sulit karena terkait rasa, apalagi cinta menurut ajaran Islam. Secara bahasa jelas, cinta berasal dari bahasa Sansekerta. Dengan demikian, memahami cinta dalam islam berarti harus mengambil kata yang bermakna cinta dalam al-Quran dengan segala derivasi katanya. Cinta dalam bahasa al-Quran berasal dari kata ahabba-yuhibbu-mahabbatan, yang artinya kecintaan, atau rasa yang mendalam.

Setiap huruf dalam kata dalam bahasa Arab saling berkaitan, meski posisi dan penyebutannya berbeda. Misal, untuk menggali asal kata Ahabba dan kata terkait dengan itu, maka akan dijumpai kata Hubb, yang artinya biji-bijian yang tumbuh. Dari kata ini kemudian ditarik kesimpulan bahwa cinta itu hadir tidak serta merta, tapi berawal dari satu titik yang bisa tumbuh, membesar sedikit demi sedikit. Ibarat biji-bijian yang awalnya kecil, lalu membasar menjadi batang dan bahkan berbuah.

Kata kedua yaitu Hababa, yang berarti jernih. Dari kata ini dimaknai bahwa cinta itu jernih. Ibarat air yang jernih, cinta itu membawa manfaat kepada yang lain. Artinya jika ada ungkapan cinta, hubungan cinta yang berdampak buruk, dipastikan itu bukan cinta.

Kata ketiga yang terkait dengan mahabbah adalah Hibb yang berarti luapan. Ini bermakna bahwa seseorang yang merasa mencintai sesuatu, maka akan muncul rasa yang meluap-luap terhadap apa yang dicintainya. Rasa orang yang mencinta, hatinya seakan tidak cukup menampung dan terasa akan meluap. Ibarat air dalam gelas yang sudah penuh, air itu akan meluap keluar.

Kata keempat adalah Habat yang berarti relung. Artinya, ungkapan cinta dari seorang yang mencinta maka rasa itu berasal dari relung hati yang dalam. “Cinta itu dari mata turun ke hati” bagi saya ungkapan yang kurang tepat, karena cinta yang sebenarnya adalah yang lahir tidak sekedar hati, tapi dari relung hati.

Masih ada kata dalam al-Quran yang identik dengan makna cinta selain mahabbah dan segala kata yang terkait denganya seperti yang sudah ditulis sebelumnya, yaitu Syauq yang berarti rindu, Wadd yang berarti kasih sayang dan Rahmah dengan arti kasih sayang yang lebih dekat dengan kasihan. Namun, saya menganggap rindu, kasih sayang itu hanyalah implikasi dari rasa cinta, bagian dari rasa cinta, bukan cinta itu sendiri.

Cinta yang Dipahami Secara Umum

Cinta adalah rasa. Ungkapan rasa umumnya melalui kata. Mendengar kata cinta apa yang Ada dalam pikiran Anda? Ternyata, kata cinta itu umumnya cenderung menggiring pemikiran kepada hal yang romantis sampai kepada hubungan kikuk lawan jenis. Olehnya itu, kata cinta paling sering ditemui dalam komunikasi pria dan wanita yang orientasinya ingin menjalin hubungan yang romantis.

“Aku mencintaimu.” Saya tak pernah mendengar seorang nenek kepada suaminya. Namun, bukan berarti nenek itu sudah tidak mencintai lagi. Rasa cinta, pun memiliki tingkatan tertentu dan tak selamanya diungkapkan dalam lisan. Misal, cinta orang tua kepada anak-anaknya, cinta murid kepada gurunya, dan cinta kepada alam dan pemandangan yang indah.1 Syeikh Athiyyah Shaqr, Syeikh Athiyyah Shaqr, Fatawa li al-Syabab

Cinta juga kerap dikaitkan dengan usaha mencari pasangan hidup. Banyak kejadian mempelai lari dari pelaminan hanya karena dia dijodohkan. “Tak ada rasa cinta katanya.” (Baca dilema cinta dan logika)

Ada juga yang bertahan meski awalnya, tidak ada rasa cinta. Kenal saja tidak! Dari sinilah ditarik kesimpulan, bahwa cinta di awal hanya salah satu alasan langgengnya sebuah pasangan dan bukan alasan mutlak. Hubungan akan bertahan jika rasa cinta bertahan sejak awal.

Cinta Menurut Islam

Dalam al-Quran, implementasi rasa cinta dengan akar kata habba itu disebutkan dalam surah Ali Imran, “Katakan Muhammad, Jika kamu mencintai Allah, maka ikuti aku, maka Allah akan mencitaimu.” Penjabaran cinta dalam Islam lebih banyak pada pembahasan cinta kepada Allah. Namun pemahaman cinta kepada zat yang Maha Kuasa bisa dikorelasikan cinta terhadap sesama makhluk Nya.

Al-Alusi misalnya menjelaskan bahwa maksud dari kalimat yuhibbu adalah mereka selalu berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. 2al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Azim wa Sabi Mathani, juz 3 (Beirut: Dar al-Ihya, tth). Dalam penafsiran ini, dipahami bahwa ciri orang yang mencintai sesuatu biasanya akan mentaati segala perintah yang dicintainya.

Opini Terkait
1 daripada 89

Pengertian mahabbah yang lain dari al-Junaidi, menurutnya cinta adalah kecenderungan hati pada Allah swt, tanpa merasa diri terbebani. Dalam hubungan sosial rasa cinta yang benar-benar cinta adalah mereka yang mencinta tanpa merasa terbebani. Pengeluaran, pengorbanan, dan segala yang dilakukan kepada orang yang dicintainya, bukanlah beban terhadapnya. Andai pengorbanan itu diberikan kepada yang tidak dicintai, maka itu akan membebaninya.

Islam mengatur penyaluran rasa cinta dalam rangka mendapatkan pasangan dengan sangat detil, dimulai dari proses perkenalan atau ta’aruf. Hubb bisa muncul dari proses ta’aruf. Ta’aruf dilakukan untuk mengetahui latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan kondisi keluarga calonnya sebelum menuju pelaminan. Proses ta’aruf bukanlah antara dua orang, seorang pria dengan seorang wanita saja, melainkan antara dua keluarga.

Setelah ta’aruf, selanjutnya proses khitbah yakni melamar atau meminang, yaitu pernyataan permintaan penjodohan dari seorang pria kepada seorang wanita, atau sebaliknya, secara langsung maupun melalui perantara, untuk maksud melangsungkan pernikahan.

Setelah semua selesai, tahap terakhir adalah tahap pernikahan inilah yang menentukan apakah seseorang telah sah sebagai suami atau istri. Setelah dilangsungkan pernikahan, hubungan inilah sebagai tempat mengimplemetasikan cinta yang sebenarnya. Misalnya, istri dianjurkan selalu berhias untuk suaminya, sebagaimana suami juga harus memperlihatkan segala hal yang disukai istrinya.

Cinta Spektakuler dalam Islam

Ada beberapa kisah cinta dalam Islam yang menjadi catatan sejarah spektakuler dan menjadi teladan pasangan yang saling mencintai;

Pertama: kisah cinta Rasulullah saw dan Khadijah binti Khuwailid. Meski umur Khadijah lebih tua, dari Muhammad, ternyata benih cinta pada Khadijah sudah muncul sebelum menikah.

Nafisah binti Muniyah sebagai penyambung hubungan cinta suci keduanya, menanyakan kesedian Nabi saw, dan Muhammad menjawab “Bagaimana caranya?” Pertanyaan yang seolah-olah menggambarkan bahwa beliau memang telah menantikannya sejak lama.

Setahun setelah Khadijah meninggal, ada seorang wanita yang menemui Rasulullah saw Wanita ini bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak menikah? Engkau memiliki 9 keluarga dan harus menjalankan seruan besar.”

Sambil menangis Rasulullah saw menjawab, “Masih adakah orang lain setelah Khadijah?”

Kalau saja Allah tidak memerintahkan beliau untuk menikah, maka pastilah Rasulullah saw tidak akan menikah untuk selama-lamanya.

Kedua, Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra. Ali bin Abi Thalib termasuk assabiqunal awwalun, orang yang pertama masuk Islam dan paling muda. Terkenal dengan ketampanan dan kecerdasannya. Terpesona dengan putri kesayangan Rasulullah saw. Muslimah dengan gelar Zahra’ yang pernah dilamar sahabat terbaik oleh Abu Bakar dan Umar namun ditolak.

Muslim terbaik dipertemukan dengan jodoh terbaik, sehingga iblis pun tidak tahu tentang hubungan mereka. Sebelum menikah, keduanya sudah saling mencintai. Cinta yang tumbuh, meluap, namun terjaga karena hati suci di bawah syariat Allah swt. Fatimah memendam cintanya kepada Ali sejak lama. Dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari setelah kedua menikah, Fatimah berkata kepada Ali:

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda dan aku ingin menikah dengannya”.

Ali pun bertanya mengapa ia tetap mau menikah dengannya, dan apakah Fatimah menyesal menikah dengannya.

Sambil tersenyum Fathimah menjawab, “Pemuda itu adalah dirimu.”

Loading...