Menyewa dan Memberi Upah Kepada Imam Salat Tarawih; Why Not?

  • Bagikan
memberikan upah kepada imam shalat tarawih

Seperti tulisan saya sebelumnya, bahwa dalam pelaksanaan ibadah salat tarawih (tarwih), terdapat beberapa keutamaan dan hikmah di baliknya. Hikmah penting itu kemudian memicu panitia mengemas kegiatan salat tarawih setiap malam dengan sebaik mungkin. Tujuan utamanya tak lain adalah bagaimana memberikan ruang dan kondisi nyaman terhadap jamaah. Salah satu dari beberapa hal dari usah itu, adalah menyewa imam salat tarawih.

Bukan hal baru, menyewa dan memberi upah seorang imam salat tarawih dalam rangka menciptakan suasana menyenangkan dalam ibadah salat tarawih dilakukan hampir di semua masjid, terutama masjid yang disokong keuangan yang memadai.

Dari pengantar tadi, maka menyewa dan memberi upah imam salat tarawih kemudian menciptakan polemik tersendiri dari sisi hukum Islam dan perbedaan pandangan masyarakat, karena memang pada masa Nabi saw tidak melakukan hal itu.

Banyak argumen yang mengharamkan menyewa dan memberi upah imam salat tarawih. Argumen ini didukung dengan beberapa dalil, diantaranya dalil larangan menjual ayat Allah dengan harga sedikit, dan kekhawatiran seorang imam akan terlalu memikirkan dunia berlebihan dengan pola penyewaannya. Artinya imam adalah jalur dakwah dan bukan jalur profesi, dan seorang juru dakwah harus ikhlas.

Saya berbeda pendapat dengan hal tersebut. Pendapat mengenai menyewa dan memberi upah imam salat tarawih yang tertuang dalam opini ini tentunya dengan argumen dalil dan argumen rasional;

Pertama: menyewa imam salat tarawih adalah bagian dari ijarah. Jika melihat dari pendapat Sayyid Sabiq ra, ijarah adalah pemindahan hak guna manfaat atas suatu barang atau jasa, dalam waktu tertentu tanpa diikuti pemindahan kepemilikan dari barang atau jasa itu. Keahlian seorang imam salat tarawih (tarwih) adalah bagian dari jasa, dan baginya ada hak ujrah (upah).

Perhatikan ayat Allah dalam surah al-Zukhruf: 32 dan surah al-Baqarah: 26 dan hadis Nabi saw yang artinya:

”Apakah mereka yang membagi rahmat Tuhanmu?. Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan dunia, dan kami telah meninggikan mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar mereka dapat memperguanakan yang lain. Dan Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

“Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah, dan Allah Maha Mengetahui dari apa yang kamu kerjakan.”

“Barang siapa yang engkau pekerjakan maka berikanlah upahnya.” (HR. Abd. Razzaq dari Abu Hurairah ra dan Abu Said al-Khudri). Dan masih banyak hadis lain yang tidak sempat saya utarakan dalam celoteh ini.

Ayat dan hadis di atas adalah qiyas (sesuatu yang disamakan karena seukuran) bahwa imam salat tarawih (tarwih) adalah pekerjaan jasa dan wajib baginya upah.

Sampai di sini maka perbedaan terfokus pada apakah imam salat tarawih adalah bagian dari jasa atau bukan?. Bisa dilihat definisi jasa dalam berbagai literatur, dan yang terpenting bahwa skill dari seorang imam salat tarawih tidak datang begitu saja, tapi dengan usaha, waktu, dan dana sebelumnya. Bagi saya, imam salat tarawih adalah jasa dan baginya wajib ujrah.

Kedua: Hemat saya, banyak orang yang keliru mempresepsikan arti ayat “dan janganlah engkau menjual ayat-ayat Allah dengan harga sedikit.” Dan jasa imam salat tarawih adalah salah satu bentuk memperjualbelikan ayat Allah. Bagi saya poin terpenting yang harus dicermati adalah objek transaksi adalah jasanya dan bukan ayatnya.

Ketiga: Banyak pula alasan pelarangan imam salat tarawih ini dengan komitmen seorang dai (juru dakwah) terhadap keikhlasan memperjuangkan agama di jalan Allah. “Allah yang akan mengganti, Allah yang Maha memberi, dst.”

Demikian beberapa prinsip yang dipakai untuk itu, yang kemudian menganalogikan bahwa imam salat tarawih pun tak perlu diberikan ujrah (upah), dan itu haram.

Mari kita melihat seorang motivator hijrah, sebut saja Mario Teguh, menebar ajakan kebaikan bahkan tak sedikit dengan argumen dalil ayat atau hadis. Mereka dibayar mahal untuk itu. Bukan apa yang mereka ajarkan, tapi skill menyampaikan sehingga orang lain bisa memahami adalah jasanya. Karena jika ajarannya, tak susah menyebut nama buku (bahkan bisa sama) yang bisa dibaca dan tak perlu disampaikan. Apa perbedaan motivator dengan dai selain namanya?

Apa yang dilantunkan oleh seorang imam salat tarawih juga bisa kita lakukan, apa yang dibaca dalam salat pun juga bisa kita baca dalam salat, tapi menampilkan bacaan dengan baik sehingga membuat jamaah khusyu dalam beribadah, itu adalah skill dan patut dihargai sebagai jasa.

  • Bagikan