Mencari Tuhan dan Subjektifitas Pencari Tuhan

Mencari Tuhan kini bukan lagi sesuatu yang dianggap tabu, dan dipandang sebagai upaya klasik jaman dahulu jauh sebelum masehi. Yang biasa merasakan kenikmatan beribadah, mudah mendapat sugesti melakukan pencarian terhadap Tuhannya. Selain itu, potensi akal tanpa batas sesuai dengan fungsinya menyeret manusia menjadi mahluk serba ingin tahu, sehingga manusia berusaha mencari jawaban setiap objek yang tertangkap oleh akalnya, temasuk Tuhan.

Terkadang mencari Tuhan mejadi bahan unik untuk dikaji. Di Tibet misalnya, para pencaru Tuhan berjalan dan berlutut setiap tiga langkah, untuk mencapai istana Potala yang menurut mereka Tuhan ada disana. Beda denngan sebagian orang di Jawa, mereka mencari Tuhan dengan bersemedi atau bertapa di tempat tertentu. Rumi dengan aliran tarekatnya lain lagi, berusaha menemukan Tuhan dalam nyanyian dan tarian.

Sewaktu masih kuliah dulu, kerap saya melihat sosok lusuh dengan pakaian compang camping berkeliaran di sekitar kampus. Lama baru saya mengetahui, bahwa yang bersangkutan gagal menemukan Tuhan dalam definisi tesisnya, akhirnya menyebabkan kondisi fisiknya tidak stabil.

Bagi saya mencari Tuhan adalah pekerjaan yang hasilnya pasti subjektif. Kenapa? Karena wujud Tuhan tidak mungkin dibatasi oleh akal manusia. Jalaluddin Rumi dan pengikutnya, tentu memiliki bahasa yang berbeda dengan para pencari Tuhan lainnya. Fatalnya, terkadang sekelompok pencari Tuhan memaksa orang lain untuk mempercayai dan mengikuti cara atau kepercayaan mereka.

Opini Terkait
1 daripada 92

Akal manusia hanya bisa menjangkau dengan logika bahwa Tuhan itu ada. Fungsi akal hanya bisa memikirkan, dan tidak bisa menjustifikasi al-Haq dengan logikanya. Itulah sebabnya, temuan pasca mencari Tuhan, biasanya sulit diterima apabila mencoba merumuskannya dengan akal.

Untuk memahami hal itu, Tuhan mengilustrasikan “Aku lebih dekat dari nadimu.” Seorang yang putus urat nadinya, akan menghembuskan nafas terakhir. Nadi adalah kehidupan. Jika Tuhan lebih dekat dari kehidupan itu sendiri, maka jelas Tuhan senantiasa hadir bersama manusia. Lalu bagaimana cara mencari Tuhan?. Sederhana, ketahuliah untuk apa manusia hidup.

“Setelah menyempurnakan bentuknya (manusia), kemudian aku tiupkan ruh-KU ke dalam dirinya.” (QS. Shad). Jadi, mencari Tuhan adalah proses mengenal diri sendiri, jauh, tidak terbatas hanya pada soal yang terbatas saja.

Loading...