Mencintai Rasulullah Muhammad saw dengan Merayakan Maulid

Mencintai Rasulullah dengan Maulid

Bulan kelahiran Rasulullah Muhammad saw sebentar lagi berlalu. Umat Islam merayakan hari kelahiran sosok mulia pada bulan ini dengan cara mereka masing-masing. Perayaan maulid ramai hampir di tiap masjid. Para dai pun keteteran memenuhi undangan ceramah yang lebih padat dari biasanya.

Tidak semua orang merayakan maulid Nabi Muhammad saw. Itu tak masalah! Yang masalah jika saling menyalahkan. Mereka yang merayakan maulid menyalahkan yang tidak merayakan. Sebaliknya, yang tidak merayakan, nyinyir terhadap mereka yang merayakan. Bagi saya, poin penting dari perayaan Maulid adalah wujud cinta atas kehadiran Rasulullah Muhammad saw.

Mencintai Rasulullah Muhammad saw

Kalau perbuatan sudah pada wilayah cinta, akan sulit dicerna dan dipahami bagi yang tidak mencinta. Demikian pula orang yang jatuh cinta kepada Rasululullah Muhammad saw, apa yang dilakukan seseorang terhadap yang dicintainya sulit dipahami. Sialnya, kalau perilaku orang mencintai dihukumi sebagai perbuatan yang tidak benar.

Sebagai wujud cinta kepada Rasulullah Muhammad saw, ada yang melantunkan syair-syair khusus untuk sosok yang mereka cintai. Saking cinta nya, syair itu dinyanyikan dengan memutar-mutar sorban di atas kepala. Ada? Ada!

Ada yang membawa telur dan menjadi tradisi pada waktu tertentu. Telur dikemas bersama Songkolo’, plus bunga-bunga sebagai hiasan. Ada yang memukul rebana sambil bershalawat karena cintanya. Dan masih banyak perbuatan-perbuatan cinta yang tak mungkin dihukumi oleh orang yang tidak menggebu cintanya pada saat yang sama.

Kenapa mencintai Rasululullah Muhammad saw harus dengan cara demikian? Bukankah itu tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, Tabi’in, dan para ulama salaf?

Jawabannya ada dua; pertama, perilaku orang mencintai tidak mesti sama. Saya mencintai kedua orangtua ku, saudaraku juga demikian. Perilaku saya dengan saudara saya yang sama-sama mencintai, tidak mesti sama. Sahabat, dan para ulama terdahulu, mencintai Rasulullah Muhammad saw, ada banyak cara mereka melampiaskan cintanya. Bahkan banyak yang kita belum tahu. Dalam sebuah catatan, ada ulama yang mengucapkan shalawat 100 ribu kali setiap hari sebagai wujud cintanya kepada Rasulullah saw.

Dulu, ada seorang penyair yang sangat terkenal bernama Farazdaq. Farazdaq sangat mencintai Rasulullah Muhammad saw. Sebagai wujud kecintaannya, setiap hari dia memuji Rasulullah saw dengan syair buatannya.

Saat menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasulullah saw, dengan syair yang dibuat dia membaca di depan makam sosok yang dicintainya. Seorang diam-diam mendengarkan kaliamt syair pujian yang dilantunkan.

Setelah selesai, orang itu menemui Farazdaq dan mengajaknya makan siang ke rumahnya. Farazdaq menerima ajakan orang tersebut dan setelah berjalan jauh hingga keluar dari Madinah al-Munawwarah sampailah keduanya di rumah yang dituju.

Sesampainya di dalam rumah, orang tersebut memegang Farazdaq dan berkata “Sungguh aku sangat membenci orang-orang yang memuji-muji Muhammad, dan ku bawa engkau ke sini untuk ku gunting lidahmu!”

Orang itu memegang erat lalu menarik lidah Farazdaq, mengguntingnya dan berkata: “Ambillah potongan lidahmu ini dan pergilah untuk kembali memuji Muhammad!”

Farazdaq menangis karena sedih dan rasa sakit yang amat sangat. Dia tidak lagi bisa membaca syair memuji sosok idaman dengan lidahnya. Kemudian dia datang ke makam Rasulullah saw seraya berdoa “Ya Allah jika penghuni makam ini tidak suka atas pujian-pujian yang aku lantunkan untuknya maka biarkan aku tidak lagi bisa berbicara seumur hidupku, karena aku tidak butuh kepada lidah ini kecuali hanya untuk memuji-Mu dan memuji Nabi-Mu. Namun jika Engkau dan Nabi-Mu ridha maka kembalikanlah lidahku ini ke mulutku seperti semula.”

Farazdaq terus menangis hingga tertidur. Dalam tidurnya dia bermimpi berjumpa dengan Rasulullah saw yang berkata kepadanya “Aku senang mendengar pujian-pujianmu, berikanlah potongan lidahmu.”

Lalu Rasulullah saw. mengambil potongan lidah itu dan mengembalikannya pada posisinya semula. Ketika Farazdaq terbangun dari tidurnya, dia mendapati lidahnya telah kembali seperti semula.

Betapa banyak pelajaran dari kisah Farazdaq dalam mencintai Rasulullah Muhammad saw. Hal paling penting, bahwa Allah swt. mencintai orang-orang yang suka memuji Nabi Muhammad Nya, karena pujian kepada Nabi Muhammad Nya, disebabkan oleh cinta. Banyak memuji Nabi Muhammad saw, berarti banyak rasa cinta kepadanya.

Opini Terkait
1 daripada 212

Kedua, banyak orang yang melihat agama sebagai hanya hukum. Agama = Syariah. Syarih = Fikih!

Benar bahwa agama itu tidak kacau, karena agama berisi aturan samawi, atau aturan langit. Islam adalah agama benar, karena mengandung aturan yang membimbing umat mencapai akhlak yang baik dengan aturan itu. Cakupan aturan itu disebut syariah, ilmunya disebut fikih.

Namun, sesungguhnya agama cakupannya sangat luas, dan syariah adalah bagian yang mengatur umat. Masih banyak bagian penting dalam agama, dan bahkan Muhammad saw diutus untuk menyempurnakan akhlak bukan menyempurnakan Fikih.

Bulan lalu, jalan di Makassar tiba-tiba macet parah. Jalan dipenuhi sesak oleh konvoi anak muda bermotor dengan pakaian merah-merah. Jangankan taat aturan lalu lintas, tidak memakai helm, knalpot bising, bahkan mengganggu pengguna jalan lain. Mereka menyambut kemenangan tim idola, yang mereka cintai, yang mereka banggakan, PSM Makassar.

Apakah salah yang mereka lakukan? Dari sisi hukum, bisa saja. Tapi hidup ini bukan cuma dikuasai hukum Ferguso! Mungkin itulah sebabnya, mereka dibiarkan oleh aparat. Bukan pembiaran hukum, tapi karena yang mereka lakukan hanya pelampiasan rasa cinta, dan rasa cinta itu menggebu-gebu sesaat.

Begitulah cinta. Kadang cinta kepada Rasulullah saw jika dilihat dari kacamata Fikih, akan divonis bid’ah, bid’ah masuk neraka. Neraka panas, kekal di dalamnya. Sangat menakutkan!

Berkah merayakan maulid

Benturan besar akan terjadi antara para pecinta dengan para penganut agama yang tidak terima dengan perilaku orang mencintai yang dianggap bertentangan dengan syariah.

Ada baiknya, merayakan kemenangan tim idola dilakukan tanpa melanggar aturan dan tidak mengganggu. Demikian pula, perilaku orang yang mencintai Rasulullah Muhammad saw, melampiaskan rasa cintanya dengan tidak melanggar syariah.

Banyak orang merayakan maulid bukan karena cinta, bukan pula karena memahami syariah. Mereka melakukan karena ikut-ikutan. Harapan besar dari ikut-ikutan itu, adalah munculnya rasa cinta, dan keinginan memahami syariah. Maka sangat tepat, saat perayaan maulid, ada pengajian, ada ceramah, dst.

MENCINTAI-RASULULLAH-DENGAN-MAULID.jpg
Ilustrasi

Saya punya teman, yah banyak orang menyebutnya nakal, preman, atau apalah. Jangankan shalat berjamaah, mendekati masjid saja dia malu.

Suatu hari dia curhat ke saya yang menyiratkan keinginannya untuk berubah. Satu hal yang tentu menjadi kendala, karena dia malu. Malu ke masjid, dan malu bergabung dengan orang yang berbeda dengan dia.

Singkat cerita, apa yang membuat dia berubah? Perayaan maulid. Dia mengangkut ratusan ember berisi telur dan Songkolo’ ke masjid dengan mobil. Ada puluhan masjid yang dia datangi. Dia tidak masuk, dia hanya di luar mendengar.

Sampai sekarang teka-teki belum terjawab. Dia sangat suka mendengar ceramah, dan dia sudah tidak malu-malu lagi ke masjid. Mungkin inilah berkah Maulid, berkah mendengar Shalawat

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Loading...