Menemukan Kembali Tujuan PORAK

0 21

Pekan Olahraga Kecamatan (PORAK) tingkat Kabupaten Wajo, adalah kegiatan tahunan yang terbilang positif jika terlaksana sesuai dengan tujuan semestinya.

Dalam catatan penulis, sudah tiga tahun acara ini dilaksanakan, setelah absen selama puluhan tahun. 2017 PORAK digaungkan kembali, tapi sayang tujuannya seakan hilang tak tahu kemana.

2019, momen PORAK adalah kesempatan menemukan kembali tujuan dari pelaksanaan PORAK itu sendiri. Tujuan itu harus tepat guna dan tepat sasaran, agar APBD yang digelontorkan untuk acara itu pun efektif dan efesien.

Penulis melihat ada empat tujuan utama dari pelaksanaan PORAK. Pertama, pada ajang inilah pengurus KONI Kabupaten bisa menemukan bibit potensial atlet untuk jenjang pertandingan yang lebih tinggi.

Artinya, pelaksanaan PORAK sedikit banyak membantu Pemerintah Daerah agar tak perlu merogoh kas daerah untuk menjawab proposal perekrutan atlet secara mengkhusus untuk cabang olahraga tertentu, karena memang dalam PORAK, tidak semua cabang olahraga dipertandingkan.

Sekali mendayung dua tiga pulau terlampau. Cabang olahraga sepak bola, atletik, sepak takraw, bola volley, dan catur yang dipertandingkan pada PORAK menjadi ajang menemukan atlet potensial untuk dibina menghadapi ajang olahraga pada tingkat yang lebih tinggi.

Hal yang menyedihkan, saat PORDA 2018 lalu di Pinrang, Wajo hanya mampu berada di peringkat 17 gagal dari target 15 yang direncanakan, bahkan kalah dari Kabupaten kecil, Takalar dan Sinjai.

Bukan saatnya saling menyalahkan, tapi menemukan formula yang tepat menemukan dan menjawab masalah utamanya ada di mana.

Kedua, momen PORAK adalah momen silaturahmi antar kecamatan yang dikemas dalam bentuk persaingan meraih tempat terbaik pada masing-masing cabang yang dilombakan.

Panasnya suhu politik saat pilkada lalu akan mudah dicairkan dari momen PORAK ini. Apalagi, menghadapi liarnya gonjang ganjing Pemilu serentak 17 april yang bisa merusak tatanan hubungan sosial masyarakat.

Pada PORAK terdapat ruang pertemuan dan ruang keterlibatan perwakilan kecamatan yang dikemas dalam bentuk persaingan sehat. Dari sinilah para peserta akan mencoba merefleksikan persaingan untuk satu tujuan yang sama, silaturrahmi.

Persaingan yang baik bukan berarti menurunkan semangat menjadi yang terbaik, akan tetapi bagaimana mewujudkan semangat itu dalam filosofi sosial bermasyarakat; sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge.

Ketiga, momen PORAK adalah celah menghidupkan kembali olahraga dan permainan tradisional. Disadari atau tidak, permainan tradisional adalah jawaban atas efek negatif game yang menjangkiti generasi millenial saat ini.

Siapa sangka, aksi brutal teroris Selandia Baru yang menewaskan 49 muslim saat akan beribadah, berasal dari inspirasi game online PUBG. Inspirasi semacam itu, tidak menutup kemungkinan menjangkiti generasi di daerah termasuk generasi di Wajo.

Sudah saatnya generasi millenial diperkenalkan dan dibiasakan kembali dengan permainan tradisional mereka. Ini perlu motivasi dan pemicu, dan PORAK adalah titik starnya.

Tarompah, Dagongan, Maccukke, dll, adalah permainan tradisional yang lambat laun akan dilupakan dan selanjutnya akan punah. Semua bertanggungjawab melestarikan itu, dan ini bisa dimulai dari PORAK. Pemerintah punya andil akan hal itu.

Ilustrasi

Keempat, PORAK adalah ajang menemukan para penjilat. Kok kesannya kasar ya… penjilat yang saya maksud di sini adalah para oknum yang lebih menekankan bagaimana memperlihatkan skill pedekate pribadi pada atasan untuk tujuan yang tidak sesuai dengan tujuan PORAK semestinya.

Ini banyak ditemukan di berbagai kecamatan. Saat PORAK adalah tempat bertanding menemukan bibit atlet potensial, justeru atlet olahraga tidak diperhatikan. Yang diperhatikan lebih justeru defile kecamatan dengan menggelontorkan biaya fantastis.

Saya tak habis pikir kenapa itu terjadi? Defile hanya penampilan sejenak, tidak terhitung dalam akumulasi perolehan juara umum. Lalu? Apa karena defile itulah yang akan tampil langsung di depat petinggi pemerintah? Miris….

Budaya kerjain orang juga sangat kental. Atlet peras keringat banting tulang untuk sebuah nama dan prestasi, lalu dengan mudah hal itu diakusisi secara gratis oleh para penjilat berbekal pintu masuk yang mudah bagi mereka.

Sudah saatnya para pemimpin yang diharapkan menemukan mereka di ajang ini. Akan nyata terlihat, siapa yang benar-benar punya keinginan mencapai tujuan, siapa yang hanya memanfaatkan momen.

Kepala daerah bisa memanfaatkan dan mengurangi hal ini dengan meluangkan waktu melihat peserta bertanding. Ini penting, karena dengan begitu, lapangan pertandingan akan ramai memberi semangat kepada mereka calon atlet potensial tadi. Jangan sampai, PORAK hanya ramai saat pembukaan dan penutupan, dan para penjilat sudah pandai akan hal itu.

Demikian opini singkat ini, semoga memberikan narasi baru dalam menyikapi tujuan PORAK yang akan dibuka pagi ini. Tujuan PORAK jangan sampai hilang, sedapat mungkin tercapai dengan penuh makna dan manfaat. Salam dari Belawa….

Komentar
Loading...