Menemukan Tuhan dalam Dialektika Beragama

Hampir seluruh manusia mempunyai agama. Islam, kristen, Yahudi, Kunghucu, Buddha, Hindu, Kejawen, Taoisme, Paganisme, dll. Tuhan mereka pun bermacam-macam, dari mulai yang berbentuk sampai yang tak terbentuk. Kita tahu ada Tuhan Allah, Yesus, Yahweh, Sanghiang Widi, Dewi Kuwan’im, dll.

Entahlah, dari sejarah kehidupan manusia, semua orang beragama sangat mendominasi dunia dan menyigkirkan kaum atheis maupun agnostik. Dinamika kehidupan para penganut agama di dunia ini sangat dipenuhi konflik antara mereka sendiri.

Perang salib pada abad pertengahan sampai konflik poso pada awal abad 21 bisa menggambarkan bahwa agama-agama sangat “hobi” berkonflik.

Dan lucunya, agama yang mengaku mempunyai ajaran yang sangat mulia malah sukanya menebar konflik dan kekerasan. Rasanya, akal logisku tak bisa menerima. Dan tak pernah terjadi pula bahwa yang perang adalah agama versus kaum atheisme misalnya. Entahlah, mungkin karena penganut “atheis” ini sangat tawadu’ dan cinta damai sehingga tak pernah perang.

Lihatlah dalam Islam dikutip dari kitab al-Quran: “dan bunuhlah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, dan tidak beriman kepada hari akhir, dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah swt dst..

Rukun iman yang pertama menyatakan bahwa ‘beriman kepada Allah’. Rukun Islam yang pertama pun berisi persaksian ‘tidak ada Tuhan selain Allah’. Jelaskan? Jika kau tidak percaya pada Tuhannya orang Islam, kau tidak bisa masuk Islam. Karena mempercayai Tuhan merupakan hal yang paling dasar dalam beragama, begitu kata pelajaran aqidah Islam yang ku pelajari dulu. Lalu, pertanyaannya, bagaimana aku harus membuktikan bahwa doktrin dalam beragama itu bukan ‘palsu’?

Opini Terkait
1 daripada 304

menemukan tuhanMari kita bergeser sedikit dari agama ke filsafat. Para filosof sejak jaman aristoteles dulu telah menjadikan Tuhan sebagai bahasan utama mereka. Awal pertanyaan mereka jelas, dari mana kita berasal? Siapa yang menciptakan alam ini? singkat cerita, akhirnya mereka mendapatkan jawabannya yaitu Sang Pencipta segala hal, Tuhan.

Lalu bagaimana mereka meyakinkan rasionalitas mereka bahwa Tuhan benar-benar ada? Para filosof terus berpikir untuk membuktikan bahwasanya Tuhan benar-benar ada. Walaupun banyak teori yang telah dihasilkan, tetapi tetap saja tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan benar-benar ada secara empirik. Alasannya selalu klise, Tuhan tak akan pernah bisa dibuktikan secara empirik.

Membuktikan Tuhan yang tidak terbatas dengan yang terbatas jelas tidak mungkin. Lantas dengan apa kita bisa membuktikan bahwa tuhan yang tidak terbatas itu benar-benar tuhan?

Bukankah tuhan yang meniupkan ruh kepada manusia sehingga ketika ruh itu meninggalkan jasad “manusia” hanya bisa dikatakan mayat?. Masalah baru muncul, siapa dan apa ruh yang tidak terbatas itu?. Apakah ruh itu adalah “diri” kita?, kalau bukan, dengan apalagi kita bisa menemukannya.

Ikan ketika berada dilautan yang maha luas, bertanya kepada ikan lain “di mana air berada”?, ikan lain menjawab “kami juga sementara mencarinya”..ilustrasi ini menjadi inspirasi ringan untuk menemukan DIA.

Aku bukan tidak percaya akan adanya Tuhan. Aku hanya ingin membuktikannya agar bisa semakin mencintai-Nya. Dan yang paling penting, aku tidak ingin menjadi munafik dalam berpikir.

Entahlah, hanya ‘Tuhan’ yang tahu.

Komentar
Loading...