Perbedaan Cinta dan Nafsu, Contoh, Serta Cara Mengendalikan Nafsu

Cinta dan Nafsu

“Ini cinta atau nafsu ya? Entah apakah dia mencintaiku atau dia hanya bernafsu padaku?” Pikiran ini kerap menyelimuti seorang wanita yang sedang ta’arufan, lebih fatal lagi wanita dalam kondisi berpacaran.

Wanita yang sadar akan hubungan spesialnya dengan seorang pria, penting untuk mengetahui perbedaan cinta atau nafsu. Cinta atau sekadar nafsu, atau mungkin cinta yang dibarengi nafsu.

Antara cinta dan nafsu sudah menjadi objek penelitian sosiologi sejak lama. Cinta dan nafsu dalam ukuran individu masuk dalam kajian psikologi. Sebut saja misalnya penelitian Terri Orbuch yang meneliti ratusan pasangan hanya untuk mengetahui perbedaan cinta dan nafsu.

Jangan anggap sepele! Pada pasangan sah saja, sangat penting mengetahui apakah pasangan masih ada rasa cinta atau tinggal nafsu saja. Pada pasangan yang sah, keduanya tentu dibutuhkan. Berbeda pada pasangan yang masih pada tahap penjajakan, nafsu tidak dibutuhkan.

Perbedaan cinta dan nafsu

Ada beberapa perbedaan cinta dan nafsu. Saya garis bawahi menjadi empat poin utama, yaitu: hubungan, ketertarikan, komunikasi, dan penampilan.

Hubungan

Orang yang mencintai akan berhubungan dengan orang yang berada di sekitar orang yang dicintainya. A mencintai B. B memiliki hubungan pertemanan, keluarga, atau kerabat dengan C, D, E dst. Maka, A juga akan berhubungan atau berusaha berhubungan dengan C, D, E.

Berbeda dengan orang yang hanya hadir dengan nafsu. Ada perasaan takut, kawatir, hubungannya diketahui oleh orang-orang disekitar siapa yang dicintainya. Ketakutan itu bahkan berubah menjadi cemburu. Kepercayaan kepada orang yang dicintainya berkurang dan beralih kepada kecurigaan berlebihan.

Ini berlaku bagi pasangan suami istri juga. Seorang suami yang tertutup dengan orang di sekitar istrinya, atau defensif dengan istrinya berlebihan, cemburu, khawatir berlebihan, maka nafsu lebih menguasai dibanding rasa cintanya.

Ketertarikan

Ketertarikan seorang yang mencintai, berbeda dengan ketertarikan seorang yang bernafsu. Seorang pria yang mencintai maka dia tertarik dengan objek yang dicintainya secara utuh. Kalau toh ada kekurangan, maka kelebihan meski kecil akan menutupi kekurangan itu.

Berbeda dengan orang yang bernafsu. Orang yang bernafsu hanya fokus dengan fisik objeknya. Olehnya itu, berhati-hatilah dengan wanita dengan fisik yang cantik, memancing, bahenol, bohay segala macam, karena itu sangat rentan memancing nafsu pria yang melihatnya.

Pria bernafsu karena ketertarikan fisik akan kelihatan dari caranya memandang. Tatapannya menjurus ke titik-titik fisik yang membuatnya terpancing. Karena nafsu identik dengan ketertarikan fisik, maka pasangan yang hadir hanya dengan nafsu akan menyukai apa yang dilihat saja, tanpa peduli tentang sesuatu yang tidak terlihat seperti pemikiran, persepsi, rasa, atau tujuan hidup orang yang menjadi objeknya.

Komunikasi

Mengetahui perbedaan cinta dan nafsu juga bisa dilihat dari cara berkomunikasi dengan pasangan. Yang paling mendasar adalah penggunaan kata. Kata yang mewakili kamu dan dia, atau kamu dan keluarga, maka itu adalah tanda cinta. Berbeda jika pasangan menggunakan kata individu sepihak dan memisahkan kamu dan dia, “saya, kamu,” maka dia cenderung bernafsu.

Begitupula dalam penggunaan kalimat. Kalimat yang bermakna melepaskan diri dari masalah, tak mau tahu, atau kalimat yang menyanjung berlebihan dan berulang, cenderung bernafsu. Orang yang mencintai akan menggunakan kalimat berisi solusi jauh dari kesan egois.

Opini Terkait
1 daripada 38

“Kamu sih!” “Saya kan sudah bilang.” Kalimat orang yang cenderung bernafsu.

“Ada baiknya kita begini.” Untunglah hanya seperti itu, sehingga kita bisa begini.” Kalimat orang yang mencinta.

Nah, saat berkomunikasi, gaya pria yang cenderung lebih bernafsu saat berbicara, tatapannya nakal, dan lebih sering menatap bibir dibanding mata pasangan.

Penampilan

Penampilan seorang yang mencintai lebih konsisten. Suka tampil menarik bukan hanya saat menginginkan sesuatu pada pasangannya saja, tapi dia tampil murni untuk menyenangkan pasangannya, dan tanpa keinginan lain.

Seseorang yang hadir dengan nafsu ingin membuat dirinya diperhatikan dengan segala cara, tapi itu sementara saja. Setelah semua yang diinginkan oleh nafsunya, penampilan yang menarik itu sudah tidak dipedulikan, kecuali kepada orang baru.

Perbedaan cinta dan nafsu
Image info Perbedaan cinta dan nafsu

Cara memunculkan cinta dan menahan nafsu

Saat perang Badar, sahabat berkata kepada Nabi saw, “Kita baru saja melakukan peperangan terbesar.” Kemudian Nabi saw menjawab “Tidak, perang terbesar adalah perang melawan hawa nafsu.”

Nafsu dalam konteks hadis ini sifatnya umum, semua bentuk nafsu; nafsu marah, nafsu lawwamah, maupun nafsu yang lain. Intinya, nafsu sangat dengan kondisi negatif. Terlebih lagi, nafsu terhadap lawan jenis.

Bagi pria baik yang sudah maupun belum menikah, memiliki nafsu itu wajib adanya, yang perlu dijaga bagaimana mengendalikan nafsu itu kepada hal-hal positif. Antara cinta dan nafsu kadung beriringan. Jika mampu mengendalikan nafsu, maka cinta akan bertambah terutama dari pasangan.

Sangat elok kita belajar dari kisah Yusuf as, yang selamat dari godaan Imra’atul Aziz. Yusuf as, mampu mengendalikan nafsu, dan pada akhir cerita, rasa cinta istri raja padanya semakin bertambah.

Mulailah dari pandangan. Semakin terjaga pandangan dari hal-hal yang memacing nafsu, maka semakin terkendali nafsu yang ada dalam diri. Itulah sebabnya, Tuhan memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga pandangan. Sisakan pandangan terbaik untuk pasangan yang sah dengan cinta suci kelak.

Kedua, dari pikiran. Kadang kita selamat dari pandangan yang bisa memicu nafsu tapi pikiran tidak. Lahirlah fantasi, angan-angan, khayalan, sehingga memicu hasrat dan nafsu yang akhirnya tidak terbiasa dikendalikan.

Cinta akan terpendam jika pandangan mata atau khayalan menguasai. Terhadap pasangan juga demikian!

Ketiga, kendalikan nafsu dari pengaturan nafas. Orang yang bernafsu beriringan dengan nafas yang memburu. Nafsu akan stabil seiring nafas yang stabil. Sangat penting membiasakan diri mengatur nafas agar tetap stabil, terutama dalam kondisi nafsu yang naik.

Semoga bermanfaat

Loading...