Mengenal Tabu, Pamali, Pemmali, atau Taboo

Apa itu Tabu atau pamali?

“Jangan bahas itu ah, tabu!” Kalimat yang sering kita dengar sebagai bentuk pelarangan sosial terkait tindakan, benda, dan ucapan. Kata tabu disebut berbeda di setiap daerah. Dalam bahasa bugis, tabu biasa diistilahkan Pemmali. Mirip bahasa Sunda yang menyebut Tabu dengan Pamali.

Captain James Cook memperkenalkan kata Taboo sebagai Euphemistic Word atau penghalusan kalimat yang di baliknya ada kandungan makna pelarangan. Taboo berasal dari bahasa Tongan, yang merupakan rumpun bahasa Polynesia.

Tabu ibarat doktrin orang dulu yang ditanamkan dalam benak sehingga menjadi keyakinan yang turun temurun. Bisa juga doktrin itu karena didukung dengan kejadian sesuai efek tabu yang disebutkan.

Guru saya menyebutkan bahwa Pemmali atau tabu berasal dari fi’il madhi yang maksudnya pernah terjadi di masa lalu dan Pemmali ini konotasinya negatif. Oleh karena pernah terjadi di masa lalu dan itu negatif, maka hindari dan jangan dilakukan.

Contoh Tabu, Pamali, Pemmali, atau Taboo

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tabu tabu, pamali, pemmali, atau taboo, hadir dalam kata, benda, dan tindakan. Tabu dalam kata misalnya, “kamu wanita jangan keluar malam, nanti kamu hamil!”

“Hus jangan bilang begitu, pamali, tabu!”

Kata hamil sebenarnya biasa saja, tapi dalam kalimat tadi kata hamil butuh penghalusan, atau kalau perlu tak usah menggunakan kata itu. Ada kesan terlalu jauh sehingga itu dianggap pamali.

Tabu dalam kata terkadang dipengaruhi oleh siapa dan bagaimana kata yang tabu itu diucapkan. Misalnya membicarakan alat vital secara pribadi akan dianggap biasa. Tapi membicarakan alat vital dalam group WA yang anggotanya pria dan wanita, akan dianggap tabu.

Tabu terhadap benda biasanya dimaksudkan bagian tubuh. Misalnya, jangan menjunjung dua tangan di kepala, itu tabu! Konon kalau sering menjunjung tangan, orang tua akan meninggal.

Atau jangan menopang dua tangan dengan dagu, tabu! Suka menopang dagu dengan dua tangan, rezeki bakal tidak lancar. Tabu dalam hal ini bukan tindakan menopang dagunya, tapi menopang dagu dengan dua tangan, karena jika satu tangan tidak dianggap tabu. Aneh bukan?

Tabu dalam bentuk tindakan juga tidak sedikit. Di Pantai Selatan, masyarakat dilarang berada di bibir pantai dengan memakai pakaian berwarna merah. Tabu katanya!

Opini Terkait
1 daripada 123

Di kampung saya, anak laki-laki yang barusan sunat dilarang kemana-mana, khawatir injak tahi ayam. pemmali, tabu! Katanya.

Para psikolog menggolongkan tabu dalam tiga bentuk; 1) Taboo of Fear, yaitu tabu karena anggapan adanya kekuatan yang menakutkan dan dipercaya dapat membahayakan kehidupan. Misalnya menyebut kata setan; 2) Taboo of Delicacy, yaitu pelarangan penyebutan atas sesuatu yang tidak nyaman. Misal penyakit ayan, dll; 3) Taboo of Propriety, yaitu tabu yang berkaitan dengan bagian tubuh tertentu. Misalnya, laki-laki yang menyebut bagian tubuh perempuan.

Sesuatu yang dianggap tabu, bukan berasal dari aturan hukum maupun aturan agama, tapi ketakutan orang akan sesuatu yang tabu kadang melebihi ketakutan terhadap larangan hukum dan agama.

Jangan lakukan itu, tabu! Jangan lakukan itu, agama melarang! Sialnya, Banyak orang lebih mengikuti sesuatu karena alasan tabu dibanding alasan agama. Bahkan bukan saja agama, kekuatan tabu kadang melebihi kekuatan hukum, dan tradisi.

Tabu belum bisa hilang, meski sekarang sudah di era millenial. Dulu yang dianggap tidak tabu, sekarang sudah menjadi tabu. Meski ada juga yang dulunya tabu sekarang dianggap sudah tidak tabu lagi.

Uniknya, tabu bisa merambah dan mempengaruhi rasa malu terutama hal yang terkait fisik. “Jangan bahas itu, tabu. Saya jadi malu.”

Tabu-Famali-Pemmali.jpg
Ilustrasi

Faktor yang mempengaruhi Tabu

Dari sisi tertentu, ada baiknya tabu ini dihilangkan, cukup ketakutan, larangan, hadir dari agama, hukum dan tradisi saja. Bisa! Karena sesuatu yang dianggap tabu akan berubah karena beberapa faktor;

Pertama, sesuatu yang dianggap tabu, tidak menjadi tabu lagi karena keyakinan agama. Setiap agama mengajarkan nilai dan norma yang harus diikuti oleh penganutnya. Seorang penganut agama yang baik tentunya merasa nyaman dan santun melakukan ajaran agamanya. Dia tidak akan menganggap tabu sesuatu yang tidak disebut dalam agamanya. Dia tetap melakukan meski dalam bayang-bayang ancaman tabu.

Kedua, tabu akan hilang karena budaya dan peradaban modern. Dulu dengan mudah melarang orang keluar rumah malam jumat karena alasan tabu. Peradaban merubah itu. Malam jumat sama saja dengan malam lain bahkan sama dengan siang karena sinar lampu yang terang, sehingga ketakutan dengan menggunakan bahasa tabu sedikit demi sedikit hilang.

Ketiga, tabu akan berubah dan dianggap tabu lagi karena jabatan dan pendidikan. Saya yang membahas alat vital akan dianggap tabu karena saya bukan dokter atau Menteri kesehatan. Beda ketika yang membahas itu dokter atau menteri terkait. Bebas saja, dan tabu berubah.

Saya kira demikian opini saya tentang tabu, pamali, pemmali, atau taboo. O ya jangan ketik taboo di browser ya, karena Anda akan diarahkan ke situs yang bukan lagi tabu, pamali, pemmali, dan taboo, tapi hal yang dilarang agama!

Loading...