Mengenal Tasawuf; Ajaran Islam atau Bukan?

Mengenal tasawuf

Tasawuf atau sufisme, sejak lama menjadi bahan perdebatan panjang. Ada yang mengatakan tasawuf itu bukan bagian dari ajaran Islam bahkan dinilai sesat, sebagian lagi mengatakan bahwa tasawuf adalah bagian dari ajaran Islam. Tentu saja, keduanya dengan argumen pendukung masing-masing.

Apa itu tasawuf?

Sebelum masuk ke wilayah perbedaan itu, ada baiknya kita mengetahui apa itu tasawuf secara etimologi dan terminologi. Pemaknaan dari tulisan ini nantinya akan melahirkan perspektif dan sebagai referensi melalui dua sumber pokok ajaran islam yaitu al-Quran dan hadis.

Arti tasawuf menurut etimologi/bahasa

Kata tasawuf berasal dari bahasa arab, yaitu tashawwafa yatashawwafu tashawwufan, yang akar katanya adalah Shaufan. Shaufan sendiri berarti bulu domba atau wol. Wol adalah bahan untuk dijadikan kain yang lembut, putih, halus dan harganya yang murah.

Sepertinya, etimologi tasawuf mengambil sifat dari wol yang menggambarkan kesederhanaan. Dalam sejarah masa lalu, kain yang terbuat dari wol dipakai oleh orang-orang bawah, berbeda dengan orang elite kalangan atas yang memakai pakaian dari sutra.

Selain itu, wol juga sifatnya lembut halus. Artinya, ber-tasawuf adalah usaha melembutkan hati, memutihkan hati sejernih-jernihnya dalam bersikap dan memahami agama seperti sifat dari wol.

Arti Tasawuf menurut terminologi/istilah

Dari sisi terminologi ada puluhan pendapat tentang apa itu tasawuf. Tulisan ini akan menukil pendapat yang masyhur saja. Misalnya saja Imam Ghazali mengatakan bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci.

Seorang sufi (istilah orang yang bertasawuf), mereka melakukan upaya membersihkan hati mereka dari selain Allah. Seperti halnya menjadikan sungai sebagai jalan bagi sungai mengalirnya ke tempat tujuan. Dalam pandangan Imam al-Ghazali, tasawuf merupakan suatu ajaran untuk mencapai kehadirat Ilahi dengan cara menjernihkan hati dan akhlak dan itu sah menurut Islam.

Yusuf Qardhawi,mengatakan bahwa tasawuf sebagai bagian dari ajaran Islam adalah upaya memperdalam keyakinan pada bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah penuh pada seputar permasalahan itu.

Apakah tasawuf merupakan ajaran Islam?

Tak ada dalil yang menyebut langsung kata tasawuf dalam al-Quran dan hadis sesuai pengertian bahasa dan istilah tasawuf tadi. Istilah tasawuf baru ada pada abad ke-2 H kemudian berkembang dan memiliki struktur ajaran tersendiri pada abad ke-3 H.

Namun secara tidak langsung, ketika seorang yang mengejewantahkan ajaran Islam dengan mensucikan diri agar jernih tanpa noda dengan mengikuti kebenaran agama, khusyuk dihadapan Sang Maha kuasa, menangis atas dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, sehingga hatinya menjadi putih dan lembut seperti wol, maka identik dengan makna firman Allah dalam surat al-Fajr ayat 27-30:

Secara tekstual, ayat ini berbicara tentang kematian, namun bagaimana seorang hamba saat kembali kepada sang Kholiq, atau bagaimana perjalanan makhluk kepada sang Kholiq, dan ini sungguh berkaitan dengan perjalanan hamba kepada Allah dalam tasawuf.

Kedua, saat seorang berupaya menjernihkan hati seputih dan selembut wol, maka langkah yang dilakukan kembali kepada perintah-perintah bersikap dalam Islam, seperti sabar, wara, zuhud, rendah hati dll.

Banyak yang mengatakan tasawuf tidak ada di zaman Nabi saw. Benar, istilah tasawuf tidak ada di zaman Nabi, bahkan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, dalam al-Quran hadis sendiri istilah itu tidak ada.

Tapi bagaimana dengan Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta sahabat Nabi yang lain, mereka zuhud, rendah hati, berjiwa tenang, wara, dan semua sifat penjernihan hati seperti upaya yang dilakukan seorang sufi.

Ketiga, dalam hadis Arbain yang sangat terkenal, saat Malaikat Jibril datang saat Nabi saw bersama sahabatnya. Salah satu pertanyaannya;

Jibril: “Beritahu padaku tentang Ihsan“.

Lalu Nabi saw bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”.

Ihsan yang memiliki arti yang sangat dalam, mengacu kepada jiwa spiritual untuk mencapai ke-khusyuk-an dalam menjalankan syariat, hal ini mengacu kepada ilmu tasawuf. Dan semua itu adalah ajaran pokok dalam islam.

Kata “seakan-akan engkau melihatnya,” tidak akan bisa dilakukan kecuali ada upaya menjernihkan hati, melembutkan hati karena Dia Maha Lembut dengan sifat Lathif.

Hadis ini juga menyiratkan perbedaan tasawuf dengan filsafat. Filsafat adalah olah akal, sedangkan tasawuf adalah olah rasa. Meski untuk memahami nantinya, ada peran olah akal di sana.

Mengenal-tasawuf-pengertian-tasawuf-dan-sufi
Ilustrasi

Pandangan Ulama mengenai Tasawuf

Para ulama memiliki pandangan tersendiri mengenai tasawuf, pandangan itu tentu pada wilayah tasawuf dalam pengertian terminologi. Pandangan itu lahir dari pengalaman dan kedalaman pengetahuan mereka

Imam Abu Hanifa tentang Tasawuf

Abi Ali Dakkak, seorang ulama sufi yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa, menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifa pernah berkata, “Jika tidak karena dua tahun terbaikku, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama imam Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”.

Imam Malik tentang Tasawuf

Ungkapan Imam Malik yang sangat terkenal, “man tassawaffa wa lam yataffaqa faqad tazandaqa wa man tafaqqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa ilmu fikih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikih tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikih dia meraih kebenaran).”

Imam Syafi’I tentang Tasawuf

Imam Syafi’I pernah berkata “Aku pernah bersama dengan seorang sufi. Dan tidaklah kudapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, sufi itumengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu. Kedua, jika dirimu tidak sibuk dengan hal-hal yang baik, pasti akan sibuk dengan hal-hal yang sia-sia.”

Dalam kitab lain disebutkan, Imam Syafi’i berkata. “Aku bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu: pertama bagaimana cara berbicara. Kedua, bagaimana memperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut. Ketiga, mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.

Imam Ahmad bin Hanbal tentang Tasawuf

Kesepakatan Imam Ahmad terhadap tasawuf terungkap dalam kalimat, “Ya walladii ‘alayka bi jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi.”

Ungkapan lain dari Imam Ahmad tentang Sufi, “Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka”

Imam al-Muhasibi tentang Tasawuf

Imam al-Muhasibi saat menjelaskan hadis Nabi saw, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat”. Dia mengatakan bahwa Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang sufi.

Imam al-Qushayri tentang Tasawuf

Imam al-Qushayri berpandangan kepada sifat dan perilaku sufi. Menurutnya, Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf).

Imam Nawawi tentang Tasawuf

Dalam suratnya al-Maqasid, Imam Nawawi menyebutkan lima ciri jalan sufi, yaitu menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri, mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata, menghindari ketergantungan kepada orang lain, bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit, selalu merujuk masalah kepada Allah swt.

Imam Fakhr ad-Din al-Razi  tentang Tasawuf

Imam Fakhr ad-Din al-Razi berpandangan mengenai sufi sebagai berikut, “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku”

Ibn Khaldun tentang Tasawuf

Ibn Khaldun berpendapat bahwa jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’ at-Tabi’in. Asalnya zuhud.

Imam Jalaluddin as-Suyuti tentang Tasawuf

Dalam kitabnya, pengarang tafsir Jalalain ini mengatakan bahwa tasawuf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah.

Imam Ibn Taimiyah tentang Tasawuf

Dalam Majma’ Fatawa Ibn Taimiyah mengatakan bahwa para syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.

Imam Ibn Qayyim tentang Tasawuf

Imam Ibn Qayyim memiliki pandangan tersendiri mengenai tasawuf. Dia mengatakan bahwa, “Kita menyaksikan kebesaran orang-orang tasawwuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut Sufyan ath-Shauri, yang jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi, saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri.

Imam Abdullah ibn Muhammad ibn Abdul Wahhab tentang Tasawuf

Pandangan Muhammad ibn Abdul Wahhab diambil dari Abdullah, anak imam Muhammad ibn Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf, “Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasawwuf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya, tasawuf diperlukan.”

Dalam Rasa’il ash-Shakhsiyya, Ibnu Abdul wahhab mengatakan .”Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Fari karena interpretasi sufinya”

Rasyidd Ridha tentang Tasawuf

Rasyid Ridha berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk mengnagkat manusia menuju maqam spiritual yang tinggi.”

Abul ‘Ala Mawdudi tentang Tasawuf

Dalam Mabadi’ al-Islam Abul ‘Ala al-Mawdudi berkata, “Tasawwuf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul”.

Selanjutnya dia menambahkan, “Tasawuf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.”

Masih ada ratusan pandangan ulama mengenai tasawuf. Sehingga agak mengherankan kalau hal ini menjadi bahan perdebatan tak berujung.

Ringkasnya, tasawuf dahulu sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan ke-diri-an dan menemukan Tuhannya.

Rujukan: Kitab al-Wasiya, hal. 27-32. Ghiza al-Albab, vol. 1, hal. 120. Tanwir al-Qulub, hal. 405 ar-Risalat al-Qushayriyya, hal. 2. Maqasid at-Tawhid, hal. 20. I’tiqadat Furaq al-Musliman, hal. 72, 73. Muqaddimat ibn Khaldan, hal. 328. Ta’yad al-haqiqat al-‘Aliyya, hal. 57. Majma’ Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, hal. 497. Rasa’il ash-Shakhsiyya, Volume 5, hal. 11, serta hal. 12, 61, 64. Majallat al-Manar, 1st year, hal. 726. Jawabul Kafi, 109.

Berikan Komentar

Alamat email bersifat pribadi