Mengetahui Paradigma dalam Penelitian

Tinjuan pustaka dalam penelitian

Terinspirasi latihan menulis penelitian tadi siang, artikel ini akan saya fokuskan pada hal terkait dengan penelitian. Untuk tahap awal, artikel ini akan mengulas mengenai paradigma dalam penelitian.

Paradigma didefenisikan perspektif yang digunakan peneliti yang berisi bagaimana melihat realita, bagaimana mempelajari fenomena, cara yang digunakan dalam penelitian dan cara yang digunakan ketika menginterpretasi sebuah temuan.

Paradigma dalam penelitian setidaknya menggambarkan pilihan suatu kepercayaan yang akan mendasari dan memberi pedoman seluruh proses penelitian (Guba, 1990). Paradigma penelitian juga menentukan masalah apa yang dituju dan tipe penjelasan apa yang dapat diterimanya (Kuhn, 1970). Paradigma penelitian adalah suatu hal yang mendasar karena berimplikasi terhadap pemilihan metodologi dan metode pengumpulan dan analisis data nantinya.

Ada tiga paradigma utama, yaitu positivis, interpretatif, dan critical.

Pertama: Paradigma Positivis, yaitu sebuah pendekatan yang diadopsi dari ilmu alam yang menekankan pada kombinasi antara angka dan logika deduktif dan penggunaan alat‐alat kuantitatif dalam menginterpretasikan suatu masalah secara “objektif”.

Bagi peneliti yang menggunakan paradigma positivis, ilmu sosial dan ilmu alam digunakan karena dianggap sebagai dasar logika ilmu yang sama, sehingga seluruh aktivitas ilmiah harus menggunakan metode yang sama dalam mempelajari dan mencari jawaban serta mengembangkan teori.

Dalam Paradigma penelitian Positivis, peneliti mencoba mengembangkan teori berdasarkan pendekatan deduktif dengan diawali review atas literatur dan mengoperasionalkan dalam penelitian. Hipotesis kemudian dikembangkan dan diuji dengan menggunakan data yang ada berdasarkan pada analisis statistik.

Kedua: Paradigma Interpretatif. Paradigma ini menitikberatkan pada interpretasi dan pemahaman ilmu sosial. Pendekatan ini memfokuskan pada sifat subjektif dari terhadap kejadian sosial dan berusaha memahaminya dari kerangka berpikir objektif yang sedang dipelajarinya.

Tujuan paradigma interpretif adalah untuk menganalisis realita sosial semacam ini dan bagaimana realita sosial itu terbentuk (Ghozali dan Chariri, 2007). Penelitian interpretif tidak menempatkan objektivitas sebagai hal terpenting, tetapi mengakui bahwa untuk memperoleh pemahaman mendalam, maka subjektivitas para pelaku harus digali sedalam mungkin. Misalnya dalam kasus pelaksanaan pembelajaran, peneliti menggali tentang bagaimana pelaksana pembelajaran dan bagaimana memandang pembelajaran tersebut.

[wp-embedder-pack width=”100%” height=”400px” download=”all” download-text=”Download artikel terkait penelitian dengan paradigma interpretif” url=”http://eprints.undip.ac.id/577/1/FILSAFAT__DAN_METODE_PENELITIAN_KUALITATIF.pdf” /]

Ketiga paradigma Kritis. Pendekatan critical lebih bertujuan untuk memperjuangkan ide peneliti dengan target mebawa perubahan substansial pada masyarakat. Penelitian bukan lagi menghasilkan karya tulis ilmiah yang netral atau tidak memihak dan bersifat apolitis, namun lebih bersifat alat untuk mengubah institusi sosial, cara berpikir, dan perilaku masyarakat ke arah yang diyakini peneliti akan lebih baik.

Dalam paradigma critical, pemahaman mengenai suatu fenomena berdasarkan fakta lapangan perlu dilengkapi dengan analisis dan pendapat yang berdasar pribadi peneliti asal didukung argumentasi yang memadai. Buku hasil penelitian yang kental dengan nuansa paradigma critical bisa dilihat dalam buku-buku karangan Paulo Freire.

Tinjuan pustaka dalam penelitian
Ilustrasi

Bagi saya pemahaman mengenai paradigma dalam penelitian tidak mesti menjadi pedoman baku yang wajib bagi peneliti terutama peneliti pemula. Paradigma penelitian cukup dijadikan dasar bagi peneliti yang sudah terbiasa atau mapan, sehingga tidak mempengaruhi langkah penelitian dan bisa menyesuaikan penelitian yang dilakukan pada tujuan penelitian yang dilakukan.