Menggapai Tingkatan Dzikir Sirr

Zikir Sirr

Menggapai Tingkatan Dzikir Sirr. Untuk menggapai dzikir sirr, terlebih dahulu harus diketahui tingkatan dzikir . Dengan mengetahui tingkatan zikir, maka itu bisa menjadi tolak ukur pemahaman, dan tolak ukur sejauh mana aktifitas dzikir yang sudah dilakukan, dan apa yang dirasakan.

Dzikir yang umum adalah dzikir lisan, dzikir dengan lidah. Bentuknya berupa kalimat pujian. Dzikir lisan termasuk dzikir amm, umum dilakukan. Caranya membiasakan lidah menyebut kalimat pujian yang ditujukan hanya kepada Allah swt, seperti kalimat alhamdulillah, subhanallah, dll.

Dari kalimat yang diucapkan oleh lisan itu dibawa kepada keadaan diri seakan bersaksi akan kesujian dan keagungan Allah swt. Dari keadaan itu akan muncul kesadaran bahwa segala sesuatu bersumber dariNya, dan segala sesuatu itu tiada batasnya. Sampai kemudian lahir kesungguhan menghamba kepadaNya.

Pada posisi hadirnya rasa kesungguhan itu, maka pada dasarnya pedzikir sudah melakukan dzikir jiwa, atau ikir an-Nafs sudah berjalan. Konsisten pada posisi ini akan melahirkan kemauan keras agar terhindar dari kelalaian dari mengingatNya. Jiwa akan merasa kuat saat mengingatnya, dan merasa lemah saat lalai terhadapNya. Sampai muncul perasaan takut akan lalai dari mengingatNya.

Hamba yang bisa mempertahankan dzikir hingga merasa kuat, maka lambat laun akan akan mengarah pada tingkatan dzikir Ruh. Zikir ruh menurut Imam Ja’far as-Shadiq as adalah dzikir yang memunculkan rasa takut seorang hamba saat berdzikir. Takut meski dia ber-muwajahah kepadaNya dengan kebaikan, sampai ke tahap makrifat atau mengenalNya dengan terang benderang.

Baca: cara melatih rasa takut

Dzikir Sirr

Pada tingkatan terakhir dzikir yaitu dzikir sirr. Dzikir sirr adalah posisi hamba yang memandang dan berjumpa. Dzikir sirr adalah tingkatan dzikir paling tinggi. Untuk mencapai tingkatan ini, harus melalui tingkatan sebelumnya seperti dzikir lisan dst.

Opini Terkait
1 daripada 92

Membahas dzikir secara akademis akan sangat sulit, setidaknya karena dua alasan. Pertama, membahas dzikir sirr berarti membahas nilai subjektifitas pedzikir di dalamnya. Apa yang dirasakan pedzikir pada tingkatan dzikir sirr, merupakan rasa yang tidak bisa diwakili dengan kata. Karena kata tingkatanya lisan.

Kedua, sirr berarti rahasia. Rahasia hamba yang berdzikir dengaNya. Rahasia tidak akan menjadi rahasia lagi jika keluar secara utuh baik wujud maupun maknawinya. Artinya dzikir rahasia atau dzikir sirr hanyalah pembahasan untuk membawa manusia berada di tingkatan itu.

Sebagian ulama Arif billah menjelaskan dzikir sirr muncul dari rasa cinta yang bersumber dari Habb. Habb berarti biji yang tumbuh sebagai bagian dari Lubb, dan Lubb ini adalah inti dari Qalb. Lubb sangat mudah dirasakan saat bangun tidur tengah malam.

Para filosof barat terkadang mengistilahkan Lubb dengan g spot otak. Penulis memperkirakan, mungkin inilah salah satu sebab shalat tahajjud sangat penting, karena saat itulah g spot mudah dirasakan.

zikir sirr
Ilustrasi

Dzikir sirr adalah kondisi dimana Allah berkuasa dalam kalbu, jiwa dan ruhnya, dan tak ada wujud interpretatif lain. Antara manusia dan Dia sudah serasa tidak ada pembatas lagi, semua sudah penuh. Tak ada apa-apa bahkan termasuk dzikir itu sendiri tapi tidak kosong karena yang Ada hanya Dirinya yang tak terbatas.

Indikasi bahwa sebuah dzikir seorang hamba sudah sampai pada tingkatan dzikir sirr, apabila nurani yang terdalam menjadi tempat cahaya persaksian. Pelaku dzikir merasakan diri dan objek dzikirnya ada namun tersembunyi. Dia tenggelam dan muhith, karena Allah menguasai seluruh rongga dalam diri.

Kondisi hamba yang berdzikir sirr bukan lagi sadar atau tidak sadar, tapi masuk ke dalam kondisi hudhur, yaitu kondisi hadirnya kalbu. Indikator fisiknya, kepala seakan tertarik, dan seluruh organ tubuh juga demikian. Karena dzikir sirr tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup.

Loading...