Menghargai Pahlawan; Refleksi Hari Pahlawan 10 November

Refleksi Hari Pahlawan

10 November setiap tahun ditetapkan sebagai hari pahlawan. Tahun berganti, hari pahlawan senantiasa mendapat jatah seremoni dalam bentuk upacara. Ada kemasan penghargaan, ada harapan, ada hikmah, namun pada dasarnya pahlawan tak butuh semua itu. Pertanyaan mendasar terkait hari pahlawan; kenapa hari pahlawan ditetapkan seremonialnya pada tanggal 10 November?

Tahun 1945 silam, pasca proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia yang sekaligus menjadikan Negara ini sebagai Negara berdaulat, Mr. Ploegman mencoba mengusik ketenangan dan kegembiraan itu dengan mengibarkan bendera merah putih biru di hotel Yamato Surabaya.

Bendera Belanda yang berkibar di hotel Yamato (sekarang hotel Majapahit), tentu mengusik dan melecehkan darah juang pemuda Surabaya, sehingga sekelompok pemuda dengan gagah berani menaiki ketinggian dimana bendera tersebut berkibar, merobek dan menyisakan dua warna saja, merah dan putih, sementara biru dilepas. Sakit, ya itulah yang dirasakan sebagian pemuda Indonesia yang berada di Surabaya kala itu, 27 Oktober 1945, dan akhirnya perlawanan memuncak pada 10 November 1945.

Kiprah Arek-arek Suroboyo ini, tentu tak pernah dibandingkan (dan memang tak perlu) dengan keberanian pemuda lain di seluruh Indonesia, namun kesan mendalam atas kecintaan terhadap bangsa berdaulat, maka hari pahlawan ditetapkan pas pada tanggal kejadian hotel Yamato tersebut. Para pemuda bergerak, tak peduli keselamatan, hidup mati, mereka bergerak atas nama cinta, ikhlas, dan itulah pahlawan. Tak pernah terpikir dan berharap akan diupacarakan atau akan dikenang seperti sekarang.

Sangat tidak manusiawi, jika kita tidak pernah memikirkan sebab karena tidak ada sesuatu ada karena kebetulan. Seperti halnya, “kemerdekaan” yang kita nikmati hari ini disebabkan oleh jasa para pahlwan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya,” Demikian salah satu kutipan pidato proklamator bung Karno. Bagaimana cara kita menghargai pahlawan?. Sepertinya ini pertanyaan utama untuk itu.

Opini Terkait
1 daripada 304

Dari sisi bahasa, pahlawan berasal dari bahasa sanskerta yaitu Phala yang bermakna hasil atau buah. Salah satu jenis buah, yaitu buah Pala, buah yang berbentuk lonjong dan menonjol. Dari sinilah pahlawan diartikan sebagai orang yang menonjol karena pengabdian dan pengorbanannya. Seorang pahlawan memenuhi syarat untuk itu, jika apa yang dilakukan menonjol dan penuh pengorbanan tanpa pamrih. Mereka (para pahlawan) berkorban, menojol tanpa pernah memikirkan akan mendapat apa sebagai akibat dari pengorbanannya. Kitalah sebagai orang yang menikmati hasil pengorbanan yang harus tahu diri akan hal itu.

Penghargaan terbesar terhadap pahlawan adalah meneruskan perjuangannya. Belajar dari peristiwa 10 November yang dipelopori Bung Tomo, satu hal yang penting untuk dipetik adalah Negara ini tidak boleh dilecehkan oleh siapapun. Sia-sia bendera dinaikkan dalam upacara hari pahlawan, jika Negara lain bebas menyadap privacy Negara.

Tak ada penghargaan bagi pahlawan jika kita membiarkan bumi dikeruk untuk memperkaya asing di tengah kemiskinan bangsa sendiri. Seremoni upacara hari pahlawan akan terasa hambar, kalau kita masih mementingkan asing daripada rakyat sendiri. Karena para pahlawan akan marah di alam sana, meski tak lagi mampu memanjat dan merobek helai warna biru seperti kejadian 10 November silam.

Menjadi pahlawan dalam konteks kekinian tentu berbeda, dan tak perlu sama. Kebodohan, ketamakan, keserakahan, menahan hawa nafsu adalah perjuangan pribadi untuk menjadi pahlawan bagi diri sendiri.

“Aku titip Negeri padamu” kata bung Karno. Semoga kekuatan dalam seremoni hari pahlawan bisa menjadi spirit bermakna dan pelajaran besar bagi kita bagaimana menghargai hari pahlawan 10 November.

Mari …

Komentar
Loading...