Menghindari Corona dan Cara Berpikir Kita

Menghindari Corona

Saat Ali bin Abi Thalib sedang berbaring di tembok yang sudah mulai rapuh, seketika beliau berpindah ke sisi lain karena menyadari tembok tersebut bisa runtuh dan membahayakan.

Seorang sahabat menegurnya

“Wahai Ali, kenapa engkau berpindah tempat. Bukanlah sudah ditakdirkan oleh Allah engkau untuk berbaring di tembok itu, Walaupun tembok tersebut runtuh kalau takdir berkata tidak apa-apa, ya tidak apa-apa. Berarti engkau sudah menghindar dari takdir Allah yaa Ali”

Lalu Ali pun menjawab perkataan sahabat tersebut

“Aku tidak menghindar dari takdir Allah namun aku berpindah ke takdir Allah yang lain. Memang Allah telah mentakdirkan jika aku bersandar di tembok rapuh itu maka temboknya akan runtuh. Akan tetapi aku memilih takdir Allah yang lain berpindah ke tempat lain untuk bersandar.”

Kita ditakdirkan menghindari Corona

Saya sepakat bahwa kita kadang harus berada di takdir lain seperti kisah Ali bin Abi Thalib ra. Terpapar Corona adalah takdir, tidak terpapar juga takdir, dan berusaha memilih salah satunya juga takdir.

Kita tidak tahu ketetapan Tuhan di lauh Mahfuzh, andai kita tahu, tak akan ada usaha, tak ada pilihan bagi manusia. Andai kita tahu, kita selamat dari Corona, buat apa menggunakan masker, buat apa cek suhu tubuh, buat apa menghindari corona. Pun andai kita tahu, kita akan terpapar Corona, sama! Buat apa menggunakan masker, buat apa cek suhu tubuh, buat apa menghindari, toh akan terpapar.

Posisi kita sebagai khalifah di muka bumi meniscayakan kita memilih, mau terpapar atau tidak mau, menghindar dari Corona atau tidak. Dengan apa kita melakukan itu? Dengan apa kita memilih itu? Dengan akal kita, dan dengan cara berpikir kita.

Beddu 1 sangat khawatir dengan Corona. Dia menghindari penularannya. Sepanjang hari berdiam diri di rumah. Tidak keluar, tidak ke masjid. Setiap saat menggunakan masker. Tangan selalu dicuci bersih. Pakaian, alat makan, semua bersih. Dalam nalar manusia hampir tak ada kemungkinan Beddu 1 terpapar Corona. Takdir berbicara lain, dia divonis terinfeksi setelah demam 14 hari.

Beddu 2 sama dengan Beddu 1, juga khawatir dengan virus yang belum ditemukan obatnya. Tapi Beddu 2 tidak seketat Beddu 1. Selain bersih, memakai masker, dia tetap ke masjid beribadah, karena dalam keyakinannya, jemaah itu wajib seperti wajibnya menghindari penyakit. Walhasil Beddu 2 tidak terinfeksi Corona.

Tentu pembaca protes. “Ah itu kan semau mau penulis.” Oke. Saya tak akan mengatakan “arukii tokki.” Kita balik saja, Beddu 1 selamat, Beddu 2 terpapar. Gimana? Puas belum?

Tapi tunggu! Bagaimana jika setelah cerita saya ubah ada yang mengatakan seperti yang Anda katakan, “ah itukan semau mau penulis.” Oke kita ubah lagi. Semua selamat… ow ternyata, masih ada yang mengatakan semau mau penulis….

Saya ingin mengatakan bahwa takdir Tuhan atas Beddu 1 dan Beddu 2 tak ada yang tahu. Mereka hanya bisa berusaha dengan cara mereka. Dan usaha mereka ditentukan oleh cara berpikir dan keimanan.

Opini Terkait
1 daripada 302

Silahkan pilih cara Beddu 1 atau Beddu 2. Atau kita gabung keduanya? Asal jangan tidak berusaha sama sekali.

Mengorbankan agama demi menghindari Corona

Saat kita memutuskan akan menghindari Corona karena itu berbahaya, cara berpikir kita pulalah yang menentukan apa yang akan kita lakukan. Jika cara berpikir kita tepat, maka yang kita lakukan juga akan tepat

Pilih dunia atau akhirat? Pertanyaan sepele, karena jawaban simpelnya, kita butuh dunia kita juga ingin selamat di akhirat. Sayangnya, yang kita lakukan saat menghindari Corona tidak mengimplementasikan hal itu.

Banyak cara menghindari Corona tapi banyak yang terlihat tidak adil dalam menempatkan kebutuhan dunia dan kebutuhan akhirat.

Shalat jumat adalah kewajiban, kita korbankan, karena toh ajaran Islam yang fleksibel memberikan pilihan “boleh jika”… Menjual, belanja di pasar adalah kebutuhan, tapi meski menghindari Corona, kita tak berani mengatakan “tidak”, seperti keceriaan kita menggugurkan kewajiban shalat Jumat.

Shalat Jumat jangan dulu, di rumah saja shalat Dzuhur, tak perlu ke masjid. Hindari kerumunan, karena rentan penularan virus asal Wuhan. Oke, setujuuuu! Kita tak pernah berpikir nasib di akhirat karena keputusan ini.

Menjual di pasar jangan dulu, di rumah saja, ganti dengan pekerjaan lain. Hindari kerumunan, karena rentan penularan virus yang katanya konspirasi China sendiri. Oke? Ternyata tidak oke. Pikiran mulai berubah. Kita mau makan apa? Bisa mati kita, dst. Kita seakan hidup di dunia selamanya.

Menarik melihat kegigihan cara menghindari virus yang sudah mengorbankan puluhan pejabat tinggi di Iran ini. Kegigihan yang kadang terlihat lucu dan tidak adil. Lho kok?

Ijtima Jama tabligh di Makassar yang menghadirkan ribuan orang, dibatalkan. Saya salut dengan panitia penyelenggara yang legowo, meski pengorbanan materi maupun non materi sangat besar. Lalu bagaimana dengan Misa Uskup Ruteng di NTT yang menghadirkan ribuan orang? Ternyata, terlaksana dengan baik meski juga tanpa izin.

Cara berpikir seperti ini seakan akan menganggap virus hanya menyerang orang dari jemaah tabligh, menyerang muslim. Seakan virus akan tanya dulu, “lu muslim bukan? Kalau muslim saya masuk nih.”

menghindari CoronaBarusan beredar poto salat berjelamaah di masjid dengan posisi saf yang renggang. Dalam rangka menghindari Corona, hindari bersentuhan satu sama lain, karena virus dengan nama keren Covid 19 ini bisa menyebar lewat sentuhan kulit.

Uniknya salah satu jemaah yang ikut shalat dengan saf renggang itu menjual penganan di pasar malam, yang setiap malam hadir ratusan orang. Tidak ditutup, ada interaksi di sana. Bahkan, kemungkinan besar ada sentuhan saat melayani pelanggan.

Salah dalam berpikir, tak adil dalam bertindak

Di kamar itu banyak nyamuk. Nyamuk jika menggigit bisa menyebabkan ini itu, bahaya. Gigitan nyamuk harus dihindari. Ingat, yang dihindari gigitan nyamuk.

Kalau nyamuk dipastikan menggigit, maka basmi nyamuknya. Tapi kalau nyamuk tidak dipastikan menggigit, cukup hindari gigitan nyamuknya saja. Nah, yang memastikan, akan melakukan penyemprotan, nyamuk dibasmi habis. Yang hanya menghindari gigitan, cukup dengan cairan autan yang dilulurkan di kulit.

Keliru jika menganggap nyamuk pasti menggigit, maka tindakan dilakukan tidak adil dan melampaui batas. Kamarnya dibakar, karena di kamar banyak nyamuk. Kulitnya dioperasi agar terkelupas, sehingga nyamuk tak bisa hinggap.

Saat WNI dipulangkan dari Natuna, semua diisolasi. Bahkan saat turun dari pesawat, mereka disemprot bagaikan tanaman yang butuh disinfektan. Yap, dalam rangka antisipasi, jangan-jangan, kalau, bisa saja.

Tapi saat 49 WNA dari negara asal Corona, masuk melenggang, tanpa ada semprot, dan seperti tak ada antisipasi, tentu akan terasa tidak adil!

Corona adalah musuh kita bersama. Sejatinya, kita lawan, kita menghindarinya juga bersama-sama. Lawan dengan cara berpikir yang benar, karena kita tidak tahu takdir Corona atas kita, dan takdir kita atas Corona.

Komentar
Loading...