Mengukur Nilai Tawar Pondok Pesantren As’adiyah dari Penundaan Muktamar

Nilai Tawar Pondok Pesantren As'adiyah

Sepuluh hari menjelang pelaksanaan Muktamar As’adiyah 2012 yang rencananya dipusatkan di Belawa, tiba-tiba ditunda, hanya karena Menteri Agama, belum memberi jadwal kepastian hadir. Informasi ini pun menjadi salah satu pembahasan rapat panitia lokal dan panitia pusat di Sengkang kemarin malam.

Banyak hal yang dipengaruhi dari penundaan ini. Dari sisi material, molornya acara berdampak pada molornya anggaran kebutuhan. Dari sisi sosial, kesiapan warga mewanti diri untuk menyambut tamu dari berbagai cabang di daerah, terpaksa harus dikemas ulang. Dari sisi teknis, upaya panitia dan non panitia yang bekerja serius dan tidak serius siang dan malam, hanya bisa tertunduk lesu. Kelompok reunian pun, topiknya akan sedikit bergeser. Dan dampak lain yang tak bisa diurai satu persatu.

Semua itu karena lima deretan huruf “TUNDA”. Kata ini jika dijadikan sebagai kata kerja pasti membutuhkan pelaku. Kalau dalam bahasa Arab, KONON, jika ada fi’il, pasti ada fa’il. Tak ayal, dari kronologi penundaan maka pelaku utama adalah si pejabat, yang kemudian dimaknai sebagai hal paling penting oleh Pengurus Besar As’adiyah. Tulisan ini mencoba menawarkan inspirasi, dan mereview nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah.

Dalam bahasa pejabat, menunda sesuatu yang menjadi kewajibannya (jika sebelumnaya telah menegaskan diri akan hadir di Muktamar As’adiyah), setidaknya ada tiga model. Pertama, seorang pejabat menunda karena dipanggil oleh atasan langsung karena suatu tugas baru atau tidak. Kedua, seorang pejabat menunda karena ada acara lain mendadak dan bersifat insidentil yang lebih penting dari agenda perencanaan sebelumnya. Ketiga, seorang pejabat menunda tanpa alasan jelas.

Untuk model pertama dan kedua, sang pejabat akan mewakilkan kepada pejabat lain dibawahnya (secara struktural), karena acara yang kemudian ditunda baginya adalah acara penting, namun sesuatu yang lebih penting membuatnya mengambil keijakan lain. Namun, untuk model ketiga sifatnya fleksibel. Pada kasus Muktamar As’adiyah, penundaan karena belum adanya jadwal yang diberikan oleh Menteri Agama, bagi penulis dikategorikan dalam model ketiga. Untuk mengukur nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah dari penundaan ini, maka akan melahirkan dua pola pikir:

Opini Terkait
1 daripada 97
  1. Menteri Agama, menganggap Muktamar As’adiyah 2012 adalah acara penting. Penting setidaknya karena beberapa hal; sisi agama, Massa (seperti diketahui, bahwa Menteri Agama berlatar politisi, dan bukan karir), afiliasi pejabat (Wamen, kebetulan alumni As’adiyah), dan sisi kewajiban. Posisi agenda yang sesak terutama karena musim haji dll, akan membuat sulitnya menentukan jadwal baru, ditengah pandangan pentingnya acara tersebut.
  2. Menteri Agama, menganggap Muktamar As’adiyah 2012 bukanlah acara penting. Tidak sepenting, Muktamar NU, Muhammadiyah, dan atau bahkan DDI. Pertimbangan sesuatu sehingga kadarnya tidak menjadi penting, setidaknya lahir dari beberapa aspek; politis (posisi As’adiyah yang tak jelas), Geografis (pelakasanaan Muktamar As’adiyah yang sulit dijangkau dengan cepat kecuali dengan fasilitas helikopter), gaung As’adiyah yang kian hari kian menurun, dan nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah yang rendah

Dua pola pikir inilah yang bagi penulis melahirkan sakit hati, sikap skeptis, apatis, dan ragu terhadap kredibilitas Pondok Pesantren As’adiyah jika toh masih dianggap besar. Keputusan pengurus Besar As’adiyah menunda Muktamar As’adiyah hanya karena keinginan hadirnya Pak Menteri, adalah keliru, karena berdampak besar pada nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah ke depan. Pendekatannya sederhana, kemanusiaan dan finansial. Beberapa fakta Pondok pesantren besar di Jawa, tidak terlalu menggantungkan diri pada kehadiran pejabat. Bahkan konon, di pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur, para Pejabat yang sibuk mendaftarkan diri untuk bisa hadir di setiap acara yang diadakan.

Suatu hari ketika masa hari-hari pertama kepemimpina Anre Gurutta Rafi’ (ketua PB As’adiyah sekarang), beliau bersilaturrahmi ke rumah jabatan Bupati Wajo, waktu itu dijabat Andi Asmidin (kebetulan penulis berada di tempat sama, dengan agenda berbeda). Pak Bupati menyambut dengan mencium tangan Anre Gurutta, dan berkata, “taddampengekka, Iyya’ Mi wedding jokkai ki“. Sikap dan kejadian itu setidaknya mencerminkan begitu besar penghargaan pejabat pada beliau, begitu besar nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah ataukah nilai tawar pondok pesantren As’adiyah di Wajo tidak berharga lagi hari ini.

Bahkan jika kita mencoba menyibukkan diri membuka lembaran sejarah dalam mengukur nilai tawar Pondok Pesantren As’adiyah, tidak sulit menemukan bagaimana Anre Gurutta dahulu MENOLAK ajakan/ tawaran pejabat, (tentunya karena berbeda pemahaman). Hari ini sangat jauh berbeda. Pesantren As’adiyah seakan kini hanya memiliki satu sandaran, satu Mudhaaf, yaitu pejabat, Dan yang lain cuma Ziyadah.

Dalam setiap sikap dan perilaku, pelak dibutuhkan kerjasama terhadap semua pihak. Tak memandang apakah dia pejabat atau bukan. Nilai kerjasama yang mengharapkan hasil sesuai khittah perjuangan Pondok Pesantren As’adiyah. Mempertimbangkan dampak lain. PEKERJA As’adiyah di bawah, alumni simpatisan, Wala takun khamisan fa tuhlik….

 

Loading...