Meningkatkan Komuditas Sutera Wajo dengan Marketplace

Sengkang dikenal sebagai kota santri dan kota sutera. Simplenya, sebagai pencetak santri dan penghasil sutera. Tapi itu dulu. Beberapa brand menggeser sebutan terkenal itu sehingga tidak lagi menjadi sesuatu yang layak dibanggakan. Kota santri tapi sayangnya budaya nyantri tidak memonopoli kultur sosial masyarakat wajo. Kalah sama candoleng doleng, ladies, dan hal lain, dan ini pahit.

Kota sutera sedikit lebih nyaman. Pribadi melihat istilah kota sutera sedikit stagnan dikarenakan efektifitas produksi tidak seperti yang diharapkan. Ada penurunan jumlah produksi dan ini terkait penjualan, proses manual yang kalah dengan mesin, dan perhatian masyarakat atas komuditi lokalnya. Ini menarik dan mendorong saya menulis opini meningkatkan komuditas sutera di Wajo.

Sebelumnya, mari kita lihat postur kelebihan sutera wajo yang lebih familiar dengan sebutan sabbe. Pertama, sutera wajo memiliki nilai sejarah yang terkait dengan negara Thailand, meski sifatnya wajo sebagai konsumen.

Setengah abad lalu, Petta Ballasari mendatangkan alat tenun yang bisa menghasilkan sutera jadi dalam skala besar dari Thailand. Artinya, Thailand tahu bahwa di Wajo terdapat komuditas sutera yang bisa menjadi perhatian. Tapi itu sudah lama? Tidak! Seorang teman pernah menceritakan saat dia di Thailand, orang di sana menanyakan kondisi sutera di Wajo. So? Bukankah itu berarti bahwa ada kesan yang tertinggal dari sejarah sabbe di sana?

Kedua, motif sutera wajo adalah motif identik. Lurus, melingkar, berlobang, dan kesemuanya kerap dikombinasikan dengan sisipan benang. Melihat sepintas, motif sutera seperti ini akan dianggap hasil dari mesin canggih. Padahal, motif itu dihasilkan dari alat tenun sederhana.

Dua kelebihan itu sejatinya dimanfaatkan untuk meningkatkan komuditas sutera Wajo dengan cara kekinian. Anak muda bilang, millenial. Cara kekinian yang saya maksud adalah memanfaatkan pasar sutera yang masih jarang. Jarang di dunia maya. Ya, itulah jawabannya. Pemerintah daerah bisa menggagas marketplace khusus sutera berbasis online.

Hanya ibadah berbau agama dan terkait pribadi dari perilaku manusia yang tidak bisa di-online-kan. Untuk semua interaksi sosial termasuk menikah (bukan agama) bisa di-online-kan, apalagi jual beli. Prospek marketpalce sutera Wajo memiliki kans besar untuk itu. Hanya saja perlu dirancang, dilakukan, dievaluasi pelaksanaanya dengan baik.

Opini Terkait
1 daripada 123

Sepintas dan dengan tools sederhana saya sempat mengecek potensi penjualan sutera online dengan kata kunci “jual sutera,” dan hasilnya hanya 2 jutaan pencarian dengan persaingan halaman pertama oleh marketplace besar yang tidak special menjual kain sutera. Untuk kata kunci “jual kain sutera asli,” hanya 1 jutaan. Artinya terbuka peluang besar untuk itu.

Peluang itu setidaknya bahwa membangun brand tidak terlalu sulit. Pekerjaan rumah pertama adalah bagaimana menggiring publik dunia maya pecinta sutera ke wadah marketplace yang kita bangun. Sangat aneh, jika mencari sutera tapi larinya ke tokopedia, bukalapak dan marketplace besar lainnya. Karena mereka menjual varian produk dan tidak mengkhusus.

Kalau pemerintah daerah kabupaten Wajo membuka warung kopi sebagai aset daerah, apa salahnya jika pemerintah daerah juga membuka toko online besar yang isinya special menjual sutera asli khas sengkang. Bagaimana memberdayakan ASN untuk hal itu?

Seperti halnya aturan penggunaan pakaian dinas harian berbahan sutera, para ASN juga bisa diarahkan mendukung pengembangan marketplace ini. Caranya sangat sederhana, cukup membantu membagikan, menviralkan, share positif semua produk dari market tadi, setiap produk dan setiap ada kesempatan. 1000 share positif saja setiap hari, itu sangat luar biasa. Gampang kok mengeceknya.

sutera wajo

Dari pengalaman terhadap pengembangan market di dunia online, hal terpenting adalah membangun brand. Dua modal besar perbedaan sutera wajo dari sisi sejarah dan motif seperti yang sudah disbeutkan tadi, bisa menjadi jalan membangun brand itu. Sisa komitmen yang besar dan kuat untuk mewujudkannya.

Terakhir saya ingin ungkapkan bahwa sehebat apapun sebuah gagasan, jika tidak dibangun denga sepenuh hati dan kerjasama yang baik, hasilnya pun tak cukup efisien. Semoga komuditas sutera wajo bisa lebih meningkat lagi ke depannya.

Loading...