Menjadi Tamu Seorang Ulama | Kisah 9 Hari di Maluku Utara

0 9

Menjadi Tamu Seorang Ulama (10 Mei 2013)

Tak mudah melupakan Blackberry yang hilang, tapi bukan berarti tidak bisa. Banyak yang mengatakan, jika ada hal menjadi beban pikiran, bisa membuat susah tidur. Terjawab. Perjalanan kurang lebih 2 jam ke ibu kota pecahan Maluku, kuisi dengan tertidur pulas. Sempat sesaat terbangun mengganjal perut keroncong dari pramugari yang katanya cantik. Namun setelahnya, terbangun dan dibangunin.

Kota lumayan bersih, dengan 90 % penduduk muslim, warisan keraton yang masih terjaga unik, menjadi kesan pertama menyenangkan saat tiba di Kota Ternate. Baliho besar menyambut perhelatan Pilgub bulan depan, riuh warna namun tertata rapi.

Banyak orang Eropa mengatakan, tempat latihan nyetir terbaik itu di Indonesia. Mungkin saja sampelnya diambil di kota gugusan pulau ini. Jalan ibukota provinsi, tidak luas dan sangat tidak sebanding dengan jumlah kendaraan. Kendaraan satu dengan yang lain, seperti berdempet lengket, namun ajaibnya jarang terjadi kecelakaan lalu lintas.

Kami tiba di sebuah rumah dengan sambutan ramah. Dari auranya, kelihatan tuan rumah adalah seorang ulama kharismatik di kota ini. Bukan pesantren, namun banyak anak kecil hingga remaja di rumah itu, belajar. Beliau sempat menegur dengan pertanyaan konsitensi penggunaan mad Jaiz dalam membaca al-Quran. Sebuah pertanyaan yang dalam bagi penguasaan Ilmu al-Quran.

“Kita jumat-an di masjid bawah, dekat kok,” ajaknya ketika jam masih menunjukan pukul 10.

Meski masih penat, segera kuberkemas untuk itu. Menjadi lama, ketika beliau menatap asing ke arah penampilanku. Kemeja dengan celana panjang plus kopiah hitam, tak berbanding lurus dengan jubah serba putih dengan kopiah berbalut sorban warna putih penampilannya. Dengan berpura-pura buang air kecil, kupoles sedikit dengan sarung biru jatah partai 🙂

Dekat jauh, memang dapat dimaknai berbeda. Dengan jalanan menurun di bawah cerah matahari yang lumayan panas, masjid tujuan Jumat kali ini terlihat cukup jauh. 20 menit langkah gontai waktu dibutuhkan untuk sampai. Namun tidak untuk ulama ini. Meski kuperkirakan umurnya kisaran 50-an, namun langkahnya tegap, masjid benar-benar dekat baginya.

Sudah menjadi tradisi di masjid-masjid Kota Ternate, lantunan ayat suci sebelum menunaikan shalat, tidak melalui kaset, tapi langsung dibacakan oleh qari’ (pembaca al-Quran) dan diperdengarkan. Dan, lagi-lagi dengan kekuatan luar biasa dan suara tinggi, lantunan itu dibawakan oleh ulama tuan rumah kharismatik ini.

Kisaran jam 2 siang, kami bersiap ke lokasi dengan kapal laut. Perjalanan akan ditempuh belasan jam.

“Persiapkan alat shalat di tas berbeda, biar lebih mudah.” Sebuah perintah cerminan wujud penghambaan dan wujud “takut” kepada pencipta, dan senantiasa rindu padanya.

Iman khalifah Allah memang berbeda. Kekuatan terbesar bersumber dari sebuah keyakinan. Jika iman lebih dari hanya sebuah keyakinan, tidak mengherankan jika kekuatan made in iman terlihat unlimited dari seorang ulama. Karena iman baginya sunah menjadi wajib dan makruh menjadi haram. Jelas dari tatapan dan tidak ditemukannya asbak dirumah besarnya.

Akhirnya saya mengerti, beliau adalah muqri al-Quran terbaik Kota Ternate pada zamannya, dewan hakim event al-Quran Nasional, pembaca, pengajar, pendengar, dan pecinta al-Quran. Innama yakhsya Allah min ibadihi al-Ulama, Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hambaNya, adalah ulama. (QS. Fathir)

Bersambung

Komentar
Loading...